Adakah Batasan Aman Konsumsi Telur Asin?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Adakah Batasan Aman Konsumsi Telur Asin?

Halodoc, Jakarta - Selain makanan manis, makanan yang terasa asin sering kali membuat sebagian orang “ketagihan”. Makanan asin sendiri beragam, salah satunya telur asin. Telur asin ini sudah terbilang umum di lidah masyarakat kita. 

Nah, telur asin sendiri memang menggoda untuk sebagian orang. Rasanya unik, sehingga disukai oleh orang-orang. Nah, pertanyaannya simpel kok, kira-kira berapa batas mengonsumsi telur asin per harinya? 

Nah, agar tidak keliru, yuk simak penjelasan di bawah ini:

Baca juga: Kebiasaan Makan Telur Asin Sebabkan Kelebihan Garam

Bukan Satu Butir, Apalagi Dua

Berbicara telur asin, tentu kita akan banyak membicarakan berbagai nilai gizi. Telur asin sendiri mengandung banyak nutrisi, seperti 14 persen protein, 16,6 persen lemak, dan 4,1 persen karbohidrat. Selain itu, telur asin juga mengandung berbagai asam amino yang diperlukan untuk tubuh manusia, dan berbagai elemen, seperti kalsium, zat besi, fosfor, dan lain-lain. 

Segala nilai gizi di atas amat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Jadi, dengan mengonsumsi telur asin dengan jumlah yang tepat, kita bisa mencukupi kebutuhan nilai gizi tiap harinya. Lalu, berapa banyak telur asin yang boleh dikonsumsi?

Baca juga: Kebiasaan Makan Telur Asin Sebabkan Kelebihan Garam

Sesuai namanya, telur asin tentunya terasa asin karena mengandung banyak garam. Nah, kadar garam inilah yang perlu diperhatikan dengan saksama. 

Menurut rekomendasi WHO, asupan garam sebaiknya hanya 5 gram (setara dengan natrium 2.000 miligram) per hari. Sebenarnya kekurangan natrium jarang terjadi, kecuali mereka yang mengalami diare, kekurangan gizi, dan gagal jantung. Sebaliknya, terlalu banyak mengasup natrium juga tak baik, karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. 

Lalu, berapa jumlah garam yang terkandung dalam sebuah telur asin? Ternyata, sebutir telur asin bisa mengandung 10 gram garam atau mengandung natrium sebanyak 529 miligram per 100 gram. Dengan kata lain, sebutir telur asin sudah melebihi kebutuhan garam (dua kali lipat) yang diperlukan oleh tubuh tiap harinya. 

Alternatifnya, bagi kamu yang benar-benar ingin mengonsumsi telur asin, sebaiknya mesti bijak mengenai porsinya. Konsumsilah dalam takaran moderat alias dalam jumlah sedang atau bahasa kekiniannya “main aman” saja.

Misalnya, setengah butir telur asin atau seperempat, tujuannya untuk mencegah asupan garam berlebih. Itu pun telur asin sebaiknya tak dikonsumsi setiap hari. Mesti diselingi dengan makanan bergizi seimbang lainnya. 

Untuk lebih amannya, kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter mengenai porsi telur asin yang tepat untuk tubuh. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Memicu Sederet Keluhan Serius

Dalam tubuh manusia, garam dan air seperti saudara kembar. Terlalu banyak garam akan menyebabkan kehausan dan mau tidak mau akan mengonsumsi banyak air. Nah, air dan garam ini bisa menumpuk di dalam tubuh, melebihi kapasitas ekskresi ginjal, sehingga menyebabkan edema. 

Edema sendiri merupakan pembengkakan pada anggota tubuh akibat penimbunan cairan di dalam jaringan. Dalam kebanyakan kasus, edema ini umumnya terjadi di tangan, lengan, kaki, dan pergelangan kaki. 

Baca juga: Dianggap Remeh, Ini 5 Manfaat Telur Asin bagi Kesehatan

Dampak terlalu banyak mengonsumsi telur asin bukan itu saja. Telur asin yang banyak mengandung garam juga bisa menyebabkan hipertensi. Nah, hipertensi ini nantinya bakal memicu sederet masalah lainnya. Mulai dari penyakit jantung, stroke, hingga penyakit ginjal. 

Di samping itu, kuning telur pada telur asin juga mengandung banyak kolesterol. Nah, kamu yang memiliki riwayat kolesterol di atas angka normal, perlu hati-hati. Seiring berjalannya waktu, kolesterol tinggi bisa menyebabkan aterosklerosis. Penumpukan plak di dinding arteri ini bisa menghambat aliran darah. Alhasil bisa memicu sakit dada, serangan jantung, dan stroke. 

Mau tahu lebih jauh mengenai manfaat telur asin dan porsinya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol kapan dan di mana saja dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Salt: Good or Bad? 
US National Library of Medicine National Institutes of Health - Diakses pada 2020. Comparative Study on the Nutritional Value of Pidan and Salted Duck Egg. Korean journal for food science of animal resources. 2014. 34(1), pp. 1–6.