6 Faktor yang Tingkatkan Risiko Dermatitis Herpetiformis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
6 Faktor yang Tingkatkan Risiko Dermatitis Herpetiformis

Halodoc, Jakarta – Dermatitis herpetiformis merupakan jenis penyakit autoimun yang menyerang kulit manusia. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab pasti dari penyakit ini, tetapi ada beberapa faktor yang disebut bisa meningkatkan risiko dermatitis herpetiformis. Penyakit yang ditandai dengan ruam gatal ini berkaitan dengan gluten-sensitive enteropathy (GSE). 

Setelah diamati, penyakit ini ternyata berkaitan dengan faktor genetika dan gaya hidup. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh alias imun bereaksi terhadap gluten yang dicerna tubuh. Melalui pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa gejala penyakit dermatitis herpetiformis cenderung berkurang secara signifikan saat seseorang mengurangi atau tidak mengonsumsi gluten sama sekali. 

Baca juga: Konsumsi Gluten Sebabkan Dermatitis Herpetiformis?

Mengetahui Faktor Risiko Penyakit Dermatitis Herpetiformis 

Gangguan kulit ini merupakan jenis penyakit yang langka atau jarang terjadi. Umumnya, dermatitis herpetiformis menyerang pria dan wanita pada usia 20–60 tahun. Penyakit ini ditandai dengan berbagai gejala yang menyerang kulit, seperti rasa gatal, melepuh, dan terbakar pada kulit. Gejala kulit terbakar juga bisa muncul di kulit kepala, wajah, siku, lengan bawah, lutut, bahu, punggung, dan bokong. 

Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit dermatitis herpetiformis. Penyakit autoimun ini rentan menyerang orang yang memiliki: 

  1. Penyakit diabetes tipe 1

  2. Riwayat keluarga, yaitu memiliki anggota keluarga yang mengidap penyakit celiac atau dermatitis herpes.

  3. Sindrom down atau sindrom turner.

  4. Mengidap penyakit kelenjar tiroid.

  5. Kolitis.

  6. Memiliki riwayat atau mengidap sindrom sjogren.

Pada kondisi yang masih tergolong ringan, dermatitis herpetiformis umumnya bisa disembuhkan. Namun, penyakit ini tidak boleh dianggap sepele begitu saja jika sudah disertai dengan beberapa gejala, seperti diare berkepanjangan, kulit pucat, dan mudah teriritasi. Pengobatan untuk penyakit ini bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, tergantung pada tingkat keparahan penyakitnya.

Umumnya, pengobatan penyakit ini dilakukan dengan merendam kulit yang gatal dengan air dingin. Cara ini dilakukan untuk meredakan bengkak, rasa gatal, dan melakukan diet gluten. Kondisi ini juga bisa ditangani dengan konsumsi obat-obatan tertentu yang juga berguna untuk mengurangi bengkak, kemerahan, serta mengurangi keparahan penyakit. 

Baca juga: Pengidap Dermatitis Herpetiformis Jauhi 9 Makanan Ini

Diagnosis penyakit ini dilakukan melalui rangkaian pemeriksaan. Mulainya, dokter akan memeriksa catatan medis dan mengamati gejala lepuhan yang muncul di permukaan kulit. Jika gejala yang muncul semakin parah dan tidak kunjung membaik, dokter biasanya akan menyarankan tes darah atau biopsi sel kulit. Dalam kondisi yang ringan, penyakit ini bisa ditangani dengan pengobatan di rumah.

Dermatitis herpetiformis bisa ditangani dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pengobatan di rumah. Cobalah untuk menggunakan obat-obatan, hindari makanan yang mengandung gluten, misalnya gandum, hindari aktivitas yang menyebabkan tubuh memproduksi banyak keringat, bersihkan kulit untuk mengurangi risiko. serta cuci pakaian, handuk, dan seprai secara teratur. Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit jika gejala-gejala yang muncul tidak kunjung membaik dan malah semakin buruk. Pengobatan segera bisa membantu mengurangi efek berbahaya dari dermatitis herpetiformis. 

Baca juga: Hubungan Sindrom Sjogren dengan Dermatitis Herpetiformis

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Dermatitis Herpetiformis and Gluten Intolerance
Medscape. Diakses pada 2019. Dermatitis Herpetiformis