• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ajak Anak Hiking, Waspadai Tanda Hipotermia

Ajak Anak Hiking, Waspadai Tanda Hipotermia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Beberapa orang memilih untuk menghabiskan waktu untuk pergi ke pegunungan karena rasa bosan dengan suasana perkotaan. Momen ini juga dapat dilakukan bersama dengan anak agar dirinya dapat mempelajari banyak hal baru. Saat pergi ke pegunungan, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah hiking. Namun, setiap orangtua harus berhati-hati terhadap hipotermia pada anak. Maka dari itu, penting untuk mengetahui beberapa tanda dari hipotermia sebagai pencegahan masalah yang lebih besar. Berikut ulasannya!

Beberapa Tanda Hipotermia pada Anak

Saat mengajak anak menghabiskan waktu di tempat yang dingin, orangtua harus berhati-hati terhadap gangguan hipotermia. Masalah ini dapat termasuk dalam keadaan darurat medis yang disebabkan tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas. Seseorang yang mengidapnya akan mengalami suhu tubuh sangat rendah atau di bawah 35 derajat Celsius, padahal suhu normal sekitar 37 derajat Celsius.

Baca juga: 5 Gejala Awal saat Bayi Mengalami Hipotermia

Saat suhu tubuh turun, jantung, sistem saraf, serta organ penting lainnya tidak dapat bekerja seperti seharusnya. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, hipotermia dapat menimbulkan masalah yang fatal pada jantung dan sistem pernapasan. Tentu hal ini berpotensi menimbulkan kematian yang harus mendapatkan penanganan medis yang tepat. 

Salah satu cara penanganan dini yang paling tepat untuk dilakukan adalah dengan mengetahui tanda hipotermia yang dapat terjadi pada anak. Nah, berikut ini beberapa tanda-tanda yang dapat timbul saat anak mengalami gangguan ini:

Tanda hipotermia yang paling umum terlihat jelas adalah menggigil. Jika anak mengalami hal ini, ada baiknya untuk segera mengukur suhu tubuhnya dan berusaha untuk mencari tempat yang lebih hangat. Lama-kelamaan, Si Kecil dapat mengalami penurunan terhadap kemampuan untuk berpikir jernih. Kondisi ini dapat membahayakan, sehingga butuh penanganan segera.

Beberapa tanda hipotermia lainnya yang dapat timbul adalah:

  • Suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius.
  • Kulit yang pucat dan dingin.
  • Lidah menjadi kelu sehingga ucapan menjadi cadel atau tidak jelas.
  • Denyut nadi lemah.
  • Mengalami radang dingin.
  • Hilang kesadaran atau pingsan.

Baca juga: Ini 3 Fase Hipotermia yang Bisa Berakibat Fatal

Pada anak yang lebih kecil, hipotermia dapat lebih mudah terjadi, terlebih lagi jika diajak untuk hiking atau berkemah. Pada anak bayi atau balita, mungkin saja dirinya tidak dapat menjelaskan perasaannya padahal dirinya sedang dalam bahaya. Penting untuk segera mendapatkan penanganan medis jika mengalami tanda-tanda hipotermia, seperti:

  • Suhu tubuh yang menurun di bawah 36,3 derajat Celcius.
  • Teriakan atau tangisan yang lemah.
  • Tingkat energi yang rendah.
  • Kulit menjadi dingin dan merah.
  • Tidak bisa makan atau minum.
  • Alami sesak napas.

Maka dari itu, perlu dipahami jika risiko untuk mengalami hipotermia pada anak-anak terbilang tinggi. Bahkan, jika ibu mengajaknya hanya ke puncak Bogor saja, risiko untuk mengalami hipotermia masih tetap ada. Maka dari itu, cobalah untuk bepergian ke tempat yang lebih ramah pada anak-anak jika ingin melakukan liburan sekeluarga.

Baca juga: Bukan Hanya Udara Dingin, Ini Penyebab Lain Hipotermia

Selain itu, ibu mungkin juga membutuhkan obat-obatan segera karena anak tiba-tiba sakit saat liburan. Dengan menggunakan aplikasi Halodoc, ibu bisa membeli obat-obatan tersebut hanya dengan penggunaan smartphone yang ada di tangan. Obat tersebut dapat langsung diantarkan ke tempat tujuan segera. Maka dari itu, unduh aplikasi Halodoc untuk berjaga-jaga terhadap keadaan anak di jalan.

Referensi:
Childhood Preparedness. Diakses pada 2021. How to Spot the Signs and Prevent Hypothermia in Children and Adults.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Hypothermia.