• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 2 Jenis Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Ablasi Retina

2 Jenis Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Ablasi Retina

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Ablasi retina adalah kondisi mata serius di mana retina (lapisan jaringan tipis di belakang mata) terlepas dari jaringan penyokongnya. Selain dengan mengamati gejalanya, ablasi retina juga bisa didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan. Biar lebih jelas, simak ulasannya di bawah ini.

Retina merupakan bagian penting dari penglihatan, karena berfungsi untuk memproses cahaya yang ditangkap oleh mata dan mengubahnya menjadi sinyal listrik untuk kemudian diteruskan ke otak. Oleh otak, sinyal tersebut akan diproses dan diinterpretasikan sebagai gambar yang kita lihat.

Posisi retina di belakang mata disokong oleh lapisan dibawahnya, yaitu lapisan koroid yang kaya akan pembuluh darah yang menyediakan oksigen dan nutrisi untuk retina. Bila retina terlepas dari lapisan tersebut, ia tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkannya. Akibatnya, penglihatan pun akan terganggu. 

Bila tidak segera diobati, ablasi retina juga dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan mata permanen pada mata yang terkena. Itulah mengapa penting untuk segera menemui dokter mata untuk membantu mendiagnosis dan mengobati ablasi retina.

Baca juga: Ketahui Penyebab Terjadinya Ablasi Retina

Ketahui Gejala Ablasi Retina

Ablasi retina itu sendiri tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, kamu mungkin akan menyadari gejala-gejala berikut sebelum atau setelah ablasi retina berkembang:

  • Kemunculan banyak floaters secara tiba-tiba, yaitu bintik-bintik kecil yang bergerak atau melayang melalui bidang penglihatan kamu.
  • Merasakan kilatan cahaya di satu atau kedua mata (fotopsia).
  • Penglihatan kabur.
  • Penglihatan di sisi (periferal) berkurang secara bertahap.
  • Bayangan gelap seperti tirai menutupi penglihatan kamu, termasuk bagian tengah atau samping.

Baca juga: Bikin Penglihatan Kabur, Kenali 5 Gejala Neuritis Optik

Cara Mendiagnosis Ablasi Retina

Dokter dapat menggunakan pemeriksaan, instrument, dan prosedur berikut ini untuk mendiagnosis ablasi retina:

1.Pemeriksaan Retina

Dokter dapat menggunakan instrumen dengan cahaya terang dan lensa khusus untuk memeriksa bagian belakang mata kamu, termasuk retina. Instrumen tersebut dapat memberikan tampilan mata kamu yang sangat terperinci, sehingga dokter dapat melihat bila ada lubang, robekan, atau ablasi pada retina.

2.Pencitraan Ultrasonografi

Dokter dapat menggunakan pencitraan ultrasonografi bila pendarahan telah terjadi di mata, sehingga sulit untuk melihat retina mata kamu.

Dalam pemeriksaan ablasi retina, dokter kemungkinan akan tetap memeriksa kedua mata, bahkan bila gejala hanya terjadi pada satu mata. Bila robekan tidak teridentifikasi pada kunjungan pertama, dokter mungkin akan meminta kamu untuk datang kembali dalam beberapa minggu ke depan untuk memastikan mata kamu tidak mengalami robekan yang tertunda akibat pemisahan vitreous yang sama. Kamu juga dianjurkan untuk segera kembali ke dokter mata bila mengalami gejala baru. 

Baca juga: 4 Kondisi yang Mengharuskan Screening Retina

Perlu diketahui, ablasi retina tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Itulah mengapa sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter mata begitu kamu mengalami gejala ablasi retina. Dengan begitu, perawatan medis pun bisa dilakukan sesegera mungkin dan kamu bisa memiliki peluang terbaik untuk mempertahankan penglihatan kamu.

Pemeriksaan mata juga dapat mendeteksi adanya gejala awal yang mungkin tidak kamu sadari. Oleh karena itu, bila kamu memiliki faktor risiko ablasi retina (mengidap diabetes atau tekanan darah tinggi), kamu dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mata setahun sekali, atau lebih sering guna mendeteksi ablasi retina lebih dini.

Itulah 2 jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis ablasi retina. Untuk melakukan pemeriksaan terkait gejala kesehatan yang kamu alami, bisa langsung buat janji di rumah sakit pilihanmu lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Retinal detachment.
WebMD. Diakses pada 2020. Retinal detachment.