• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 13 Fakta Tentang Kontrasepsi IUD yang Perlu Diketahui

13 Fakta Tentang Kontrasepsi IUD yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Kontrasepsi IUD mungkin menjadi salah satu alat kontrasepsi yang mungkin dipikirkan pertama kali oleh para wanita. Pasalnya, IUD merupakan kontrasepsi yang dianggap cukup aman untuk sebagian besar wanita dan mereka pun bertahan lama.

Sayangnya, masih cukup banyak wanita yang belum mengenal tentang kontrasepsi ini. Oleh karena itu, yuk simak beberapa fakta tentang kontrasepsi IUD berikut ini!

Apa itu IUD?

IUD, singkatan dari "intrauterine device". Berbentuk seperti "T" dan sedikit berukuran sekitar 3 cm.  IUD akan dipasang dalam rahim dan mencegah kehamilan dengan menghentikan sperma untuk mencapai dan membuahi sel telur. Alat kontrasepsi ini dapat mencegah kehamilan hingga jangka waktu sepuluh tahun. 

Baca juga: Benarkah IUD Lebih Baik dari KB Suntik?

Bagaimana Cara Kerja dari IUD?

Pada dasarnya, kontrasepsi IUD terdiri dari ada dua jenis, yaitu IUD hormonal dan non-hormonal. IUD hormonal bekerja dengan cara melepas hormon progestin sedikit demi sedikit setiap hari. Hormon ini kemudian akan mengentalkan cairan di bagian leher rahim sehingga sperma jadi lebih sulit untuk bisa masuk ke dalam rahim.

Kalaupun berhasil terjadi pembuahan, hormon ini akan menipiskan lapisan rahim sehingga membuat sel telur yang dibuahi susah untuk menempel. Penggunaan IUD jenis ini diduga bisa membuat menstruasi seorang wanita jadi lebih ringan.

Sementara itu, IUD non-hormonal memiliki lilitan tembaga di sekelilingnya. Tembaga ini yang akan mengeluarkan zat yang menimbulkan peradangan di dalam rahim yang kemudian merusak sel sperma dan sel telur sebelum keduanya sempat bertemu. Namun, penggunaan IUD jenis ini diduga bisa sebabkan menstruasi yang terjadi lebih berat.

Apakah IUD Bisa Benar-Benar Mencegah Kehamilan?

Melansir NHS UK, sejauh ini IUD termasuk alat kontrasepsi yang paling efektif selain implan. Kurang dari 1 orang yang gagal dari 100 pengguna, alias lebih dari 99 persen efektif mencegah terjadinya kehamilan.

Berapa Lama Efektivitasnya Bertahan?

IUD hormonal mampu mencegah kehamilan hingga lima tahun, sementara IUD tembaga mampu mencegah kehamilan hingga 10 tahun. Jika seorang wanita telah berusia 40 tahun atau lebih ketika memasang IUD, maka dapat dibiarkan sampai masa menopause atau diartikan bahwa ia tidak lagi membutuhkan kontrasepsi. Kamu juga bisa chat dokter spesialis kandungan di Halodoc untuk menanyakan efektivitas kontrasepsi jenis ini.

Baca juga: Pengaruh Kontrasepsi IUD Terhadap Kanker Serviks 

Bagaimana Cara Memasang IUD? Apakah Sakit?

Dokter kandungan atau bidan yang berpengalaman umumnya akan memastikan kamu sedang tidak dalam kondisi hamil saat memasangnya. Lalu, mereka akan menginformasikan tahap-tahap pemasangan IUD sebelum proses pemasangan.

Selama proses pemasangan memang ada rasa tidak nyaman dan kamu diperbolehkan meminum obat pereda nyeri setengah jam sebelumnya. Hal ini karena IUD harus dimasukkan ke dalam rongga rahim, sementara jalur masuknya adalah leher rahim berbentuk seperti lorong sempit.

Untuk itu, dokter akan menggunakan bantuan spekulum untuk menahan leher rahim agar tetap terbuka selama proses pemasangan IUD. Proses ini hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memasang IUD?

IUD bisa dipasang kapan saja baik pada saat menstruasi maupun tidak. Jika dipasang pada saat menstruasi, maka pastikan seorang wanita sedang tidak hamil. Pemasangan lebih mudah dan tidak terlalu nyeri jika dilakukan saat menstruasi karena saat haid kondisi serviks sedang terbuka. Sebenarnya, kelebihan pemasangan saat kamu tidak haid adalah memudahkan untuk melihat ketika terdapat infeksi.

Apakah IUD Bisa Dipasang Setelah Proses Persalinan?

IUD bisa dipasangkan 48 jam setelah persalinan. Namun, IUD juga bisa dipasang 6-8 minggu setelah persalinan.

Baca juga: Benarkah Menoragia Bisa Disebabkan Alat Kontrasepsi IUD?

Apakah IUD Mempengaruhi ASI?

Kabar baiknya, pemasangan IUD tidak memengaruhi ASI. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) yaitu IUD hanya memberikan efek di rahim saja, sehingga tidak mempengaruhi organ lain dan produksi ASI.

Berapa Biaya Pemasangan IUD?

Karena bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka harga pemasangan IUD relatif lebih mahal dari KB suntik dan pil. Perlu diingat bahwa biaya ini dikeluarkan sekali saja dalam rentang 5 hingga 12 tahun pemakaian.

Di rumah sakit, harga pemasangan IUD bisa mencapai lebih dari Rp 500.000, sementara di puskesmas bisa jauh lebih murah bahkan gratis, tergantung kebijakan pemerintah daerah yang bersangkutan. Harga ini bervariasi tergantung merk, jenis, dan biaya dokter.

Adakah Efek Samping dari Kontrasepsi IUD? 

Pada IUD non-hormonal, efek samping yang sering muncul adalah haid yang lebih banyak dan lebih nyeri. Sementara pada IUD hormonal yang terjadi sebaliknya, yaitu haid menjadi tidak teratur bahkan tidak haid sama sekali. Tidak hanya itu, keputihan dan flek juga bisa muncul. Namun, keluhan ini bisa menghilang dengan sendirinya seiring dengan adaptasi tubuh kita terhadap IUD.

Jika Belum Memiliki Anak, Bolehkan Memasang IUD?

Jika kamu ingin menggunakan IUD tetapi belum punya anak, hal ini diperbolehkan. Namun, karena rahim wanita yang belum pernah melahirkan berukuran lebih kecil daripada yang sudah memiliki anak, sangat memungkinkan jika IUD keluar dengan sendirinya. 

Jika Ingin Kembali Hamil, Berapa Lama Bisa Kembali Subur?

Begitu IUD dikeluarkan dari rahim, kamu langsung subur kembali.

Lantas, Pentingkah “Masa Jeda” pada Rahim saat Ingin Menggunakan IUD?

Kita bisa melepas IUD yang lama sekaligus memasang yang baru di dalam rahim. Hal ini karena risiko infeksi jadi lebih kecil daripada melakukan dua prosedur terpisah. Selain itu, proses pelepasan dan penggantian secara sekaligus juga disarankan karena dikhawatirkan jika terdapat jeda, seorang wanita bisa saja hamil. 

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2019. Intrauterine Device (IUD).
Web MD. Diakses pada 2019. Birth Control and IUD.
U.S. Department of Health & Human Services. Diakses pada 2019. Intrauterine Device (IUD).

 

*artikel ini pernah tayang di SKATA dengan pada tanggal  11 Mei 2018