Ini Prosedur Pemeriksaan Uroflowmetri untuk Mendeteksi BPH

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Prosedur-Pemeriksaan-Uroflowmetri-untuk-Mendeteksi-BPH

Halodoc, Jakarta - Uroflowmetri merupakan sebuah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur jumlah dan kecepatan urine. Prosedur yang juga dikenal sebagai pemeriksaan uroflowmetri ini digunakan untuk mendiagnosis berbagai kondisi yang memengaruhi saluran kemih. Misalnya kesulitan buang air kecil dan buang air kecil yang lambat. 

Prosedur yang perlu dijalani saat melakukan pemeriksaan uroflowmetri  adalah buang air kecil di toilet atau urinoir yang dilengkapi dengan alat pengukur yang disebut uroflowmeter elektronik. Hal yang penting untuk diingat adalah pengidap diminta untuk buang air kecil seperti biasanya tanpa berusaha memperlambat atau mempercepat aliran urine. 

Dalam pemeriksaan tersebut, mesin akan secara otomatis mengukur beberapa hal berikut:

  • Jumlah urine yang dikeluarkan.

  • Kecepatan laju aliran urine per detik.

  • Berapa lama seluruh buang air kecil berlangsung sebelum kandung kemih dikosongkan sepenuhnya.

  • Tingkat keparahan obstruksi kandung kemih, jika diduga ada penyumbatan.

Hasil pemeriksaan tersebut kemudian akan dibandingkan dengan nilai aliran urine normal, yang cenderung bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin seseorang. Apabila hasil pengidap di bawah nilai normal, masalah buang air kecil dapat dikonfirmasi. Dokter akan menggunakan hasil tes bersama dengan faktor-faktor dan tes lain untuk menghasilkan diagnosis dan rencana perawatan. Pada beberapa kasus, uroflowmetri dilakukan sebelum dan sesudah beberapa prosedur perawatan untuk mengukur efektivitasnya. 

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Pemeriksaan Uroflowmetri

Kamu dapat melakukan pemeriksaan uroflowmetri jika diketahui mengidap penyakit BPH. Sebelum melakukan pemeriksaan ini, kamu bisa mengkomunikasikan gejala yang kamu rasakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Ayo, download aplikasinya sekarang juga di smartphone-mu!

Pengujian Uroflowmetri

Ketika kamu melakukan pemeriksaan urine tradisional, kamu akan diminta untuk membuang urine ke dalam cangkir. Sedangkan pada pemeriksaan uroflowmetri, kamu akan diminta untuk buang air kecil ke sebuah perangkat berbentuk corong atau toilet khusus untuk tes uroflow. Perlu juga kamu ketahui untuk tidak meletakkan tisu toilet pada perangkat yang digunakan. 

Uroflowmeter akan menghitung jumlah urine yang lewat, laju aliran dalam milimeter per detik, dan lama waktu yang dibutuhkan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya. Alat ini juga akan mencatat informasi tersebut pada grafik. Pada buang air kecil yang normal, aliran urine awal akan dimulai secara perlahan, kemudian menjadi cepat, dan akhirnya melambat lagi.

Baca juga: Harus Tahu, 8 Gejala Benign Prostatic Hyperplasia

Setelah buang air kecil selesai, mesin akan melaporkan hasil dari pemeriksaan. Dokter pun akan mendiskusikan temuannya dengan kamu. Pada kasus yang spesifik, kamu mungkin perlu melakukan pemeriksaan urine beberapa kali berturut-turut. 

Memahami Hasil Pemeriksaan Tes Uroflowmetri

Dokter akan menggunakan hasilnya untuk menentukan laju aliran puncak saat kamu buang air kecil. Dokter biasanya hanya menggunakan laju aliran puncak, bersamaan dengan pola berkemih dan volume urine kamu untuk menentukan tingkat keparahan penyumbatan atau halangan apapun. 

Penurunan aliran urine mungkin menunjukkan kamu memiliki otot kandung kemih yang lemah atau penyumbatan di uretra. Peningkatan aliran urine mungkin akan menunjukkan kamu memiliki kelemahan pada otot yang membantu mengontrol aliran urin. Kondisi juga dapat terjadi tanpa adanya inkontinensia urine.

Baca juga: 3 Penyakit yang Rentan Menyerang Prostat

Setelah menguji aliran urine, akan dipertimbangkan juga situasi dan gejala individual pengidap sebelum perencanaan perawatan. Kamu mungkin perlu menguji sistem kemih tambahan. Kamu harus mendiskusikan hasil pemeriksaan kamu dengan dokter. Dengan begitu dapat ditentukan apakah perawatan diperlukan dan opsi apa yang kamu miliki jika kamu membutuhkan perawatan. 

Referensi:

Health Line. Diakses pada 2019. Uroflowmetri

Web MD. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence Test