• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Adenovirus hingga Coronavirus, Dugaan Penyebab Hepatitis Misterius
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Adenovirus hingga Coronavirus, Dugaan Penyebab Hepatitis Misterius

Adenovirus hingga Coronavirus, Dugaan Penyebab Hepatitis Misterius

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 04 Mei 2022

“Anak-anak yang didiagnosis mengalami hepatitis misterius memiliki gejala penyakit gastroenteritis. Penyakit ini dikaitkan dengan kombinasi adenovirus dan coronavirus.”

Adenovirus hingga Coronavirus, Dugaan Penyebab Hepatitis Misterius

Halodoc, Jakarta –  Setelah kemunculannya di Eropa pada awal April lalu, hepatitis misterius terdeteksi ada di Indonesia. Dilansir dari CNBC Indonesia, disebutkan kalau tiga pasien anak yang menjalani rawat inap di RSCM meninggal dunia akhir April ini.

Sejauh ini dalam perkembangannya, para ahli kesehatan menduga adenovirus dan coronavirus menjadi penyebab kemunculan hepatitis misterius. Informasi selengkapnya mengenai hepatitis misterius dan kaitannya dengan adenovirus dan COVID-19 bisa dibaca di sini!

Sistem Imun dan Pembatasan Jarak yang Disebabkan Pandemi

Disebutkan bahwa adenovirus dan coronavirus diduga menjadi penyebab hepatitis misterius. Lantas, benarkah demikian? Berdasarkan diagnosis beberapa badan kesehatan dunia salah satunya The UK Health Security Agency (UKHSA), menilai kemunculan hepatitis misterius ini didahului dengan gejala infeksi adenovirus. 

Anak-anak yang didiagnosis mengalami hepatitis misterius memiliki gejala penyakit gastroenteritis, seperti diare dan mual. Lalu, kemudian diikuti oleh menguningnya kulit dan mata yang menjadi tanda penyakit hepatitis. Namun, mereka tidak ditemukan virus hepatitis A, B, C, D, dan E.

Kondisi pandemi yang diakibatkan oleh COVID-19 menjadi kemungkinan lain kemunculan hepatitis misterius. Ini bisa dikaitkan dengan daya tahan tubuh yang lemah dan kondisi pembatasan sosial dan fisik membuat sistem kekebalan tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Walaupun masih terlalu awal untuk mengatakan kalau memang benar kombinasi adenovirus dan coronavirus yang jadi penyebab hepatitis misterius, namun ada arah ke sana.

Pada pertengahan April 2022, di Israel ditemukan tujuh kasus hepatitis misterius yang ditangani di Schneider Children’s Medical Center di Petah Tikva dan lima kasus di Shaare Zedek Medical Center di Yerusalem, semuanya sudah pernah terinfeksi SARS-COV-2. 

Perkembangan Hepatitis Misterius dari Oktober 2021 hingga Sekarang

Sebenarnya, jauh sebelum hepatitis misterius ini muncul di Eropa pada 5 April 2022, pada Oktober – November 2021, tim medis di rumah sakit anak Alabama telah mengidentifikasi lima pasien anak dengan kondisi hepatitis parah dan infeksi adenovirus melalui hasil uji PCR (Polymerase Chain Reaction) dan tes darah. 

Setelahnya, total ada 9 pasien anak yang diidentifikasi mengalami hepatitis parah yang berasal dari demografi berbeda dan tidak ada riwayat penyakit komorbid. Sembilan pasien anak mengalami gejala muntah, diare, dan gangguan saluran pernapasan. 

Delapan di antaranya mengalami ikterus sklera, tujuh anak mengalami pembesaran hati, enam anak teridentifikasi penyakit kuning, serta satu anak mengalami ensefalopati. 

Uniknya, semua anak yang menjadi pasien hepatitis parah tersebut memiliki hasil negatif untuk hepatitis A, B, C, dan beberapa penyebab hepatitis serta infeksi pediatri, hepatitis autoimun, penyakit Wilson, bakteremia, infeksi saluran kemih, dan infeksi SARS-CoV-2. 

Hanya saja adenovirus terdeteksi dalam tes darah lengkap untuk semua pasien. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention, adenovirus bisa menjadi penyebab hepatitis di antara anak-anak dengan gangguan kekebalan dan sebagai pemicu cedera hati untuk anak-anak yang sehat

Namun, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan penyakit hepatitis parah ataupun yang sekarang disebut hepatitis misterius ini.

Mencegah Hepatitis Misterius

Adenovirus adalah jenis virus yang biasa menginfeksi anak-anak sebelum usia 10 tahun. Pada umumnya gejala adenovirus adalah pilek, seperti demam, sakit tenggorokan dan diare. Infeksi adenovirus hampir tidak ada selama pandemi COVID-19, namun baru-baru ini muncul kembali bersamaan dengan kondisi hepatitis misterius.

Mewaspadai situasi hepatitis misterius ini, para orangtua harus waspada dan segera tanggap bila anak-anak mengalami gejala, seperti: 

  • Tidak enak badan
  • Penurunan kesadaran
  • Mual, muntah, dan nyeri perut
  • Merasa sangat lelah sepanjang waktu
  • Kehilangan selera makan
  • Menguningnya bagian putih mata atau kulit 
  • Urine berwarna gelap
  • Kotoran pucat, berwarna abu-abu (kotoran)
  • Kulit gatal
  • Nyeri sendi atau pegal-pegal
  • Suhu badan meningkat 

Orangtua memang perlu waspada, namun sebaiknya tetap tenang. Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan, sesuai dengan imbauan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Di antaranya adalah mencuci tangan secara rutin, mengonsumsi makanan yang bersih dan sudah matang, minum air bersih yang matang, serta menggunakan alat makan sendiri.

Tak lupa juga untuk membuang popok sekali pakai pada tempatnya, serta tetap memakai masker saat bepergian dan menjaga jarak ketika beraktivitas di luar ruangan.

Itulah informasi mengenai adenovirus dan coronavirus yang diduga dapat menyebabkan hepatitis misterius. Jika memiliki pertanyaan seputar isu kesehatan apapun, tanyakan saja langsung ke dokter lewat aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
CNBC Indonesia. Diakses pada 2022. WHO Bawa Kabar Terbaru Soal Kasus Hepatitis ‘Misterius’ di RI
Detik Health. Diakses pada 2022. 3 Anak di DKI Meninggal, Pakar IDI Ungkap Dugaan Penyebab Hepatitis Misterius
BBC.com. Diakses pada 2022. Adenovirus probable cause of mysterious child hepatitis
IDAI. Diakses pada 2022. Kewaspadaan Dini Hepatitis Akut yang Belum Diketahui Penyebabnya
Health Policy Watch. Diakses pada 2022. Could Mysterious Hepatitis Cases be Triggered by COVID-19?
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Acute Hepatitis and Adenovirus Infection Among Children — Alabama, October 2021–February 2022