2 Pemeriksaan Laboratorium untuk Mendiagnosis Penyakit Tifus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
2 Pemeriksaan Laboratorium untuk Mendiagnosis Penyakit Tifus

Halodoc, Jakarta – Tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang bisa menyebar melalui makanan, minuman, ataupun air yang terkontaminasi. Ketika bakteri Salmonella typhi masuk kedalam tubuh, bakteri ini akan bertahan dalam saluran usus dan darah. Penularan tifus biasanya terjadi karena seseorang menelan makanan atau minuman yang disiapkan oleh orang yang terpapar bakteri.

Baca Juga: 2 Alasan Bahaya Tifus Bisa Berakibat Fatal

Kondisi ini sering terjadi  di negara-negara di mana sebagian besar persediaan air nya mudah terkontaminasi Salmonella typhi. Gejala awal tifus dapat berupa sakit perut, demam, dan perasaan tidak enak badan (malaise). Ketika penyakit semakin berkembang, gejalanya dapat meliputi:

  • Demam tinggi

  • Sakit kepala

  • Nyeri perut

  • Sembelit atau diare

  • Bintik-bintik kecil berwarna merah di perut atau dada

  • Kehilangan nafsu makan

  • Tubuh lemah dan lesu

  • Pegal-pegal

  • Tinja berdarah

  • Panas dingin

  • Mudah lelah

  • Sulit fokus

  • Kebingungan.

Terkadang, gejala tifus bisa tumpang tindih dengan gejala demam berdarah. Itu sebabnya, dokter biasanya merekomendasikan beberapa tes untuk menegakkan diagnosis. Tes yang umum dilakukan guna mendiagnosis tifus, yakni.

1. Tes Widal

Tes widal adalah tes yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosis tifus. Pertama, dokter akan bertanya seputar riwayat penyakit. Kemudian, dilanjutkan dengan pertanyaan seputar kebersihan makanan dan tempat tinggal, serta keluhan yang dialami. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti memeriksa suhu tubuh, melihat tampilan permukaan lidah, memeriksa bagian perut mana yang nyeri, dan mendengarkan bunyi usus dengan stetoskop.

Dalam pemeriksaan widal, pengidap akan diambil darah sebagai sampel. Setelah itu, sampel darah akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Di laboratorium, sampel darah akan ditetesi dengan bakteri Salmonella yang sudah dimatikan dalam bentuk antigen O (badan bakteri) dan antigen H (ekor atau flagel bakteri). 

Kedua antigen tersebut diperlukan karena antibodi untuk badan bakteri dan flagel bakteri dapat berbeda. Selanjutnya, sampel darah diencerkan sampai puluhan atau ratusan kali. Bila setelah berulang kali diencerkan antibodi tetap terbukti positif, maka individu tersebut dianggap mengidap tipes. 

Baca Juga: Sering Jajan di Pinggir Jalan Bisa Kena Tipes?

2. Tes Tubex

Tubex merupakan alat uji yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM anti-O9 dalam darah. Antibodi tersebut dihasilkan secara otomatis oleh sistem imun saat tubuh terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhi. Jadi, apabila tes Tubex mendeteksi antibodi IgM anti-O9 dalam sampel darah  menandakan seseorang tersebut positif mengidap tipes. 

Pengobatan Tipes

Karena penyebabnya adalah bakteri, maka pengobatannya dilakukan dengan pemberian antibiotik. Obat-obatan ini membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi. tipes. Beberapa contoh antibiotik untuk mengobati tipes yakni ampisilin, kloramfenikol, ataupun kotrimoksazol, fluoroquinolones, sefalosporin, dan azithromycin. 

Dokter biasanya akan memilih berdasarkan rekomendasi terbaru.  Selain menggunakan antibiotik, beberapa orang memerlukan terapi suportif, seperti penggantian cairan atau elektrolit, yang  tergantung pada tingkat keparahan infeksi.

Komplikasi Penyakit Tipes

Orang yang tidak mendapat pengobatan untuk infeksi tipes mungkin bisa mengalami gejala penyakit selama berbulan-bulan. Dalam kasus tersebut, komplikasi, seperti gagal ginjal atau pendarahan usus (perdarahan hebat), mungkin bisa terjadi. Sedangkan pada kasus yang parah, pengidap tipes bisa berakibat fatal jika tidak ditangani. Pengidapnya juga dapat menjadi pembawa dan menyebarkan penyakit kepada orang lain.

Baca Juga: Sudah Sembuh, Gejala Tipes Bisa Datang Lagi?

Kamu berencana melakukan salah satu tes diatas? Nah, biar lebih praktis sekarang bisa lho buat janji dengan rumah sakit pilihanmu melalui Halodoc. Mudah bukan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play!