• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Masalah Kesehatan Mental yang Muncul Akibat COVID-19 Second Wave

3 Masalah Kesehatan Mental yang Muncul Akibat COVID-19 Second Wave

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
3 Masalah Kesehatan Mental yang Muncul Akibat COVID-19 Second Wave

Halodoc, Jakarta – Di tengah harapan akan berakhirnya pandemi, ancaman second wave atau gelombang kedua COVID-19 justru menghantui. Dampaknya bagi kesehatan mental pun seolah tak pandang usia. Ketakutan akan tertular virus membuat banyak orang rentan terhadap masalah psikologis.

Di India, misalnya, yang baru-baru ini menghadapi COVID-19 second wave, ada beberapa masalah kesehatan mental yang meningkat kasusnya. Apa saja masalah kesehatan mental yang dimaksud? Berikut ini penjelasan lengkapnya.

Baca juga: Waspada Lonjakan Kasus COVID-19 di Jakarta

Berbagai Masalah Kesehatan Mental yang Rentan Terjadi

Psikiater di Rumah Sakit Superspesialis Hayat di Guwahati, India, dr. Sanjay Singh, mengungkapkan bahwa ketakutan terhadap penularan virus selama gelombang kedua COVID-19 membuat banyak orang rentan terhadap masalah kesehatan mental, seperti:

  1. Gangguan Kecemasan

Melihat berita tentang melonjaknya kasus COVID-19 dapat menimbulkan stres dan kecemasan. Ditambah dengan semakin terbatasnya ruang untuk melakukan rutinitas, dan sulitnya bertemu orang-orang tersayang selama pandemi, gangguan kecemasan adalah salah satu masalah yang rentan terjadi. 

  1. Depresi

Selama second wave, banyak orang yang mengalami ketakutan tak terkendali akan tertular virus, ketimbang mengalami gejala fisik yang sebenarnya, menurut dr. Singh. Hal ini membuat kasus depresi meningkat, yang terjadi akibat stres berkepanjangan.

Tak hanya di India, menurut Corinna Keenmon, MD., spesialis psikiatri dan psikologi di Houston Methodist, sekitar 40 persen orang di Amerika juga mengalami depresi terkait pandemi. Masalah kesehatan mental ini bisa terjadi pada siapa saja, tetapi paling rentan dialami lansia di panti jompo, karena merasa terisolasi.

  1. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder/OCD)

Rasa takut akan tertular virus, membuat beberapa orang merasa sangat cemas dan obsesif terhadap kebersihan. Menurut dr. Sanjay, terdapat peningkatan kasus OCD di India, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan kecemasan dan peningkatan stres terkait COVID-19.

Baca juga: Lakukan 3 Hal Ini untuk Mencegah Gelombang Kedua COVID-19

Lockdown dan Angka Kematian yang Tinggi Jadi Alasan

Menurut dr. Singh, selain rasa takut akan virus, kebijakan lockdown dan angka kematian yang tinggi selama gelombang kedua COVID-19 di India jadi alasan rentannya masalah kesehatan mental di masyarakat. Hal ini juga diperparah dengan ketidakpastian akan berakhirnya pandemi.

“COVID-19 telah mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung kesehatan mental individu di berbagai kelompok umur, termasuk orang tua, muda, petugas kesehatan, pekerja garis depan, mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai dalam pandemi ini, para tunawisma dan buruh migran,” kata dr. Singh.

Senada dengan hal itu, dr. Nahid Suraiya Islam, konsultan psikiater senior di rumah sakit GNRC, mengatakan bahwa tingkat stres dan kecemasan terlihat jauh lebih tinggi selama gelombang kedua. Hal ini diduga karena jumlah orang yang terkena dampak jauh lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat, dibandingkan tahun lalu.

“Kepanikan lebih besar karena angka kematian yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan banyak gejala kecemasan yang sering terlihat pada pasien COVID-19, serta yang sudah sembuh,” katanya. 

Selain itu, peningkatan perilaku kecanduan ponsel di kalangan anak-anak juga memperburuk kecemasan. Perubahan rutinitas, jarak fisik dari teman-teman karena lingkungan belajar virtual dan akses teknologi, kehilangan peristiwa penting dalam hidup seperti perayaan dan liburan telah mempengaruhi kesehatan sosial, emosional dan mental anak-anak dan remaja.

Baca juga: Aturan Vaksinasi COVID-19 Sesuai Ketentuan Kemenkes

Langkah yang Bisa Diambil agar Mental Tetap Sehat

Meski ancaman COVID-19 second wave menghantui, hidup harus terus berjalan. Berikut ini langkah yang bisa diambil untuk mengatasi stres dan mengurangi risiko depresi dan kecemasan:

  • Bangun ketahanan mental. Temukan hal-hal yang bisa membangun energi positif bagi kamu.
  • Selalu berpikir positif. Sebisa mungkin, temukanlah kebaikan-kebaikan kecil dari apa yang kamu lakukan setiap hari.
  • Batasi penggunaan gawai. Hal ini mencegah kamu untuk mendengar berbagai berita menyeramkan, seperti peningkatan jumlah kasus harian.
  • Lakukan hobi. Aktivitas seperti melukis, berkebun, bermain game, atau mengerjakan teka-teki, bisa jadi pilihan kegiatan di waktu luang yang menyenangkan dan menenangkan.
  • Prioritaskan merawat diri sendiri. Buat rutinitas harian yang sehat dan cari keseimbangan dalam hidup.
  • Tulis jurnal. Alih-alih fokus pada hal-hal buruk, luangkanlah waktu untuk menulis jurnal. Renungkan apa saja hal-hal baik dan berjalan lancar dalam hidup kamu.
  • Cari bantuan jika membutuhkannya. Sadarilah bahwa kamu tidak sendirian. Bila merasa stres dan kecemasan menguasai, segera cari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Itulah sedikit pembahasan mengenai masalah kesehatan mental yang rentan terjadi akibat COVID-19 second wave. Bila kamu butuh bantuan profesional, jangan ragu gunakan aplikasi Halodoc untuk bicara pada psikolog atau psikiater, kapan dan di mana saja.

Referensi:
The Times of India. Diakses pada 2021. Mental Health Biggest Casualty In Second Wave.
Healthline. Diakses pada 2021. This COVID-19 Spike Will Also Hit Our Mental Health with a ‘Second Wave’.