• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alami Gejala Pneumonia, Haruskah Diperiksa ke Dokter Spesialis Paru?

Alami Gejala Pneumonia, Haruskah Diperiksa ke Dokter Spesialis Paru?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Alami Gejala Pneumonia, Haruskah Diperiksa ke Dokter Spesialis Paru?

Halodoc, Jakarta – Banyak orang tidak langsung pergi ke dokter bila jatuh sakit. Mereka biasanya menunggu dulu selama beberapa hari untuk melihat apakah gejala mereda dengan sendirinya sebelum pergi ke dokter. Namun, terkadang ada beberapa penyakit yang berpotensi menyebabkan komplikasi bila tidak segera ditangani.

Pneumonia adalah salah satu penyakit pernapasan yang perlu diwaspadai. Penyakit ini memengaruhi salah satu atau kedua paru-paru dan bisa menyebabkan masalah pernapasan yang signifikan, serta gejala lainnya. Pneumonia juga bisa menyebabkan komplikasi, terutama pada kelompok orang yang berisiko. Lantas, apakah kamu harus memeriksakan diri ke dokter spesialis paru begitu mengalami gejala pneumonia? 

Baca juga: Hati-Hati, Pneumonia Bisa Sebabkan Abses Paru-Paru

Mengenal Pneumonia dan Penyebabnya

Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru meradang. Akibatnya, kantung udara berisi cairan atau nanah, sehingga bisa menyebabkan pengidap mengalami batuk berdahak, demam, menggigil dan kesulitan bernapas.

Berbagai organisme, seperti bakteri, virus, dan jamur bisa menyebabkan pneumonia. Namun, bakteri adalah penyebab pneumonia yang paling umum. Pneumonia bakteri bisa terjadi dengan sendirinya, atau bisa berkembang setelah kamu mengalami infeksi virus tertentu, seperti pilek atau flu.

Selain bakteri, beberapa hal berikut juga bisa menjadi penyebab pneumonia:

  • Virus. Beberapa virus penyebab pilek dan flu bisa menyebabkan pneumonia. Virus adalah penyebab paling umum dari pneumonia pada anak-anak di bawah 5 tahun. Pneumonia virus biasanya bersifat ringan, tapi dalam beberapa kasus bisa menjadi sangat serius. Virus corona bisa menyebabkan pneumonia, yang bisa menjadi parah.
  • Jamur. Pneumonia jamur paling sering terjadi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki masalah kronis. Jamur penyebab pneumonia bisa ditemukan di tanah, kotoran burung, dan lain-lain.
  • Pneumonia Aspirasi. Jenis pneumonia yang disebabkan karena menghirup muntahan, benda asing, atau zat berbahaya.
  • Pneumonia yang Didapat di Rumah Sakit. Jenis pneumonia ini berkembang di rumah sakit saat dirawat karena kondisi lain atau menjalani operasi.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala pneumonia bisa berkisar dari ringan hingga berat. Gejala umum pneumonia, antara lain:

  • Batuk, yang bisa kering atau mengeluarkan lendir kental (dahak) berwarna kuning, hijau, coklat atau bernoda darah.
  • Sulit bernapas, pernapasan kamu mungkin cepat dan dangkal, dan kamu mungkin merasa sesak, bahkan saat beristirahat.
  • Detak jantung meningkat.
  • Demam.
  • Mual dan/atau muntah.
  • Berkeringat dan menggigil.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Nyeri dada, yang semakin parah saat bernapas atau batuk.

Namun, gejala pneumonia bisa bervariasi pada kelompok usia yang berbeda. Bayi baru lahir dan bayi mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Sementara yang lain mungkin mengalami muntah, demam, dan batuk. Mereka mungkin juga tampak sakit, tidak berenergi atau gelisah.

Orang dewasa yang lebih tua dan orang yang memiliki penyakit serius atau sistem kekebalan yang lemah mungkin mengalami gejala yang lebih sedikit atau ringan. Sementara orang tua yang mengidap pneumonia terkadang mengalami perubahan kesadaran mental secara tiba-tiba.

Baca juga: Gejalanya Mirip, Ini Bedanya Pneumonia dengan COVID-19

Namun, ada beberapa gejala pneumonia yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Kesulitan menarik napas dalam-dalam.
  • Sesak di area dada yang terasa nyeri saat bernapas.
  • Demam 38 derajat Celcius atau lebih yang berlangsung konsisten.
  • Batuk terus menerus, terutama bila kamu batuk bernanah.

Penting untuk segera menemui dokter bila mengalami gejala-gejala di atas lebih dari seminggu, terutama bagi orang-orang yang berisiko tinggi, seperti:

  • Orang tua yang berusia lebih dari 65 tahun.
  • Anak-anak di bawah usia 2 tahun dengan tanda dan gejala.
  • Orang dengan kondisi kesehatan yang mendasari atau sistem kekebalan yang lemah.
  • Orang yang menjalani kemoterapi atau minum obat yang menekan sistem kekebalan.

Kamu bisa mulai dengan menemui dokter perawatan primer atau dokter perawatan darurat untuk mendapatkan diagnosis awal. Setelah itu, kamu bisa dirujuk ke dokter spesialis paru-paru (ahli paru) untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Baca juga: Begini Tes Umum untuk Deteksi Bakteri Pneumonia

Sekarang, berobat ke dokter sudah lebih mudah dengan aplikasi Halodoc. Kamu tinggal buat janji saja di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi dan kamu bisa berobat ke dokter tanpa perlu antre. Yuk, download aplikasinya sekarang juga.

Referensi:
National Health Service. Diakses pada 2021. Pneumonia.
Medline Plus. Diakses pada 2021. Pneumonia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Pneumonia.