3 Faktor yang Meningkatkan Risiko Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
3 Faktor yang Meningkatkan Risiko Sarkoma Kaposi

Halodoc, Jakarta – Sarkoma Kaposi merupakan jenis kanker yang diakibatkan oleh infeksi virus, yaitu virus herpes (HHV‐8). Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan jaringan abnormal berupa bercak-bercak di bawah kulit, hidung, tepi mulut, kelenjar limfa, dan di bagian tubuh lainnya. Umumnya, bercak yang muncul berwarna merah atau keunguan dan seringnya tidak dibarengi gejala lain. Namun, bercak yang muncul bisa menyebabkan rasa nyeri dan saat kanker menyebar ke saluran pencernaan atau paru-paru, bisa terjadi perdarahan. 

Seiring berjalannya waktu, sel abnormal ini akan berkembang secara berlipat ganda menjadi sel kanker yang ganas. Virus herpes menyerang sel-sel endothelial dan menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh secara cepat. Meski begitu, tidak semua infeksi ini akan menyebabkan sarkoma Kaposi. Ada berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini, di antaranya memiliki daya tahan tubuh rendah atau orang dengan kondisi tertentu, misalnya HIV, lanjut usia, atau tengah menjalani transplantasi organ. 

Baca juga: Ini 4 Pengobatan Sarkoma Jaringan Lunak yang Tepat

Faktor Risiko Penyakit Sarkoma Kaposi 

Sarkoma Kaposi disebabkan oleh infeksi virus herpes (HHV-8). Kabar buruknya, virus yang satu ini bisa dengan mudah menular, terutama melalui hubungan seksual maupun kontak non-seksual, misalnya dari ibu ke bayi. Ada tiga faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, yaitu: 

1. Mengidap AIDS 

Risiko sarkoma Kaposi mengingkat pada orang yang mengidap AIDS. Pada kondisi ini, sarkoma Kaposi disebabkan oleh interaksi antara HIV. Risiko sarkoma Kaposi pada pengidap AIDS juga meningkat karena sistem imun yang melemah. 

2. Seks Tidak Sehat 

Perilaku seks yang tidak sehat ternyata juga bisa meningkatkan risiko penyakit sarkoma Kaposi. Kebiasaan berganti pasangan dan melakukan seks tidak sehat bisa meningkatkan risiko infeksi virus HHV-8, yang merupakan virus penyebab kanker sarkoma Kaposi. 

3. Jenis Kelamin 

Jenis kelamin ternyata juga memengaruhi risiko penyebaran penyakit ini. Kabar buruknya, kanker sarkoma Kaposi ternyata lebih rentan menyerang pria dibanding wanita. 

Gejala yang muncul sebagai tanda penyakit ini bisa bermacam-macam, tergantung pada jenis penyakit dan organ yang terserang. Secara umum, sarkoma Kaposi sering ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada kulit dan di dalam mulut. Bercak yang muncul berwarna merah atau ungu, tetapi tidak disertai dengan benjolan dan tidak memicu rasa nyeri. Bercak yang muncul biasanya menyerupai lebam, dan semakin lama bisa menonjol atau berkumpul menyebabkan bercak yang lebih besar.

Jika dilihat dari jenis dan penyebabnya, sarkoma dibagi menjadi empat, yaitu sarkoma Kaposi pada pengidap HIV, sarkoma Kaposi klasik, sarkoma Kaposi pada orang yang menjalani transplantasi organ, dan sarkoma Kaposi endemic di Afrika. Diagnosis penyakit ini dilakukan melalui pemeriksaan HIV, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, biopsi kulit, dan endoskopi. Sayangnya hingga kini, belum ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit sarkoma Kaposi. 

Baca juga: Ini Cara untuk Diagnosis Sarkoma Jaringan Lunak

Meski tidak bisa disembuhkan, tetapi pengobatan tetap diperlukan. Penanganan sarkoma kaposi yang terlambat bisa menyebabkan dampak yang berbahaya. Penanganan yang tepat bisa membantu memperlambat perkembangan penyakit, misalnya dengan melakukan terapi untuk menaikkan sistem kekebalan tubuh. Pada pengidap HIV, sarkoma Kaposi bisa diatasi dengan pemberian obat untuk mencegah virus berlipat ganda. 

Baca juga: Kenali Tingkatan Keparahan Sarkoma Jaringan Lunak

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit sarkoma Kaposi dan cara mengatasinya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Cancer.org. Diakses pada 2019. What is Kaposi Sarcoma?
Halodoc. Diakses pada 2019. Sarkoma Kaposi.