4 Penyebab Dyspraxia yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
penyebab dyspraxia

Halodoc, Jakarta - Si Kecil tumbuh dengan perkembangan yang baik merupakan kebahagiaan bagi setiap orangtua. Namun, ketika Si Kecil mengidap masalah pada pertumbuhan dan terlambat diketahui, hal ini akan berbahaya bagi tumbuh kembangnya. Dyspraxia merupakan salah satu gangguan yang sering terjadi pada Si Kecil. Kenali penyebabnya, agar ibu dapat menghindarinya.

Baca juga: Kenali Tanda-Tanda Anak Terkena Dyspraxia

Penyebab Dyspraxia yang Perlu Diketahui

Gangguan perkembangan yang satu ini terjadi karena adanya gangguan pada salah satu saraf atau bagian otak yang mengoordinasi gerak tubuh. Belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab pasti dari dyspraxia, tetapi beberapa faktor risiko memengaruhi terjadinya kondisi ini. Di antaranya:

  1. Memiliki riwayat dyspraxia pada salah satu anggota keluarga.

  2. Kelahiran prematur sebelum mencapai usia 37 minggu.

  3. Si Kecil lahir dengan berat badan di bawah normal.

  4. Ibu yang mengonsumsi alkohol dan narkotika ketika tengah mengandung.

Ibu dapat mencegah dyspraxia dengan menghindari sejumlah faktor risikonya dengan selalu menjaga kesehatan kandungan dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang. Jangan lupa untuk selalu melakukan pemeriksaan kandungan rutin di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Pemeriksaan kandungan rutin akan mencegah Si Kecil dari sejumlah risiko kehamilan berbahaya.

Baca juga: Bagaimana Cara Diagnosis Dyspraxia?

Anak dengan Dyspraxia, Apa Gejala yang Ditimbulkan?

Si Kecil dengan dyspraxia aka ditandai dengan sejumlah gejala, seperti:

  • Si Kecil memiliki pola tidur yang kurang baik. 

  • Si Kecil kesulitan dalam menjalankan instruksi yang diberikan ibu.

  • Si Kecil mudah marah.

  • Si Kecil memiliki kemampuan menulis yang kurang baik.

  • Si Kecil susah dalam berkonsentrasi.

  • Si Kecil kesulitan dalam mengoordinasikan gerak tubuh.

  • Si Kecil memiliki kemampuan gerak motorik yang lemah.

  • Si Kecil tidak tertarik terhadap permainan yang membutuhkan imajinasi.

  • Si Kecil haus akan perhatian.

  • Si Kecil tidak mampu duduk dengan tenang.

Jika gejala dapat diketahui dengan segera, maka dokter dapat melakukan penanganan dengan tepat. Penanganan yang dilakukan biasanya tergantung pada seberapa parah kondisi yang dialami oleh Si Kecil. Gejala yang diketahui lebih cepat akan meminimalisir terjadinya komplikasi yang membahayakan bagi perkembangan Si kecil.

Baca juga: Jenis-Jenis Dyspraxia yang Perlu Diketahui 

Langkah Penanganan Dyspraxia

Si Kecil dengan dyspraxia akan menjalani beberapa terapi guna mengurangi gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Biasanya, dokter akan menyarankan beberapa terapi dilakukan, terapi tersebut meliputi:

  • Terapi perilaku kognitif, yaitu terapi yang dilakukan dengan menggabungkan terapi perilaku dan terapi kognitif. Terapi ini bertujuan untuk mengubah pola pikir dan respon Si Kecil agar menjadi lebih positif.

  • Terapi okupasi, yaitu perawatan yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu pengembangan diri Si Kecil. Dalam hal ini, Si Kecil akan diajarkan untuk membaca, berhitung, ataupun bersosialisasi kepada teman sebayanya.

Teknik dan cara pendekatan yang dilakukan akan berbeda-beda pada setiap peserta terapi. Dalam hal ini, dukungan orang-orang terdekat akan dibutuhkan agar peserta dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Diagnosis dini juga diperlukan untuk memantau kondisi pengidap secara rutin dan mencegah dyspraxia menjadi semakin parah.

Pencegahan yang tepat sulit dilakukan karena belum diketahui pasti apa penyebab yang mendasari. Gangguan yang satu ini tidak dapat disembuhkan hingga Si Kecil dewasa. Namun, kesulitan dan keterbatasan Si Kecil dapat diatasi dengan serangkaian terapi yang dijalani sejak dini, sehingga Si Kecil dapat hidup dengan normal seperti anak seusianya.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Dyspraxia.
NHS. Diakses pada 2019. Developmental Coordination Disorder (Dyspraxia) in Children.