• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Metode untuk Mendiagnosis Inkontinensia Urine

5 Metode untuk Mendiagnosis Inkontinensia Urine

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mengalami kondisi ketika tidak dapat menahan pipis yang akhirnya menyebabkan kamu mengompol? Sebaiknya jangan sepelekan masalah ini. Gangguan pada bagian kandung kemih ini bisa dikategorikan sebagai inkontinensia urine. 

Baca juga: Enggak Sengaja Ngompol, Tekanan Sebabkan Inkontinensia Urine?

Inkontinensia urine terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan atau bahkan tidak dapat menahan urine yang keluar dari kandung kemih. Meskipun bukan kondisi yang terbilang berbahaya, namun kondisi inkontinensia urine yang tidak diatasi dapat berdampak pada psikologis seseorang karena merasa malu. Umumnya, inkontinensia urine dialami oleh lansia dan juga lebih sering dialami wanita dibandingkan pria.

Ketahui Penyebab Inkontinensia Urine dari Jenisnya

Penyebab inkontinensia urine sangat beragam dan dapat berbeda pada setiap orang. Berikut ini beberapa penyebab terjadinya inkontinensia urine, yaitu:

1. Stress Incontinence

Inkontinensia urine jenis ini akan kesulitan menahan urine ketika kandung kemih tertekan. Ada beberapa penyebab tekanan, seperti batuk yang keras, bersin, tertawa terlalu keras, dan mengangkat beban. Stress incontinence disebabkan otot saluran kemih terlalu lemah untuk menahan tekanan. Ada beberapa faktor yang membuat otot saluran kemih melemah, seperti proses persalinan, obesitas, dan komplikasi pascaoperasi.

2. Urge Incontinence

Jenis ini membuat pengidap inkontinensia tidak dapat menunda buang air kecil. Umumnya, mendengar suara aliran air dan perubahan posisi tubuh memicu keinginan untuk buang air kecil. Kontraksi pada kandung kemih yang berlangsung secara berlebihan dapat sebabkan seseorang alami kondisi ini. Kontraksi kandung kemih dapat dipicu oleh pengonsumsian kafein, soda, alkohol serta pemanis buatan.

3. Overflow Incontinence

Umumnya, pengidap inkontinensia urine jenis ini dapat mengeluarkan urine dalam jumlah yang sedikit dan secara tiba-tiba. Kondisi ini terjadi akibat kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara benar-benar kosong.

4. Inkontinensia Total

Kondisi ini membuat pengidap inkontinensia tidak dapat menahan urine sama sekali. Pengidap jenis ini akan mengompol secara terus menerus. Umumnya, inkontinensia total disebabkan kelainan struktur kemih atau panggul sejak dilahirkan.

Baca juga: Ngompol saat Dewasa,Gejala Inkontinensia Urine?

Pemeriksaan yang Bisa Dilakukan untuk Diagnosis Inkontinensia Urine

Meskipun tidak berbahaya, sebaiknya segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk mengatasi masalah inkontinensia urine yang dialami. Kondisi yang tidak segera diatasi dapat membuat gejala yang lebih parah, seperti salah satu bagian tubuh yang terasa lemas, gangguan berjalan, gangguan berbicara, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran.

Ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan ketika pasien dicurigai mengalami inkontinensia urine, salah satunya pemeriksaan bagian panggul. Ketahui pemeriksaan lain untuk menunjang hasil kesehatan, seperti:

1. Tes Urine

Tes ini dilakukan untuk mendeteksi gangguan saluran kemih.

2. Pengukuran Jumlah Urine

Pengukuran jumlah urine untuk memastikan kondisi kandung kemih kosong setelah pembuangan urine.

3. USG Saluran Kemih

Kelainan struktur kemih yang dialami perlu dilakukan USG pada bagian saluran kemih untuk memastikan penyebab inkontinensia urine.

4. Sistoskopi

Sistoskopi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan bantuan alat agar kondisi kandung kemih dapat dilihat lebih jelas.

5. Pemeriksaan Urodinamik

Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemasangan selang kateter ke dalam kandung kemih untuk memastikan kekuatan otot kandung kemih dalam menampung cairan.

Baca juga: Orang Dewasa Sering Mengompol, Gangguan Psikologi?

Jangan khawatir, penyakit inkontinensia urine dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat. Mengonsumsi makanan yang mengandung serat tinggi, menjaga berat badan agar tetap ideal, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, dan rutin melakukan olahraga seperti senam kegel atau yoga dapat dilakukan sebagai pencegahan dari inkontinensia urine.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence
NHS. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence