• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia

4 Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 25 Januari 2023

“Ada beberapa masalah atau penyakit dalam yang dapat menyebabkan hiperkapnia. Salah satunya adalah perubahan metabolisme tubuh, yang dapat mengakibatkan produksi CO2 berlebih.”

4 Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia4 Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia

Halodoc, Jakarta – Kadar karbondioksida (CO2) dalam darah yang terlalu tinggi menunjukkan kondisi hiperkapnia atau hiperkarbia. Kondisi ini biasanya terjadi akibat hiperventilasi yaitu keadaan ketika seseorang bernapas terlalu panjang atau pendek sehingga paru-paru sulit mendapatkan oksigen. Hiperkapnia sebenarnya bukanlah penyakit, namun gejala dari kondisi mendasar yang mempengaruhi pernapasan dan darah. 

Sementara itu, penyebab hiperkapnia adalah produksi karbon dioksida yang berlebihan atau pengurangan penghembusan karbon dioksida dari paru-paru. Nah, beberapa penyakit dalam atau faktor risiko tertentu dapat menjadi penyebab timbulnya gejala hiperkapnia. 

Gangguan Penyakit Dalam Penyebab Hiperkapnia

Jenis penyakit atau masalah kesehatan tertentu dapat memicu hiperkapnia, berikut di antaranya: 

1. Perubahan Metabolik

Penyakit, infeksi, dan trauma berat dapat menyebabkan perubahan metabolisme tubuh, yang dapat mengakibatkan produksi CO2 berlebih. Jika pernapasan seseorang tidak dapat mengejar kebutuhan untuk mengeluarkan CO2 dari tubuhnya, orang tersebut dapat mengembangkan tingkat CO2 darah yang meningkat. Penyebab produksi CO2 berlebih meliputi:

  • Penyakit parah, infeksi, atau trauma.
  • Hipotermia (suhu tubuh terlalu rendah).
  • Scuba diving (karena perubahan tekanan).
  • Pengaturan yang tidak tepat pada ventilator.

2. Penyakit Paru-paru Tertentu

Sejumlah penyakit paru-paru biasanya mempengaruhi aliran udara dan aliran darah di paru-paru. Ketika penyakit di paru-paru mempengaruhi aliran udara dan aliran darah secara tidak seimbang, kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian ventilasi/perfusi (V/Q). Nah, ketidaksesuaian ventilasi/perfusi (V/Q) dapat mengganggu pembuangan CO2 dari tubuh. 

Ada beberapa penyakit paru-paru yang dapat menimbulkan penumpukan gas CO2 dalam tubuh, yaitu: 

  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
  • Bronkiektasis.
  • Emfisema.
  • Penyakit paru interstisial (termasuk fibrosis paru).
  • Fibrosis kistik.

COPD adalah penyebab utama hiperkapnia. Namun, pengidap PPOK yang mencapai stadium akhir atau sudah parah mungkin tidak akan mengalami hiperkapnia.

3. Kelemahan Otot

Penyakit neuromuskular yang menyebabkan kelemahan otot seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dan distrofi otot dapat memicu kesulitan bernapas. Akibatnya, seseorang yang memiliki kondisi tersebut rentan mengalami penumpukan kadar CO2 dalam darah. 

4. Gangguan Otak

Kondisi yang mengganggu kemampuan otak untuk mengatur pernapasan juga dapat menyebabkan akumulasi CO2 dalam darah (hipoventilasi sentral). Ada beberapa kondisi yang dapat menghambat kontrol pernapasan manusia, yaitu:

  • Stroke batang otak. Stroke batang otak adalah hasil dari gangguan aliran darah di dalam arteri kecil di belakang leher dan otak, seperti arteri basilar atau arteri vertebralis kanan atau kiri.
  • Overdosis obat. Penggunaan beberapa jenis obat untuk mengatasi kecemasan secara berlebihan juga dapat menghambat fungsi otak dalam mengontrol pernapasan. Adapun contoh dari obat-obatan tersebut adalah opioid atau benzodiazepin. 
  • Gangguan sistem saraf. Salah satu gangguan saraf yang dimaksud adalah ensefalitis (infeksi otak) yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Misalnya infeksi virus herpes simpleks tipe 1 dan 2 Arbovirus, yang ditularkan dari serangga seperti kutu atau nyamuk yang terinfeksi. 

Faktor Lain yang juga Dapat Meningkatkan Risikonya

Beberapa faktor risiko hiperkapnia, antara lain:

  • Kebiasaan merokok.
  • Faktor usia, karena banyak kondisi yang menyebabkan hiperkapnia bersifat progresif dan biasanya tidak mulai menunjukkan gejala sampai setelah usia 40 tahun.
  • mengidap asma, terutama jika kamu juga merokok.
  • Menghirup asap atau bahan kimia di lingkungan tempat kerja, seperti pabrik, gudang, atau pabrik listrik atau kimia. 

Itulah beberapa penyakit dalam yang dapat menyebabkan hiperkapnia. Hiperkapnia ringan sulit dikenali karena gejalanya bersifat nonspesifik. Misalnya seperti sakit kepala, kelelahan, dan otot berkedut. Karena itu, pastikan untuk periksakan kondisi kesehatan secara berkala agar hiperkapnia dapat terdeteksi sedari dini. 

Melalui aplikasi Halodoc kamu bisa membuat janji temu dokter di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2023. Hypercapnia: What Is It and How Is It Treated?
Verywell Health. Diakses pada 2023. An Overview of Hypercapnia.