• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Alasan yang Membuat Anak Sering Berbohong

3 Alasan yang Membuat Anak Sering Berbohong

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Berbohong adalah masalah perilaku anak yang normal, dan kebanyakan bukan masalah karakter ataupun moralitas. Berbohong kerap digunakan anak sebagai cara singkat untuk memecahkan masalah. 

Jika anak tidak menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia “menyelesaikan” masalah itu dengan berbohong. Berbohong digunakan untuk menghindari konsekuensi daripada menghadapinya. Informasi selengkapnya mengenai alasan yang membuat anak sering berbohong bisa dibaca di sini!

Anak Berbohong untuk Menghindari Masalah

Seperti sudah disinggung sebelumnya, alasan yang membuat anak sering berbohong adalah untuk menghindari masalah. Mungkin mereka melanggar aturan, atau mereka tidak melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan, seperti tugas-tugas mereka. Jika mereka tidak memiliki jalan keluar lain, daripada menanggung akibatnya, mereka memilih berbohong untuk menghindari masalah.

Jadi, bisa dibilang kalau alasan utama anak-anak berbohong adalah karena mereka tidak memiliki cara lain untuk menghadapi masalah atau konflik. Anak-anak juga kerap berbohong untuk memisahkan diri dari orangtua dan memiliki “dunianya” sendiri. Berikut adalah alasan-alasan lain mengapa anak sering berbohong:

1. Membangun Identitas

Anak-anak akan menggunakan kebohongan untuk membangun identitas, meskipun identitas itu salah. Ini dapat digunakan untuk mengesankan rekan-rekan mereka, atau diterima di lingkungan. Anak mungkin berbohong kepada teman-temannya tentang hal-hal yang dia katakan telah dia lakukan (yang sebenarnya tidak dia lakukan) untuk membuat dirinya terdengar lebih mengesankan. 

2. Mendapatkan Perhatian

Ketika anak masih kecil, dan kebohongan tidak penting, perilaku ini mungkin hanya caranya untuk mendapatkan sedikit perhatian. Perilaku ini termasuk wajar. Anak-anak yang lebih kecil juga mengarang cerita selama permainan imajinatif. Pahamilah bahwa ini bukan kebohongan melainkan cara bagi mereka untuk melibatkan imajinasi dan mulai memahami dunia di sekitar mereka.

3. Anak-anak Berbohong Agar Tidak Menyakiti Perasaan Orang Lain

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak berbohong agar tidak melukai perasaan orang lain. Jika seseorang bertanya ke kamu apakah kamu menyukai sepatu barunya, dan kamu tidak menyukainya, kamu mungkin tetap berkata suka. 

Berbohong pada Anak-anak Biasanya Bukan Masalah Moral

Memang, kebanyakan anak berbohong untuk tidak menyakiti orangtuanya. Mereka berbohong karena ada hal lain yang terjadi. Terpenting yang perlu diketahui orangtua dalam menyikapi anak yang berbohong adalah tidak mengkonfrontasinya sehingga membuat anak menjadi semakin menjauh. 

Frustasi orangtua karena kebohongan anak tidak akan membantu anak mengubah perilakunya. Berbohong yang dilakukan anak pada umumnya adalah soal kurangnya keterampilan dalam memecahkan masalah serta mau menghindari konsekuensi. 

Itu berarti anak-anak membutuhkan keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik, dan sebagai orangtua perlu membantu anak meningkatkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah.

Jika orangtua butuh saran profesional untuk menerapkan pola asuh kepada anak bisa ditanyakan langsung di Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Menjadikan kejujuran sebagai prioritas di rumah adalah salah satu upaya supaya anak tidak sering berbohong. Buat aturan rumah tangga yang berbunyi, "Katakan yang sebenarnya", sehingga anak-anak akan lebih cenderung menyadari pentingnya bersikap jujur.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, pastikan orangtua adalah panutan yang baik. Mulailah dari hal-hal kecil, sehingga lama-lama kejujuran menjadi hal yang natural dan anak dengan sendirinya memahami kalau bersikap jujur sangat penting dan bentuk integritas dalam berkepribadian serta berperilaku.

Referensi:
Empowering Parents. Diakses pada 2020. How to Deal with Lying in Children and Teens.
Very Well Family. Diakses pada 2020. 3 Common Reasons Why Kids Lie (and How You Should Respond).