• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Terapi untuk Mengurangi Risiko Komplikasi Hepatitis C

3 Terapi untuk Mengurangi Risiko Komplikasi Hepatitis C

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
3 Terapi untuk Mengurangi Risiko Komplikasi Hepatitis C

“Hepatitis C merupakan penyakit menular melalui darah pengidap. Proses penularannya terjadi saat darah pengidap masuk ke dalam pembuluh darah orang lain. Bukan itu saja, hepatitis C dapat menular melalui hubungan intim dengan pengidap tanpa pengaman.”

Halodoc, Jakarta – Hepatitis C menjadi salah satu penyakit berbahaya yang perlu diwaspadai. Gejala awal yang tampak ringan akan semakin parah seiring berjalannya waktu, dan mengakibatkan kerusakan fatal pada organ hati. Akibat proses keparahan gejala yang cepat, kamu perlu menemukan langkah untuk mencegah munculnya komplikasi. Lantas, apa saja terapi hepatitis C untuk menurunkan risiko komplikasi?

Baca juga: Donor Darah Bisa Mendeteksi Hepatitis C

Cegah Komplikasi dengan Melakukan Terapi Hepatitis C

Jika memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, hepatitis C dapat sembuh dengan sendirinya karena kekebalan tubuh bekerja melawan virus hepatitis C dari dalam tubuhnya. Hal tersebut terbukti pada hampir 50 persen pengidap hepatitis C yang sembuh sendirinya. Namun jika infeksi dinilai sudah berada dalam intensitas berbahaya, dokter akan menentukan langkah penanganan yang sesuai. 

Target dari pengobatan adalah pengidap dapat sembuh dengan sepenuhnya, bukan hanya menekan pertumbuhan virus hepatitis C saja. Jika pengobatan dilakukan pada waktu yang tepat, maka persentase kesembuhan bisa mencapai lebih dari 90 persen. Berikut ini beberapa terapi hepatitis C yang dilakukan untuk mendapatkan kesembuhan:

1. Konsumsi Obat Antivirus

Terapi hepatitis C yang pertama dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan. Jenis obatnya sendiri adalah obat antivirus yang dikonsumsi kurang lebih 12 minggu, tergantung kondisi masing-masing pengidap. Antivirus bekerja dengan mencegah penyebaran infeksi. Caranya dengan menghentikan pembentukan nukleosida pada sel yang tengah terinfeksi. 

Dokter akan memberikan beberapa obat golongan antivirus. pemakaiannya sendiri harus berhati-hati, karena dapat memicu risiko cacat lahir pada ibu hamil, dan menghambat pertumbuhan anak.

2. Mendapatkan Vaksinasi

Gabungan antara vaksin hepatitis B dan A bisa menjadi terapi hepatitis C. Selain untuk mencegah pengidap hepatitis C terkena hepatitis A atau B, vaksin dilakukan untuk mencegah kerusakan hati pada pengidap hepatitis A dan B. Selain upaya vaksinasi yang dilakukan, pengidap hepatitis C juga disarankan untuk melakukan perubahan pola hidup menjadi lebih sehat. Ini beberapa hal yang disarankan:

  • Rutin berolahraga;
  • Berhenti merokok;
  • Berhenti konsumsi alkohol;
  • Konsumsi makanan sehat;
  • Jangan bergantian memakai barang pribadi;
  • Jangan mengonsumsi obat tambahan tanpa resep dokter.

3. Transplantasi Hati

Jika gejala ringan tidak segera ditangani, maka pengidap berisiko mengalami komplikasi berupa sirosis dan kerusakan hati jangka panjang. Berkaitan dengan hal tersebut, satu-satunya langkah pengobatan efektif yang dilakukan adalah melakukan transplantasi hati. Meski transplantasi hati telah dilakukan, tetapi risiko mengidap hepatitis C tetap masih ada.

Baca juga: Hepatitis C Bisa Sebabkan Kerusakan pada Ginjal

Gejala Apa yang Perlu Diwaspadai?

Pada kasus hepatitis C akut, gejala berkembang dalam 6 bulan. Dalam waktu tersebut pula, tubuh dapat melawan infeksi dan dapat sembuh dengan sendirinya. Jika tidak, biasanya penyakit berlanjut menjadi hepatitis C kronis. Ini gejala yang ditimbulkan:

  1. Pada pengidap hepatitis C akut, gejala dapat berupa demam ringan, nyeri otot dan sendi, sakit perut bagian atas, urine gelap dan pekat, feses pucat, penurunan nafsu makan, mual, muntah-muntah, dan rasa lelah terus-menerus.
  2. Pada pengidap hepatitis C kronis, gejala dapat berupa rasa lelah setiap saat, penurunan kognitif otak, sakit saat buang air, feses pucat, sakit perut bagian atas, urine gelap dan pekat, gatal-gatal, mudah memar, pembengkakan tungkai, mudah berdarah, penurunan berat badan, dan sakit kuning.

Baca juga: Ini Perbedaan Hepatitis A, B, C, D, dan E

Setelah didiagnosis hepatitis C, kamu perlu melakukan langkah pengobatan yang tepat agar penyakit tidak berkembang menjadi sirosis, kanker hati, dan gagal hati permanen. Ada beberapa gejala sangat parah yang membutuhkan penanganan medis segera, seperti penyakit kuning, muntah darah, pembengkakan kaki dan perut, feses menggelap, dan mudah memar.

Meski penyakit tidak dapat disembuhkan seutuhnya, tetapi jika langkah penanganan dilakukan sejak gejala awal muncul, gejala tidak akan berlanjut menjadi semakin parah. Berkaitan dengan proses terapi hepatitis C seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kamu bisa bertanya lebih jelas lagi dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2021. Hepatitis C.
WHO. Diakses pada 2021. Hepatitis C.
WebMD. Diakses pada 2021. Hepatitis C Treatments.