5 Faktor Risiko Bayi Alami Necrotizing Enterocolitis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
5 Faktor Risiko Bayi Alami Necrotizing Enterocolitis

Halodoc, Jakarta – Necrotizing Enterocolitis, atau NEC, adalah penyakit serius yang menyerang usus bayi dengan kelahiran prematur. Ini biasanya terjadi dalam dua minggu pertama kehidupan si bayi yang diberi susu formula bukan ASI.

Pada kondisi ini, bakteri menyerang dinding usus, sehingga menyebabkan peradangan. Peradangan tersebut berdampak timbulnya celah celah yang memungkinkan kuman jahat masuk ke dalam perut. Jika tidak diobati, situasi ini dapat menyebabkan infeksi serius, bahkan kematian. Yuk, cari tahu faktor risiko bayi bisa mengalami Necrotizing Enterocolitis!

Baca juga: Alasan Necrotizing Enterocolitis Terjadi di Kelahiran Prematur 

Kondisi yang Bisa Menyebabkan Necrotizing Enterocolitis

Bisa dibilang Necrotizing Enterocolitis ini adalah kondisi langka yang hanya memengaruhi satu dari 2000-4000 kelahiran bayi. Kondisi ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir, tetapi paling umum pada bayi prematur dengan berat kurang dari 1,5 kilogram.

Lantas, kondisi seperti apa lagi yang dapat menyebabkan Necrotizing Enterocolitis?

  1. Bayi prematur yang diberi susu formula melalui mulut atau tabung.

  2. Bayi dengan persalinan sulit sehingga menurunkan kadar oksigen. 

  3. Bayi yang memiliki terlalu banyak sel darah merah dalam sirkulasi.

  4. Bayi dengan infeksi gastrointestinal.

  5. Bayi yang sakit parah dan mereka yang menerima transfusi darah.

Bila ditanyakan bagaimana gejala maupun tanda-tandanya, tidak pernah ada yang sama pada setiap anak. Namun, dari sisi medis gambaran umum yang bisa dirangkumkan adalah: 

  1. Perut bengkak atau kembung;

  2. Makanan tetap berada di perut dan tidak bergerak ke usus;

  3. Terdapat cairan hijau di perut;

  4. Kotoran berdarah; dan

  5. Kesulitan bernapas, detak jantung rendah, atau lamban.

Jika ibu memiliki bayi dengan kondisi medis mirip gejala Necrotizing Enterocolitis, bisa langsung tanyakan ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orang tua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Setelah mengetahui gejalanya, dokter akan melakukan diagnosis untuk memastikan kalau bayi memang mengalami Necrotizing Enterocolitis. Adapun pemeriksaannya akan melalui rontgen perutnya dan melakukan beberapa tes darah di unit perawatan intensif neonatal. 

Jika anak memang mengalami Necrotizing Enterocolitis, Sinar-X akan menunjukkan gelembung gas atau udara di dinding ususnya. Dokter juga dapat memasukkan jarum ke perut bayi. Jika ada kebocoran cairan, itu pertanda ada lubang di ususnya. 

Tes darah untuk bayi dengan kondisi Necrotizing Enterocolitis akan menunjukkan jumlah darah putih yang rendah. Itu berarti kemampuan bayi untuk melawan infeksi melemah. Lantas, apa yang harus dilakukan jika bayi memang benar mengalami Necrotizing Enterocolitis?

Baca juga: Bayi Alami Necrotizing Enterocolitis, Perlukah Operasi?

Perawatan bayi dengan kondisi ini tergantung dengan bagaimana kesehatan bayi secara keseluruhan, riwayat kesehatan, dan seberapa jauh infeksi telah menyebar. Dokter akan menyarankan untuk melakukan hal-hal berikut:

  1. Hentikan menyusui;

  2. Masukkan selang melalui hidung dan ke perutnya untuk mengeluarkan cairan dan biarkan perutnya kosong;

  3. Mulai cairan IV untuk membuat bayi tidak kehilangan gizi dan tetap terhidrasi;

  4. Berikan antibiotik untuk melawan infeksi;

  5. Lakukan rontgen reguler untuk memantau kondisi;

  6. Berikan oksigen ekstra atau mesin pernapasan jika perutnya terlalu bengkak sehingga dia tidak bisa bernapas sendiri; dan

  7. Jauhkan bayi dari bayi lain untuk menghentikan penyebaran Necrotizing Enterocolitis.

Biasanya setelah infeksi hilang pada kurun waktu 5–7 hari, bayi dapat mulai menyusu lagi melalui mulut.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What is Necrotizing Enterocolitis?
Science Direct. Diakses pada 2019. Risk Factors for Necrotizing Enterocolitis in Neonates: A Retrospective Case-Control Study.