• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi dengan Sehat
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi dengan Sehat

5 Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi dengan Sehat

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 18 Agustus 2022

“Berkompetisi dengan sehat bisa diajarkan melalui pola asuh yang tepat. Pertama, temukan motivasi anak. Kemudian, mendorongnya fokus pada tujuan, mengajarkannya menerima kekalahan dan mengembangkan keahliannya.”

5 Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi dengan Sehat5 Cara Mengajarkan Anak untuk Berkompetisi dengan Sehat

Halodoc, Jakarta – Kompetisi adalah proses seseorang berusaha untuk mencapai kemenangan atau tujuan. Proses ini terjadi ketika ada beberapa pihak yang memperebutkan tujuan yang sama.

Mereka saling berlomba dengan melakukan persaingan sehat. Sikap kompetitif ini bisa dibentuk sejak kecil melalui pola asuh anak yang tepat dari kedua orang tua.

Anak yang tumbuh dengan sifat kompetitif memiliki keinginan tinggi untuk berhasil. Mereka juga tidak akan membiarkan diri sendiri tenggelam oleh prestasi orang lain di sekitarnya. 

Namun, jika orang tua menanamkan sikap kompetitif yang salah, ini justru mengajarkan anak untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Mulai dari curang hingga menyakiti lawan.

Cara Mengajarkan Anak Berkompetisi

Orang tua perlu memberikan arahan yang benar karena anak bisa saja berpikir bahwa perlombaan harus selalu dimenangkan. Alhasil, mereka mungkin akan menganggap lawan adalah musuh sebenarnya, bahkan setelah perlombaan selesai.

Katakan padanya, menang atau kalah adalah hal wajar dalam perlombaan. Dengan kekalahannya, anak bisa belajar meninjau strategi untuk menghadapi lawan.

Cara mengajarkan anak berkompetisi selanjutnya bisa dilakukan dengan:

1. Menemukan Motivasi Anak

Setiap anak memiliki motivasi yang berbeda dalam berkompetisi. Meski umumnya fokus untuk menang, beberapa anak lainnya justru melakukan perlombaan dengan tujuan bersenang-senang atau mempelajari keterampilan baru.

2. Dorong Anak Fokus pada Tujuan

Jika motivasinya adalah menang, orang tua bisa mendorong anak fokus pada tujuannya. Dukungan yang bisa diberikan adalah memasukkan anak ke lembaga tertentu untuk mendalami keahliannya.

Jangan lupa juga memberikan dukungan moril dengan hadir menyaksikan perlombaan yang dilakukan. Langkah ini secara langsung bisa menumbuhkan semangat anak untuk menang.

3. Menumbuhkan Persaingan Sehat

Jika orang tua memiliki anak lebih dari satu, ajarkan mereka untuk memberikan selamat kepada saudara kandung atas kemenangan dan keberhasilannya. Saat memperoleh juara satu di kelas, misalnya.

Ajarkan mereka bahwa mengucapkan selamat bukan berarti kalah. Tapi, mengapresiasi keberhasilan saudaranya. Ini bisa mendorong mereka agar lebih bersemangat dalam mencapai keberhasilan. 

4. Fokus Mengembangkan Kemampuan Diri

Tak perlu berpikir bagaimana cara membuat lawan menjadi kalah. Sebab, ini justru membuat anak lupa tentang kelebihan dalam dirinya yang harus ditingkatkan. Fokus saja dengan mengembangkan kemampuan diri untuk jadi lebih baik.

Fokus memikirkan cara melemahkan lawan tidak menjamin kemenangan. Apalagi jika anak tidak mempersiapkan dirinya dengan baik. 

5. Mengapresiasi Keberhasilan Anak

Semangat dan prestasi memang harus didukung dengan apresiasi dari orang tua. Jika anak berhasil mencapai tujuannya, orang tua bisa memberikan barang yang mereka butuhkan atau inginkan.

Ini jadi salah satu cara mendukung sekaligus meningkatkan keinginan anak agar bisa menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. 

Itulah beberapa cara mengajarkan anak agar bisa berkompetisi secara sehat. Selain fokus untuk meraih tujuan, orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan tubuhnya.

Jika anak mengalami gangguan kesehatan, segera tanya dokter untuk melakukan langkah perawatan. Terkait dengan informasi lain seputar kesehatan dan pola asuh anak, silakan download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
INC. Diakses pada 2022. 8 Expert Tips to Make Your Kids More Competitive and Successful.
Parents. Diakses pada 2022. Why Competition Is Good for Kids (and How to Keep It That Way).