4 Kebiasaan Buruk yang Tingkatkan Risiko Alami Difteri

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Difteri adalah infeksi bakteri serius yang biasanya memengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan. Difteri biasanya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar, dan tubuh menjadi terasa lemah. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae, yang terdiri dari tiga biotipe bakteri (gravis, mitis, dan intermedius). Meski demikian, masing-masing biotipe bervariasi dalam tingkat keparahan penyakit yang dihasilkannya. 

Bakteri Corynebacterium diphtheriae menyebabkan penyakit dengan menyerang jaringan-jaringan yang melapisi tenggorokan dan memproduksi toksin difteri. Toksin tersebut merupakan suatu zat yang menghancurkan jaringan dan mengarah pada pengembangan karakteristik pseudomembran yang melekat dari difteri pernapasan. 

Toksin difteri dapat diserap dan disebarluaskan melalui darah dan sistem limfatik ke organ lain yang jauh dari infeksi awal, yang menyebabkan gejala sisa sistemik yang lebih parah (kondisi patologis akibat penyakit, cedera, atau serangan sebelumnya). Difteri kulit biasanya disebabkan oleh organisme yang tidak memproduksi racun, sehingga menyebabkan bentuk penyakit yang lebih ringan.

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Risiko Meningkat saat Tertular

Difteri ditularkan oleh orang yang terinfeksi dan pembawa asimtomatik (orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala). Penularan terjadi melalui inhalasi sekresi pernapasan melalui udara atau melalui kontak langsung dengan sekresi nasofaring yang terinfeksi atau luka kulit. Meskipun jarang terjadi, infeksi dapat menyebar melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi oleh orang yang terinfeksi.

Orang-orang yang berisiko tinggi mengalami difteri termasuk:

  1. Orang yang tidak diimunisasi atau diimunisasi tidak lengkap, kemudian terpapar oleh orang yang terinfeksi difteri.
  2. Orang yang memiliki masalah sistem kekebalan tubuh
  3. Orang yang hidup dalam kondisi yang tidak higienis dan penuh sesak
  4. Traveler yang berkunjung ke daerah-daerah tertentu yang diketahui memiliki difteri seperti Asia Tenggara dan Eropa Timur.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Difteri akan semakin berbahaya jika tidak diobati dan dapat menyebabkan :

  • Masalah pernapasan. Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan racun. Toksin ini merusak jaringan di area infeksi langsung, biasanya, hidung dan tenggorokan. Infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri dan zat-zat lainnya. Membran ini bisa menghambat pernapasan.
  • Kerusakan jantung. Toksin difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di tubuh, seperti otot jantung, menyebabkan komplikasi seperti peradangan otot jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis mungkin sedikit, muncul sebagai kelainan minor pada elektrokardiogram yang menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin itu juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Target yang khas adalah saraf ke tenggorokan, yaitu ketika konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Saraf pada lengan dan tungkai juga bisa meradang, menyebabkan kelemahan otot. Jika racun C diphtheria merusak saraf yang membantu mengendalikan otot yang digunakan dalam bernafas, otot-otot ini dapat menjadi lumpuh. 

Dengan perawatan, kebanyakan orang dengan difteri dapat selamat dari komplikasi ini, tetapi pemulihannya sering kali berjalan lambat. Difteri berakibat fatal pada sebanyak 3 persen dari mereka yang mengalami penyakit ini.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Saat ini, penyakit ini tidak hanya dapat diobati tetapi juga dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan batuk rejan (pertusis). Vaksin three-in-one dikenal sebagai vaksin difteri, tetanus, dan pertusis. Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin DTaP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa.

Vaksin difteri efektif untuk mencegah difteri. Namun, mungkin ada beberapa efek samping. Beberapa anak mungkin mengalami demam ringan, kerewelan, kantuk atau kelembutan di tempat suntikan setelah suntikan DTaP. Tanyakan kepada dokter melalui aplikasi Halodoc mengenai apa yang dapat dilakukan untuk anak agar meminimalkan atau menghilangkan efek ini.

Referensi:

Health Line. Diakses pada 2019. Diphtheria

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria