Abses Perintosil dan Radang Tenggorokan, Apa Perbedaannya?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Abses Perintosil dan Radang Tenggorokan, Apa Perbedaannya?

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu alami tenggorokan seperti terbakar, kesulitan menelan, dan pembengkakan pada amandel? Ini merupakan gejala dari radang tenggorokan. Namun, jika gejala sudah berkembang lebih jauh seperti demam, nyeri telinga bengkak di wajah atau leher bahkan pembesaran kelenjar getah bening, kondisinya sudah lebih parah dan dikenal dengan abses perintosil

Sebagian besar abses peritonsil disebabkan oleh bakteri yang sama yang menyebabkan seseorang alami radang tenggorokan. Umumnya, bakteri streptokokus adalah penyebab paling sering yang menyebabkan infeksi pada jaringan lunak di sekitar amandel. Jaringan ini dapat terserang oleh bakteri yang menyebar dari kelenjar amandel yang terinfeksi. Jika radang tenggorokan terjadi di sekitar tenggorokan semisal tonsil, faring, dan laring, namun abses perintosil hanya terjadi di area tonsil (amandel). Kenali perbedaan lainnya antara abses perintosil dan radang tenggorokan berikut ini.

Baca juga: Abses Peritonsil dan Tonsilitis, Apa Bedanya?

Lebih Jauh Tentang Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan biasa sebabkan rasa nyeri, iritasi, atau kering pada tenggorokan yang muncul akibat infeksi virus atau bakteri. Siapa saja bisa alami kondisi ini, tetapi umumnya jika virus adalah penyebabnya maka ia dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Sebaliknya, sakit tenggorokan karena infeksi bakteri perlu diobati.

Mengobati sakit tenggorokan umumnya mudah. Pengidapnya hanya perlu banyak minum air dingin dan beristirahat yang cukup. Jika gejala masih berlangsung, segera periksakan diri ke rumah sakit untuk mendapat penanganan yang tepat. Obat seperti paracetamol dapat diberikan untuk meredakan rasa nyeri di tenggorokan atau memberikan obat antibiotik jika sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi bakteri.

Baca juga: 6 Penyakit Ini Sebabkan Tenggorokan Sakit saat Menelan

Apa Bedanya dengan Abses Perintosil?

Penyakit ini merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan munculnya nanah di sekitar tonsil atau amandel. Kondisi ini umumnya terjadi akibat komplikasi dari tonsilitis atau radang amandel yang tidak diobati secara tuntas.  Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja dan menyebabkan gejala seperti rasa sakit, bengkak, serta penyumbatan pada tenggorokan. Ketika tenggorokan tersumbat, aktivitas menelan, berbicara, bahkan bernapas terasa sulit dan menyakitkan.

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya abses peritonsil, yaitu: 

  • Infeksi pada gusi, seperti periodontitis dan radang gusi;
  • Tonsilitis (radang amandel) kronis;
  • Infeksi mononukleosis;
  • Merokok;
  • Leukemia limfositik kronis;
  • Batu atau endapan kalsium dalam amandel (tonsilloliths).

Baca juga: Pencegahan Abses Peritonsil yang Bisa Dilakukan

Untuk mencegahnya kamu wajib mengobati radang tenggorokan dengan tuntas. Tidak hanya itu beberapa hal seperti menjaga kebersihan gigi dan mulut serta tidak merokok adalah cara terbaik untuk mencegahnya. Jika kamu mengalami gejala-gejala abses peritonsil, segera buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc untuk melakukan pemeriksaan dan pemberian tindakan yang tepat. Penanganan yang intensif dan tepat diperlukan demi mencegah komplikasi yang berbahaya.

Pengobatan untuk Atasi Abses Peritonsil

Dibutuhkan tindakan serius untuk mengatasi abses peritonsil. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum melakukan tindakan pengobatan. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan fisik pada mulut, tenggorokan dan leher, serta tes darah bila dibutuhkan.  Abses peritonsil bisa ditangani dengan mengeluarkan nanah, melalui penyedotan menggunakan jarum (aspirasi), atau membuat sayatan kecil pada abses dengan pisau bedah sehingga nanah bisa keluar. 

Jika cara ini belum cukup mengatasi abses peritonsil, maka amandel pengidapnya perlu diangkat dengan prosedur tonsilektomi. Prosedur ini berlaku untuk seseorang yang kerap mengidap tonsilitis atau pernah mengalami abses peritonsil sebelumnya.

Akibat sulit menelan, untuk sementara waktu pengidapnya perlu diberikan cairan dan nutrisi melalui infus. Dokter juga memberikan obat penghilang rasa sakit serta antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri yang terjadi. Pengidapnya diwajibkan untuk menghabiskan antibiotik sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Pasalnya jika tidak dihabiskan, infeksi bisa saja muncul kembali.


Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. Peritonsillar Abscess.
WebMD. Diakses pada 2019. Oral Care: Peritonsillar Abscess.
Healthline. Diakses pada 2019. Sore Throat 101: Symptoms, Causes, and Treatment.