Benjolan Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker Anus

Ditinjau oleh  dr. Fadhli Rizal Makarim   11 Februari 2022
Benjolan Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker AnusBenjolan Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker Anus

“Kanker dapat timbul di mana saja, bahkan di bagian anus. Kanker anus biasanya diawali dengan munculnya benjolan yang terasa nyeri. Nah, benjolan ini sebenarnya sebuah tumor yang bersifat kanker. Supaya lebih waspada, ketahui gejala kanker anus lainnya.”

Halodoc, Jakarta - Kanker anus dimulai ketika sel-sel di sekitar atau di dalam lubang anus tumbuh secara abnormal. Sel-sel abnormal ini kemudian tumbuh dan berkembang biak di luar kendali. Akumulasi sel abnormal ini kemudian membentuk sebuah tumor.

Tumor yang semakin besar kemudian menimbulkan gejala nyeri bahkan memicu perdarahan. Apabila kamu merasa ada benjolan di sekitar anus yang terasa nyeri, waspada bisa jadi itu adalah tumor. Segera periksakan ke dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat sehingga kanker bisa segera diobati. Selain benjolan, berikut gejala kanker anus yang perlu kamu ketahui.

Gejala yang Ditimbulkan Kanker Anus

Kanker anus bisa menyebar dengan cepat sehingga pengobatannya perlu segera dilakukan untuk mencegah kanker naik ke stadium lanjut. Semakin dini terdeteksi, maka peluang kesembuhannya pun semakin besar. Sayangnya, sebagian besar kanker anus sulit dideteksi pada awalnya karena tidak menimbulkan gejala apa pun. Oleh sebab itu, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mendapati suatu benjolan disekitar anus yang terasa nyeri. Bukan hanya benjolan, kanker anus juga bisa menimbulkan gejala berikut ini:

  • Pendarahan yang berasal dari lubang anus.
  • Anus terasa gatal dan nyeri.
  • Keluarnya lendir dari area anus.
  • Sulit mengendalikan keinginan buang air besar.
  • Sering diare dengan tinja yang encer.

Apabila menemukan beberapa atau salah satu gejala di atas, jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter. Tujuannya untuk memastikan masalah kesehatan yang kamu alami bukanlah kanker anus.

Faktor Risiko Kanker Anus

Cara yang paling efektif mencegah kanker anus adalah menghindari faktor yang meningkatkan risikonya. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kanker anus meliputi:

  • Memiliki banyak pasangan seksual. Orang yang memiliki banyak pasangan seksual atau sering bergonta-ganti pasangan seksual berisiko tinggi terkena kanker anus.
  • Seks anal. Individu yang punya perilaku seks menyimpang seperti seks anal lebih berisiko terkena kanker anus.
  • Merokok. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko semua jenis kanker, termasuk kanker anus.
  • Punya riwayat kanker. Bagi individu yang punya riwayat kanker sebelumnya, seperti kanker serviks, vulva atau vagina lebih berisiko terkena kanker anus
  • Infeksi human papillomavirus (HPV). Infeksi HPV meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker anus dan kanker serviks. Jenis infeksi ini biasanya disebabkan oleh infeksi menular seksual.
  • Konsumsi obat penekan kekebalan. Orang yang menggunakan obat untuk menekan sistem kekebalan (obat imunosupresi), termasuk orang yang telah menerima transplantasi organ, lebih berisiko terkena kanker anus. Penyakit HIV yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh juga bisa meningkatkan risiko kanker anus. 

Selain faktor di atas, ada pun faktor yang mungkin tidak bisa dicegah, yaitu usia. Pasalnya, orang yang berusia lanjut lebih berisiko terserang kanker. Bahkan, sebagian besar kasus kanker anus terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas.

Bagaimana Kanker Ini Diobati?

Opsi pengobatan kanker anus bermacam-macam dan disesuaikan dengan lokasi tumor, stadium kanker dan kondisi kesehatan pengidapnya. Nah, berikut pilihan pengobatan untuk kanker anus:

1. Operasi

Operasi adalah salah satu prosedur yang sering direkomendasikan untuk mengangkat tumor pada anus. Terdapat beberapa jenis pembedahan yang bisa dilakukan, yaitu: 

  • Reseksi Lokal. Prosedur pembedahan ini dilakukan dengan memotong tumor dari anus bersama dengan beberapa jaringan sehat di sekitarnya. Reseksi lokal ini bisa dilakukan jika kankernya kecil dan belum menyebar. Biasanya jenis operasi ini lebih dipertimbangkan karena dapat menyelamatkan otot-otot sfingter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. 
  • Reseksi Abdominoperineal. Prosedur bedah ini mengeluarkan anus, rektum, dan bagian dari kolon sigmoid melalui sayatan yang dibuat di perut. Dokter kemudian menjahit ujung usus ke lubang, yang disebut stoma, dan dibuat di permukaan perut sehingga kotoran tubuh dapat dikumpulkan dalam kantong sekali pakai di luar tubuh (colostomy). 

Kelenjar getah bening yang mengandung kanker bisa diangkat selama operasi ini. Prosedur ini hanya digunakan untuk kanker yang tetap atau kambuh setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.

2. Terapi Radiasi

Tindakan ini memanfaatkan sinar-X berenergi tinggi atau jenis radiasi lain untuk membunuh sel-sel kanker atau menjaga agar kanker tidak tumbuh. Ada dua jenis terapi radiasi:

  • Terapi radiasi eksternal menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi ke area tubuh dengan kanker.
  • Terapi radiasi internal menggunakan zat radioaktif yang disegel dalam jarum, biji, kabel, atau kateter yang ditempatkan langsung ke dalam atau di dekat kanker.

3. Kemoterapi

Perawatan ini memanfaatkan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau menghentikan sel saat melakukan pembelahan.

Fakta-Fakta Seputar Kanker Anus

Mengutip American Society of Clinical Oncology, diperkirakan bahwa 8.300 kasus kanker anus terdiagnosis pada tahun 2019 dan sekitar 1.280 kematian tercatat. Dilaporkan juga bahwa sekitar setengah dari semua kasus kanker dubur didiagnosis sebelum keganasan tersebut menyebar.

Sementara itu, 13 persen hingga 25 persen didiagnosis setelah kanker menyebar ke kelenjar getah bening, dan 10 persen didiagnosis setelah kanker telah menyebar ke organ lain. Tingkat kelangsungan hidup hanya berada pada kisaran 67 persen. Namun, dengan pengobatan sejak dini, maka kanker dubur dapat diobati secara tuntas. 

Faktanya lainnya, kanker anus lebih sering terjadi pada pria ketimbang wanita. Tingkat kejadian kanker anus adalah enam kali lebih tinggi pada pria lajang dibandingkan dengan pria yang sudah menikah. Jadi, sebaiknya selalu perhatikan ketika terdapat gejala aneh di dalam tubuh agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Jika kamu mengalami tanda-tanda kanker anus, segera tanya dokter melalui aplikasi Halodoc, rekomendasinya ada di bawah ini:  


1. dr. I Made Chandra Ari Kumara, Sp.B(K)Onk

Seorang dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Omni Pulomas dan RS EMC Sentul. Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) sebagai anggota ini, bisa memberikan layanan konsultasi seputar bedah khususnya terkait onkologi (kanker).


2. dr. Ismairin Oesman, Sp.B(K)Onk

Seorang dokter Spesialis Bedah Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Mayapada Jakarta Selatan, RS Puri Cinere, dan RS Pondok Indah. Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia, bisa memberikan layanan Konsultasi, dan Tindakan terkait Bedah Onkologi (Kanker).


3. dr. John Sammy Leids Alfawin Pieter, Sp.B(K)Onk

Seorang dokter Spesialis Bedah Onkologi yang aktif melayani pasien di RS Siloam Makassar, RS Stella Maris Makassar. Beliau yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI),Perhimpunan Bedah Onkologi Indonesia sebagai anggota ini bisa memberikan layanan medis terkait Kemoterapi, Konsultasi Kanker, Mammografi, Skrining Kanker, USG Mammae dan lain lain.

Dokter yang ahli di bidangnya akan menjawab segala pertanyaan kamu. Jangan tunda untuk menghubungi dokter sebelum kondisinya semakin memburuk. Yuk, download Halodoc sekarang juga!


Referensi:

National Cancer Institute. Diakses pada 2022. Anal Cancer.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Anal Cancer.
Web MD. Diakses pada 2022. Anal Cancer.
American Cancer Society. Diakses pada 2022. Signs and Symptoms of Anal Cancer.

Diperbarui pada 10 Februari 2022



Mulai Rp25 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Dokter seputar Kesehatan