7 Faktor yang Meningkatkan Risiko Eklampsia pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
7 Faktor yang Meningkatkan Risiko Eklampsia pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya berjalan lancar tanpa ada gangguan. Meski begitu, beberapa gangguan mungkin saja menyerang saat kehamilan berlangsung. Salah satu penyakit yang dapat menyerang ibu hamil adalah eklampsia.

Eklampsia adalah sebuah serangan kejang yang hanya terjadi pada ibu hamil. Hal ini merupakan komplikasi yang terjadi setelah preeklampsia menyerang. Eklampsia dapat disebabkan oleh banyak hal. Berikut adalah beberapa faktor risiko eklampsia pada ibu hamil yang dapat terjadi!

Baca juga: Kenali Lebih Dalam Tentang Eklampsia

Faktor Risiko Eklampsia pada Ibu Hamil

Sebelum seorang ibu hamil mengalami eklampsia, preeklampsia akan terjadi lebih dahulu. Preeklampsia adalah sebuah komplikasi yang menyebabkan seorang wanita hamil mengalami tekanan darah tinggi dan tanda-tanda rusaknya sistem organ lain, seperti hati dan ginjal. Hal ini umumnya terjadi setelah 20 minggu kehamilan terjadi.

Wanita yang mengalami preeklampsia dapat mengalami komplikasi serius hingga fatal yang menyerang ibu hamil dan janin. Jika ibu terserang preeklampsia, perawatan yang paling ampuh adalah dengan melahirkan bayi yang dikandung. Setelah itu pun, ibu masih memerlukan waktu untuk pulih.

Jika preeklampsia yang terjadi tidak ditangani, eklampsia mungkin saja menyerang. Hal tersebut dapat menyebabkan ibu hamil mengalami kejang. Setelah itu, ibu juga berisiko mengalami penurunan kesadaran hingga koma. Gangguan ini harus segera diatasi, karena dapat mengancam nyawa sang ibu dan janin.

Agar dapat mencegah risiko eklampsia, ibu harus tahu hal yang dapat menyebabkannya. Beberapa faktor risiko dapat menyebabkan terjadinya eklampsia. Berikut adalah beberapa faktor risiko eklampsia pada ibu hamil:

  1. Wanita yang hamil saat berusia di atas 35 tahun.

  2. Seorang wanita yang hamil di bawah usia 20 tahun.

  3. Pernah mengalami eklampsia pada kehamilan sebelumnya.

  4. Mengalami hipertensi sebelum kehamilan terjadi.

  5. Terjadinya kehamilan kembar.

  6. Berat badan berlebih atau obesitas.

  7. Mengalami diabetes gestasional saat hamil.

Jika ibu merasa berisiko mengalami eklampsia, ibu bisa menghubungi dokter di Halodoc untuk mendapatkan saran yang tepat. Selain itu, ibu pun dapat membeli obat di Halodoc. Tanpa perlu keluar rumah, pesanan akan diantar dalam waktu satu jam.

Baca juga: Kehamilan Pertama Berisiko Alami Eklampsia, Benarkah?

Pengobatan terhadap Gangguan Eklampsia

Satu-satunya obat yang dapat mengatasi preeklampsia dan eklampsia yang mungkin terjadi adalah dengan melahirkan bayi yang dikandung. Dokter akan memberitahu waktu yang tepat untuk melahirkan, seberapa sehat janin di dalam kandungan, dan tingkat keparahan eklampsia yang terjadi.

Jika bayi telah berkembang cukup besar untuk dilahirkan, dokter akan melakukan induksi persalinan atau operasi caesar. Hanya persalinan yang dapat mengatasi gangguan pada kehamilan tersebut.

Setelah itu, jika perkembangan bayi belum cukup untuk dilahirkan, dokter mungkin akan merawat preeklampsia yang terjadi. Hal ini akan dilakukan hingga bayi di dalam kandungan cukup besar untuk dilahirkan dengan aman. Semakin dekat tanggal kelahiran dengan diagnosis gangguan tersebut, dampak negatif pada bayi pun akan semakin minim.

Jika gangguan preeklampsia yang terjadi masih dalam tahap ringan, atau disebut juga preeklampsia tanpa gejala berat, dokter akan merekomendasikan beberapa hal. Berikut adalah perawatan yang dapat dilakukan:

  • Perbanyak beristirahat di rumah atau rumah sakit dan saat istirahat disarankan untuk berpaling ke arah kiri.

  • Pengamatan yang cermat dengan alat monitor detak jantung pada janin serta ultrasonografi.

  • Pengobatan untuk menurunkan tekanan darah.

  • Pemeriksaan pada darah dan urine.

Baca juga: Adakah Pencegahan Efektif untuk Kondisi Eklampsia?

Referensi:
Mayo Clinic.Diakses pada 2019.Preeclampsia
WebMD.Diakses pada 2019.Preeclampsia and Eclampsia