2 Tes untuk Deteksi Alkalosis

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
2 Tes untuk Deteksi Alkalosis

Halodoc, Jakarta - Segala komponen di dalam tubuh harus seimbang agar tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ini berlaku pada keseimbangan asam-basa di dalam tubuh. Jika kadar basa atau alkali di dalam tubuh, maka ini bisa menyebabkan penyakit alkalosis. Terdapat cara yang bisa dilakukan untuk deteksi alkalosis, penting untuk melakukannya sebab alkalosis bisa sebabkan masalah yang berbahaya jika tidak segera ditangani.

Alkalosis dapat terjadi karena kadar asam atau karbondioksida dalam tubuh berkurang, serta terdapat penurunan kadar elektrolit klorida dan kalium dalam tubuh. Untuk deteksi alkalosis, diperlukan beberapa rangkaian tes, mulai dari pemeriksaan fisik, tes darah (meliputi tes elektrolit dan analisa gas ), dan juga tes urine atau urinalisis. 

Baca Juga: Hati-Hati, Alkalosis bisa Sebabkan Komplikasi Serius

Apa Saja Gejala dari Alkalosis?

Saat kadar alkali di dalam tubuh menjadi lebih tinggi dari seharusnya, maka pengidapnya merasakan gejala, seperti:

  • Mual;

  • Tubuh terasa kaku;

  • Otot yang tegang dan mengalami kedutan;

  • Tremor pada tangan;

  • Cepat marah;

  • Gangguan kecemasan yang menimbulkan napas cepat dan kesemutan pada wajah, tangan, atau kaki.

Pada beberapa kejadian, alkalosis bisa sama sekali tidak menimbulkan gejala. Pada kasus yang tidak mendapat pertolongan segera, alkalosis bisa menyebabkan komplikasi berbahaya seperti sesak napas dan penurunan kesadaran atau bahkan koma.

Oleh karena itu, pentin untuk memeriksakan diri ke dokter saat kamu mulai merasakan gejala mirip alkalosis di atas. Pemeriksaan pun dapat dilakukan di rumah sakit terdekat dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Dengan aplikasi ini, kamu tak perlu antre dan buang waktu untuk bisa bertemu dan melakukan pemeriksaan dengan dokter.

Baca Juga: Begini yang Terjadi pada Otak ketika Seseorang Alami Koma

Apa Langkah Pengobatan Alkalosis?

Pada sebagian besar kasus, gejala alkalosis bisa langsung membaik setelah menerima pengobatan bergantung penyebabnya. Untuk kasus alkalosis respiratorik, maka ia dapat diatasi dengan memperbaiki kadar oksigen tubuh dengan cara mengatur napas atau menggunakan alat bantu pernapasan. Sementara itu, untuk kasus alkalosis akibat  defisiensi kalium, maka penggunaan obat atau suplemen dapat mengatasinya.

Alkalosis juga bisa diatasi dengan mencukupi konsumsi air, atau mengonsumsi minuman isotonik yang mengandung elektrolit. Namun, jika ketidakseimbangan elektrolit ini masuk dalam tingkat yang parah akibat dehidrasi atau terlalu banyak muntah, maka perlu dilakukan perawatan di rumah sakit.

Adakah Cara Pencegahan yang Bisa Dilakukan?

Pada sebagian besar kasus alkalosis, kondisi ini bisa dicegah dengan menerapkan pola diet sehat, yang mana kebutuhan kalium wajib dipenuhi dan mencegah dehidrasi terjadi. Beberapa jenis sumber asupan kaya kalium diperlukan untuk mencegah defisiensi elektrolit, jenis nutrisi ini bisa dengan mudah kamu dapatkan melalui sumber makanan seperti buah dan sayuran. Makanan tersebut yaitu wortel, susu, pisang, kacang-kacangan dan sayuran hijau.

Tidak hanya itu saja, untuk bantu cegah alkalosis, maka kamu wajib memperoleh jumlah cairan yang cukup. Kondisi dehidrasi dapat dicegah dengan beberapa hal penting, misalnya:

  • Minum 8 hingga 10 gelas air per hari atau sekitar 1,5 – 2 liter per hari;

  • Pastikan untuk konsumsi air saat sebelum, sesaat dan setelah berolahraga, baik berat ataupun ringan;

  • Konsumsi minuman berelektrolit jika banyak mengeluarkan keringat;

  • Hindari konsumsi minuman manis saat sedang haus;

  • Pastikan untuk membatasi asupan kafein berlebih dari minuman bersoda, teh atau kopi, karena kafein bersifat diuretik;

  • Pastikan untuk segera konsumsi air minum jika sudah mengalami haus. Jangan biarkan tubuh mengalami kehausan luar biasa.

Baca Juga: Fakta di Balik Minuman Isotonik

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Health. Alkalosis. 
Medine Plus. Diakses pada 2019. Alkalosis.