Adakah Efek Samping dari Pemeriksaan Spirometri?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Adakah Efek Samping dari Pemeriksaan Spirometri?

Halodoc, Jakarta - Spirometri adalah prosedur pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk menilai seberapa baik kinerja paru-paru melalui berapa banyak udara yang berhasil dihirup, seberapa banyak tarikan napas, dan seberapa cepat hembusan napas seseorang. Tes kesehatan ini dilakukan untuk mendiagnosis penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan kondisi lainnya yang memengaruhi organ pernapasan.

Tidak hanya itu, spirometri dapat digunakan secara berkala untuk memantau kondisi paru-paru dan memeriksa apakah dibutuhkan perawatan lanjutan untuk kondisi paru-paru kronis, sehingga seseorang bisa bernapas lebih baik.

Apabila kamu terdiagnosis mengidap kelainan paru-paru kronis, tes ini bisa digunakan secara berkala untuk mengetahui apakah obat yang kamu konsumsi bekerja dengan baik, dan apakah masalah pernapasan yang kamu alami menjadi lebih baik. Tes ini bisa dilakukan sebelum operasi untuk memeriksa apakah fungsi paru memadai untuk proses operasi.

Baca juga: Begini Proses untuk Melakukan Pemeriksaan Spirometri

Tes spirometri mengharuskan kamu bernapas ke dalam tabung yang terpasang pada mesin spirometer. Sebelum tes dilakukan, dokter atau petugas memberikan petunjuk yang perlu kamu cermati. Selama tes, kamu akan duduk dan klip dipasang pada hidung untuk menjaga lubang hidung tetap tertutup.

Lalu, kamu mengambil napas dalam-dalam dan bernapas dengan keras selama beberapa detik ke dalam tabung. Tes ini setidaknya dilakukan sebanyak 3 kali untuk memastikan bahwa hasil yang didapat konsisten. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 15 menit, dan untuk membuka paru-paru, dokter akan memberikan obat inhalasi atau bronkodilator setelah putaran pertama.

Adapun pengukuran dari pemeriksaan spirometri meliputi:

  • Forced Vital Capacity (FVC), merupakan jumlah udara terbesar yang bisa kamu hembuskan dengan paksa setelah menarik napas sedalam mungkin. Pembacaan hasil yang menunjukkan angka lebih rendah dari normal menunjukkan bahwa pernapasan terbatas.

  • Forced Expiratory Volume (FEV), merupakan pengukuran berapa banyak udara yang bisa kamu keluarkan secara paksa dari paru-paru dalam waktu satu detik. Bacaan ini akan membantu dokter menilai tingkat keparahan masalah pernapasan yang sedang kamu alami. Pembacaan yang menunjukkan angka lebih rendah dari normal berarti obstruksi yang lebih signifikan.

Baca juga: 6 Penyakit yang Bisa Dideteksi Lewat Pemeriksaan Spirometri

Adakah Risikonya?

Pemeriksaan spirometri dianggap aman dan minim risiko. Meski begitu, tes ini dapat berdampak pada beberapa orang, biasanya seperti pusing, gemetar, dan lelah untuk waktu yang terbilang singkat setelah tes dilakukan.

Meski sebagian besar orang menjalani tes dengan aman, tes ini meningkatkan tekanan di dalam kepala, dada, perut, dan mata ketika kamu bernapas, jadi perlu dihindari atau perlu ditunda jika kamu mengalami kondisi yang memburuk karena efek samping tersebut.

Seperti misalnya, pemeriksaan spirometri mungkin tidak aman jika kamu memiliki atau mengalami angina yang tidak stabil, serangan jantung, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali, atau operasi pada kepala, dada, perut, atau mata. Tes ini juga berdampak kram pada perut, meski sangat jarang terjadi karena pemeriksaan dilakukan sesuai dengan indikasi dan ada batasan-batasannya.

Baca juga: Ketahui 5 Persiapan Sebelum Melakukan Pemeriksaan Spirometri

Oleh karena itu, selalu tanyakan pada dokter secara mendetail jika kamu hendak melakukan pemeriksaan spirometri ini. Kenali dengan cermat apa saja dampaknya untuk kesehatan tubuh, jangan sampai membuat kondisi kamu semakin memburuk setelahnya. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc jika ingin bertanya langsung pada dokter ahli paru. Caranya cukup dengan download aplikasi Halodoc di ponsel kamu.