• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 10 Kebiasaan Buruk yang Bisa Memicu Tinea Pedis

10 Kebiasaan Buruk yang Bisa Memicu Tinea Pedis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Bagi kamu yang masa bodoh dengan kebersihan kaki rasanya perlu harap-harap cemas. Pasalnya, kebiasaan ini bisa menimbulkan beragam masalah pada kulit kaki, salah satunya tinea pedis atau kutu air. Bila kutu air sudah menyerang, jangan heran kalau kulit akan bersisik, memerah, dan terasa sangat gatal.

Kutu air ini tidak pandang bulu, alias bisa menyerang siapa saja tidak peduli tua atau anak-anak, laki-laki atau perempuan. Meski begitu, terdapat beberapa kebiasaan yang bisa membuat seseorang rentan terhadap penyakit kulit ini.

Lantas, apa saja sih kebiasaan yang bisa memicu tinea pedis? 

Baca juga: Kutu Air Membandel, Ini Cara Mudah Mengatasinya

Kebiasaan yang Bisa Memicu Kutu Air

Penyebab tinea pedis adalah infeksi jamur, tepatnya jamur Dermatophytes yang juga dapat menyebabkan kurap. Jamur yang menyebabkan masalah kulit ini senang hidup di lingkungan bersuhu hangat dan lembap, seperti kolam renang atau kamar mandi.

Tinea pedis ini dapat menular dari satu orang ke orang lain. Terdapat beragam cara penularannya, contohnya melalui sentuhan langsung dengan kulit yang terinfeksi, atau benda yang sudah terkontaminasi. Nah, setelah menular jamur ini akan menetap dan berkembang biak di permukaan kulit. 

Ada beberapa faktor risiko atau kebiasaan lainnya yang bisa memicu kutu air. Menurut National Institutes of Health dan National Health Service UK, kutu air rentan terjadi pada mereka yang melakukan beberapa kebiasaan ini:

  1. Sering berbagi benda pribadi seperti handuk, sepatu, atau kaus kaki. 
  2. Sering menggunakan sepatu tertutup, terutama bila sepatu tersebut dilapisi plastik. 
  3. Mengenakan sepatu yang membuat kaki terasa panas dan berkeringat.
  4. Tidak menjaga kebersihan kaki, seperti jarang mencuci kaki setelah beraktivitas.
  5. Membiarkan kaki dalam keadaan basah dalam waktu yang lama. 
  6. Mengalami cedera kulit atau kuku.
  7. Berjalan di area publik tanpa alas kaki. 
  8. Tidak mengeringkan kaki setelah mencucinya.
  9. Kaki yang mengeluarkan banyak berkeringat.
  10. Tidak mengganti kaus kaki setiap hari.

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Kaki Jika Terkena Kutu Air

Nah, agar terhindar dari serangan tinea pedis, hindari kebiasaan di atas. Hati-hati, mungkin terdapat beberapa kebiasaan yang bisa memicu kutu air lainnya yang belum disebutkan. 

Selanjutnya, bagaimana sih cara mengobati kutu air?

Atasi Segera karena Dapat Menyebar

Ada satu hal mengenai kutu air yang bisa membuat pengidapnya makin khawatir. Menurut jurnal di US National Library of Medicine - National Institutes of Health, Athlete's foot: oral antifungals, sekitar 15 - 30 persen orang cenderung mengalami tinea pedis pada suatu waktu.

Namun, infeksi tinea pedis bukan cuma menyoal kaki saja. Pasalnya, infeksi kutu air ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain. Contohnya kuku jari, pangkal paha, atau bahkan tangan. 

Baca juga: Bikin Ganggu, Cari Tahu 4 Penyebab Bau Kaki

Jika infeksi kutu air bisa semakin parah maka bisa menyebabkan limfangitis (peradangan pada saluran kelenjar getah bening), atau limfadenitis (peradangan pada kelenjar getah bening). Tuh, bikin resah kan? 

Oleh sebab itu, kutu air harus segera diatasi demi mencegah penyebaran infeksi dan komplikasinya. Lalu, bagaimana cara mengatasi kutu air? Terdapat beberapa obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengatasi kutu air.

Contohnya antijamur topikal yang bisa dioleskan langsung ke kulit atau diminum. Contohnya obatnya seperti Miconazole, Econazole, Ketoconazole, hingga Ciclopirox. 

Baca juga: 6 Bahan Alami untuk Atasi Kutu Air

Pada beberapa kasus, dokter dapat meresepkan antibiotik untuk mengatasi kutu air. Antibiotik ini digunakan bila terjadi infeksi sekunder pada pengidapnya. 

Mau tahu lebih jauh mengenai tinea pedis atau kutu air? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Athlete's foot
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Athlete's foot
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Health A to Z. Athlete’s foot.
US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses pada Desember 2019. Athlete's foot: oral antifungals