• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 6 Mitos Anak Demam yang Tidak Perlu Dipercaya

6 Mitos Anak Demam yang Tidak Perlu Dipercaya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
6 Mitos Anak Demam yang Tidak Perlu Dipercaya

Halodoc, Jakarta - Ketika anak demam, ibu tentu khawatir apakah ada sesuatu yang parah terjadi pada Si Kecil. Padahal, demam anak tidak selalu berarti ada indikasi penyakit serius. Seringkali hal itu terjadi akibat sistem kekebalan yang sedang bekerja melawan kuman yang masuk ke tubuh. 

Menurut dokter anak, David Hornick, MD., seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic, demam mungkin tidak terasa bersahabat, tetapi itu belum tentu menjadi musuh. Ia juga mengatakan bahwa ada banyak mitos lama seputar demam anak yang sebenarnya perlu diluruskan. 

Baca juga: Inilah 5 Tanda Anak Demam yang Harus Dibawa ke Dokter

Berbagai Mitos Seputar Demam Anak yang Keliru

Meski demam anak tetap perlu diwaspadai, ibu tidak perlu terlalu panik dan termakan mitos-mitos yang beredar, yang sebenarnya keliru, berikut ini:

1.Semakin Tinggi Suhunya, Semakin Serius Penyakitnya

Suhu yang tinggi dapat mengindikasikan penyakit serius pada remaja dan orang dewasa, tetapi tidak selalu pada anak-anak berusia 12 tahun ke bawah. Menurut dr. Hornick, sistem kekebalan seorang anak belum sempurna, sehingga ia menyerang setiap kuman dengan kekuatan penuh. 

Itulah sebabnya anak-anak bisa mengalami demam tinggi karena flu biasa, sedangkan orang dewasa biasanya tidak. Jadi, tidak selalu angka di termometer menunjukkan suhu tinggi, penyakitnya serius.

2.Termometer Raksa dan Digital Sama Akuratnya

Faktanya, termometer digital lebih akurat, cepat, dan aman dibanding termometer raksa dalam mengukur suhu tubuh. Jadi, untuk mengukur suhu demam anak, sebaiknya gunakan termometer digital saja. 

3.Saat Anak Terasa Hangat, Berarti Ia Demam

Tubuh anak bisa terasa terasa hangat karena berbagai alasan. Misalnya, terlalu aktif bermain, menangis, bangun dari tempat tidur yang hangat atau cuaca yang panas. Secara alami, tubuh bisa saja mengeluarkan hawa panas karena aktivitas atau cuaca. 

Namun, suhu tubuh dapat kembali normal dalam waktu sekitar 20 menit setelahnya. Jadi, saat menyadari tubuh anak terasa hangat, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia demam. Sebab, ada berbagai kemungkinan penyebab seperti yang disebutkan tadi. 

Cobalah beri Si Kecil minum, lalu amati lagi suhunya beberapa waktu kemudian. Jika masih terasa hangat dan ingin lebih yakin, ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer. 

Baca juga: Alami Demam Saat Hamil? Ini Obat yang Aman

4.Demam Tinggi Pasti Menyebabkan Kejang

Berlawanan dengan kepercayaan populer, demam tinggi tidak selalu akan menyebabkan kejang. Kejang demam tidak disebabkan oleh demam tinggi, kata dr. Hornick. Melainkan karena peningkatan suhu secara tiba-tiba. 

Jadi, tidak perlu terlalu panik dan menurunkan demam anak untuk mencegah kejang. Sebab, anak-anak dapat mengalami kejang demam bahkan sebelum tahu bahwa mereka demam.

5.Semua Demam Perlu Diobati dengan Obat Demam

Faktanya, demam hanya perlu diobati jika menyebabkan ketidaknyamanan pada anak, atau jika suhunya mencapai 39 derajat Celcius atau lebih. Jika masih di bawah itu, cobalah perawatan rumahan seperti memberi anak minum dan istirahat yang cukup. 

Baca juga: Waspada Demam Naik Turun Tanda 3 Penyakit Ini

6.Setelah Turun Dengan Obat, Demam Tidak Akan Terjadi Lagi

Biasanya demam dengan sebagian besar infeksi virus berlangsung selama 2 atau 3 hari. Saat efek obat demam habis, demam akan kembali, dan perlu ditangani lagi. Demam akan hilang dan tidak kembali setelah tubuh berhasil mengalahkan virus yang menjadi penyebabnya. 

Itulah beberapa mitos seputar demam anak yang keliru dan tidak perlu dipercaya. Jika anak mengalami demam dan butuh obat, ibu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk membeli obat demam untuk anak. 

Kalau demam anak tak kunjung turun dengan obat demam dan perawatan rumahan, menunjukkan gejala dehidrasi, atau ada gejala lain yang menyertai, segera bawa anak ke dokter untuk diperiksa. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, demam anak umumnya bisa diatasi. 

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Your Child’s Fevers: 5 Common Myths Debunked.
Pediatric Associates of North Colorado. Diakses pada 2021. Fever - Myths Versus Facts.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2021. Fever in Children.