• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Fakta tentang Lewy Body Dementia yang Terjadi pada Lansia

5 Fakta tentang Lewy Body Dementia yang Terjadi pada Lansia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Demensia adalah penyakit yang umum terjadi pada lansia. Namun, ada satu jenis demensia yang bisa dibilang punya gejala yang cukup berbeda dengan demensia pada umumnya, yaitu lewy body dementia. Baru-baru ini, terungkap bahwa penyakit tersebut ternyata diidap oleh mendiang komedian Robin Williams. Hal ini diungkapkan dalam film dokumenter berjudul Robin’s Wish, dikutip dari laman Today


Williams diketahui meninggal karena bunuh diri pada 2014 lalu, dan saat itu keluarganya belum mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada aktor kawakan tersebut, hingga hasil otopsi keluar. Lewy body dementia yang diidap Williams membuatnya mengalami gangguan kecemasan dan gangguan motorik. 


Baca juga: Lewy Body Dementia dan Alzheimer, Apa Bedanya?




Fakta tentang Lewy Body Dementia

Cara agar lebih memahami tentang penyakit ini, berikut ini fakta tentang lewy body dementia, seperti dikutip dari Lewy Body Dementia Association:


1.Merupakan Jenis Paling Umum Kedua dari Demensia Degeneratif

Selain Alzheimer, lewy body dementia adalah jenis demensia yang paling sering terjadi. Kondisi ini terjadi ketika penumpukan protein yang bernama lewy body, terbentuk di sel saraf otak yang mengatur cara berpikir, daya ingat, dan gerakan tubuh (motorik). Berbeda dengan jenis demensia lain, lewy body dementia dapat menyebabkan penurunan drastis pada kemampuan mental pengidapnya. 


2.Memiliki Tiga Presentasi Umum

Terlepas dari gejala awalnya, seiring waktu ketiga presentasi lewy body dementia akan mengembangkan fitur kognitif, fisik, tidur dan perilaku yang sangat mirip, yaitu:




  • Pada beberapa kasus, gejala dimulai dengan gangguan motorik yang mengarahkan ke diagnosis penyakit Parkinson dan kemudian berkembang menjadi demensia. Kondisi ini sering didiagnosis sebagai penyakit Parkinson demensia.
  • Beberapa kasus lainnya dimulai dengan gangguan kognitif atau memori, yang mungkin disalahartikan sebagai Alzheimer, tetapi seiring waktu dua atau lebih ciri khas menjadi jelas yang mengarah ke diagnosis lewy body dementia.
  • Terakhir, pada beberapa kasus yang cukup jarang, pertama kali akan muncul dengan gejala neuropsikiatri, yang mencakup halusinasi, gangguan perilaku, dan kesulitan dengan aktivitas mental yang kompleks, yang mengarahkan pada diagnosis awal lewy body dementia.


Baca juga: Ini Alasan Pengidap Demensia Bisa Kena Lewy Body Dementia


3.Memiliki Gejala Bervariasi yang Mencakup Halusinasi

Lewy body dementia punya gejala yang cukup bervariasi. Beberapa di antaranya mencakup halusinasi dan penurunan kemampuan mental. Berikut beberapa gejala yang dimaksud:




  • Halusinasi visual. Bisa berupa melihat seseorang, hewan, atau bentuk-bentuk tertentu yang sebenarnya tidak ada. Terkadang, bisa juga terjadi halusinasi suara, penciuman, atau rabaan.
  • Gangguan gerak tubuh. Mirip dengan gejala penyakit Parkinson, seperti gerakan tubuh yang melambat, otot yang kaku, tremor, atau cara berjalan yang diseret.
  • Gangguan fungsi tubuh yang berkaitan dengan sistem saraf otonom. Sistem saraf yang sering terpengaruh oleh lewy body dementia umumnya adalah sistem saraf otonom yang mengatur tekanan darah, denyut nadi, produksi keringat, dan sistem pencernaan. Hal ini membuat pengidapnya sering pusing, terjatuh, dan mengalami masalah pencernaan seperti misalnya sembelit.
  • Gangguan kognitif. Pengidap lewy body dementia akan mengalami gangguan berpikir (kognitif) mirip dengan pengidap Alzheimer, seperti linglung, tak bisa memusatkan perhatian, masalah visual-spasial, dan hilangnya memori.
  • Gangguan tidur. Umumnya berupa gangguan tidur fase REM (rapid eye movement) yang bisa membuat tubuh bergerak mengikuti mimpi saat sedang tidur.
  • Sulit memusatkan perhatian. Terkadang mendadak mengantuk, terdiam dan melihat ke suatu titik dalam waktu lama, tidur siang dalam waktu lama, dan berbicara ngawur.
  • Depresi. Beberapa pengidap lewy body dementia juga mengalami depresi.


Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala tersebut, segera download aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit. Tujuannya agar bisa segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan, jika memang benar terjadi lewy body dementia.


Baca juga: 6 Tanda Lewy Body Dementia di Usia 50an


4.Diagnosis Dini Sangat Penting

Diagnosis dini dan akurat sangat penting karena pengidap lewy body dementia dapat bereaksi terhadap obat tertentu secara berbeda, dari pengidap Alzheimer atau penyakit Parkinson. Untuk mendiagnosis lewy body dementia, dokter biasanya perlu melakukan beberapa hal berikut:




  • Pengecekan gejala yang dialami, misalnya apakah ada gejala-gejala yang yang merupakan ciri khas lewy body dementia.
  • Penilaian kemampuan mental, dengan memberi sejumlah pertanyaan.
  • Tes darah, untuk memastikan gejala yang dialami tidak disebabkan oleh kondisi medis lain.
  • Scan otak, dengan MRI, CT scan, atau SPECT, yang bisa mendeteksi sinyal demensia dan masalah lain di otak. 


5.Pendampingan Keluarga Sangat Dibutuhkan

Dukungan dan pendampingan keluarga sangat dibutuhkan pengidap lewy body dementia. Jika anggota keluarga atau orang tercinta ada yang mengidap kondisi ini, beri perhatian khusus. Cegah ia terjatuh, hilang kesadaran, atau mengalami efek samping negatif dari obat-obatan yang diberikan dokter.


Dampingi juga pengidap lewy body dementia ketika sedang mengalami linglung, delusi, atau halusinasi. Lebih jelasnya, kamu bisa tanyakan pada dokter, tentang saran atau tips perawatan apa yang bisa dilakukan untuk pengidap lewy body dementia.





Referensi:
Today What is Lewy body dementia? Robin Williams' illness explained.
Lewy Body Dementia Association. 10 Things You Should Know about LBD.
NHS Choices UK. Dementia with Lewy bodies.
Mayo Clinic. Lewy body dementia - Symptoms and causes.