• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 9 Faktor Penyebab Terjadinya Hidrosefalus

9 Faktor Penyebab Terjadinya Hidrosefalus

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Hidrosefalus sering jadi kondisi yang ditakutkan para orangtua, karena sering menyerang bayi dan anak-anak. Meski demikian, kondisi ini sebenarnya bisa terjadi pada orang dewasa. Seperti namanya, hidrosefalus terjadi ketika cairan otak (serebrospinal) memiliki kadar yang berlebihan.

Akibatnya, cairan yang berlebihan tersebut membuat kepala menjadi tampak membesar. Jika tidak ditangani, hidrosefalus dapat menyebabkan komplikasi serius. Lantas, apa saja faktor penyebab terjadinya hidrosefalus? Yuk, simak pembahasan lengkapnya!

Baca juga: Ini yang Terjadi di Dalam Kepala yang Terkena Hidrosefalus

Berbagai Faktor Penyebab Hidrosefalus yang Perlu Diketahui

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hidrosefalus. Baik yang terjadi saat kehamilan, ataupun setelah bayi dilahirkan. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Lahir prematur. Hal ini dapat membuat risiko perdarahan otak yang berujung pada hidrosefalus meningkat.
  2. Gangguan pada perkembangan janin, seperti kelainan tulang belakang.
  3. Infeksi yang terjadi pada rahim saat hamil, sehingga memicu peradangan jaringan otak pada janin.
  4. Terinfeksi virus saat hamil, seperti Cytomegalovirus (CMV), Rubella (campak Jerman), mumps, sifilis, dan toksoplasmosis.
  5. Tidak normalnya perkembangan sistem saraf pusat.
  6. Ada benjolan atau tumor pada tulang belakang atau otak.
  7. Infeksi pada sistem saraf pusat.
  8. Perdarahan di otak.
  9. Cedera pada otak.

Baca juga: Waspada, Ini Komplikasi dari Hidrosefalus

Cara Mendeteksi Hidrosefalus pada Bayi Sejak Dini

Hidrosefalus bisa dikenali dengan cara memerhatikan dan mengukur kepala bayi secara berkala. Berikut ini gejala umum hidrosefalus pada bayi yang bisa dikenali:

  • Ada benjolan di ubun-ubun bayi.
  • Ada jarak antara dua tulang tengkorak yang teksturnya belum sepenuhnya keras.
  • Ada peningkatan ukuran pada lingkar kepala bayi secara drastis.
  • Pembuluh nadi terlihat jelas dan tampak membengkak.
  • Kelopak mata bayi menurun (sunsetting).

Pada beberapa kasus hidrosefalus yang parah, bayi juga dapat menunjukkan gejala berupa mengantuk berlebihan, sangat rewel, muntah-muntah, hingga kejang. Jika tidak yakin dengan gejala hidrosefalus yang dialami bayi, gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, kapan dan di mana saja.

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatan untuk Hidrosefalus?

Cara untuk memastikan diagnosis hidrosefalus, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut ini:

  • Ultrasound (USG). Pada ibu hamil, pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk mendeteksi penyebab hidrosefalus. 
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Dengan menggunakan emeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran otak secara utuh dan mendetail. dengan menggunakan gelombang radio.
  • Computerized Tomography scan (CT Scan). Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk melihat pembesaran rongga otak.

Baca juga: Bisakah Hidrosefalus Dicegah Sebelum Bayi Lahir?

Setelah diagnosis hidrosefalus ditetapkan, hidrosefalus harus ditangani dengan cara operasi. Tujuan dilakukannya operasi untuk mengembalikan dan menjaga kadar cairan di dalam otak. Berikut ini pilihan metode operasi yang biasanya dilakukan pada pengidap hidrosefalus:

  • Pemasangan shunt. Shunt merupakan alat berupa selang khusus yang dipasang di dalam kepala. Tujuan dari prosedur operasi ini adalah untuk mengalirkan cairan otak ke bagian lain di tubuh (biasanya perut), agar mudah terserap oleh aliran darah. Pada beberapa kasus, shunt perlu dipasang untuk seumur hidupnya.
  • Endoscopic third ventriculostomy (ETV). Prosedur operasi ini dilakukan dengan cara membuat lubang baru di dalam rongga otak. Tujuannya adalah untuk membuat cairan di dalam otak dapat mengalir ke luar. Operasi jenis ini umumnya dilakukan pada kasus hidrosefalus yang disebabkan oleh penyumbatan di dalam rongga otak.

Itulah sedikit pembahasan mengenai faktor penyebab hidrosefalus, bagaimana mendeteksi, mendiagnosis, dan penanganannya. Karena harus segera ditangani, penting untuk mewaspadai gejala hidrosefalus. Bagi orangtua, jangan lupa untuk rutin mengukur lingkar kepala bayi sejak lahir, ya.

Dengan begitu, jika terjadi peningkatan ukuran lingkar kepala secara drastis, dapat segera diketahui. Jika hal tersebut terjadi, segeralah temui dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. What is Hydrocephalus, or Water on The Brain?
Kids Health. Diakses pada 2021. Hydrocephalus.