2 Jenis Otoacoustic Emissions (OAE) yang Perlu Diketahui

2-jenis-otoacoustic-emissions-oae-dan-cara-melakukannya-halodoc

Halodoc, Jakarta – Pendengaran merupakan salah satu indra vital yang dimiliki manusia. Bila indra ini tidak berfungsi dengan baik, maka risiko mengalami gangguan bicara akan semakin besar, terutama bila kondisi ini terjadi pada usia dini seperti bayi. Karena itulah, melakukan pemeriksaan pendengaran pada bayi yang baru lahir sangat penting agar gangguan pendengaran bisa dideteksi sedini mungkin, sehingga peluang untuk sembuh dapat semakin besar.

Nah, salah satu pemeriksaan pendengaran yang bisa dilakukan pada bayi baru lahir adalah otoacoustic emission (OAE). Tes OAE ini dibagi lagi menjadi dua jenis. Ketahui jenis tes OAE di sini agar ibu bisa menentukan jenis mana yang lebih tepat untuk Si Kecil.

Ada sebanyak dua persen bayi baru lahir berisiko mengalami ketulian. Itulah mengapa tes atau skrining pendengaran harus dilakukan tidak hanya untuk mendeteksi, tapi juga mencegah terjadinya gangguan pendengaran.

Bila orangtua secara sigap melakukan tes pendengaran sejak dini, maka bayi yang berusia di bawah satu tahun yang didiagnosis memiliki gangguan pendengaran masih bisa disembuhkan dengan cara melakukan rehabilitasi pendengaran. Namun, bila bayi dibiarkan tumbuh dengan gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi, maka Si Kecil berisiko tinggi mengalami gangguan bicara juga.

Baca juga: 6 Tes Kesehatan yang Wajib Dilakukan Bayi Baru Lahir

Secara umum, ada dua jenis tes untuk mendeteksi gangguan pendengaran, yaitu subjektif dan objektif. Salah satu tes objektif pendengaran yang sering digunakan adalah otoacoustic emission (OAE). OAE adalah tes pendengaran bayi untuk memeriksa fungsi sel rambut yang terdapat di rumah siput (koklea).

Saat menjalani pemeriksaan otoacoustic emissions, bayi akan dipakaikan alat berbentuk headset yang berfungsi untuk mengukur getaran suara dalam lubang telinga. Kemudian, stimulus akan dipancarkan melalui headset tersebut dan akan ditangkap oleh sel rambut yang sebelumnya sudah terlebih dahulu menggetarkan gendang telinga dan melewati tulang pendengaran.

Stimulus yang tertangkap oleh sel rambut ini kemudian menghasilkan getaran yang kembali ditangkap oleh receiver. Setelah getaran  diterima oleh receiver, barulah dapat diketahui baik atau tidaknya fungsi koklea berdasarkan perbedaan amplitudo yang telah diterima.

Baca juga: Cara Mendeteksi Gangguan Pendengaran pada Bayi

OAE sendiri dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Transient Otoacoustic Emissions (TOAEs).

Dalam pemeriksaan ini, suara yang dipancarkan merupakan respons terhadap rangsangan akustik, dan dipaparkan dalam durasi yang relatif singkat. Suara yang diberikan bisa berupa nada “klik”, tapi bisa juga berupa nada semburan.

2. Distortion Product Otoacoustic Emission (DPOAEs)

Dalam pemeriksaan ini, suara dipancarkan sebagai respon terhadap dua nada simultan dari frekuensi yang berbeda.

Sedangkan berdasarkan metode pemeriksaannya, OAE dibagi menjadi dua jenis:

1. Sweep OAE

Dalam pemeriksaan ini, perangkat yang digunakan akan memindai seluruh spektrum OAE, untuk menemukan area drop-out yang mungkin tidak terdeteksi. Pemeriksaan OAE jenis ini biasanya dilakukan pada orang yang mengalami gejala tinnitus (telinga berdengung).

2. Contralateral Suppression

Jenis pemeriksaan OAE ini dilakukan dengan memberikan suara lain pada telinga yang berlawanan atau yang sedang tidak diperiksa. Jadi, pemeriksaan ini dilakukan dengan mengurangi amplitudo TOAE di telinga yang berlawanan dengan memberikan suara masking. Namun, hasil pemeriksaan OAE jenis ini belum bisa diandalkan untuk penggunaan klinis, sehingga masih diperlukan serangkaian tes lainnya.

Baca juga: Jenis Tes Pendengaran, Ini Fakta Otoacoustic Emissions

Nah, itulah dua jenis pemeriksaan otoacoustic emissions yang perlu ibu tahu. Bila Si Kecil mengalami gejala-gejala gangguan pendengaran, lebih baik periksakan ia ke dokter THT secepat mungkin. Ibu juga bisa membicarakan masalah kesehatan yang dialami Si Kecil dengan menggunakan aplikasi Halodoc, lho. Ibu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.