• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Kesehatan Mental para Atlet Perlu Diperhatikan

Alasan Kesehatan Mental para Atlet Perlu Diperhatikan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alasan Kesehatan Mental para Atlet Perlu Diperhatikan

Banyaknya tantangan dan tuntutan yang tinggi tidak jarang membuat para atlet mengalami masalah dalam kesehatan mental. Tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, hal itu juga bisa mengganggu performa atlet yang berpotensi menyebabkan cedera serius. Itulah mengapa kesehatan mental atlet perlu diperhatikan agar perawatan bisa dilakukan secepatnya sebelum gangguan mental semakin parah.

Halodoc, Jakarta – Ketika menonton para atlet dari berbagai cabang bertanding, seperti pada Pekan Olahraga Nasional XX yang digelar di Papua sekarang ini, banyak orang kagum melihat betapa kuatnya fisik dan stamina yang mereka miliki. Namun, di balik kekuatan fisik tersebut, sebenarnya tidak sedikit atlet yang mengalami masalah dalam kesehatan mental. 

Contohnya, Naomi Osaka, Petenis Jepang yang mengundurkan diri dari turnamen Grand Slam French Open 2021 yang lalu dengan alasan depresi. Selain itu, ada juga Simone Biles yang mengundurkan diri dari Olimpiade Tokyo 2021 karena mengaku memiliki masalah kesehatan mental. Nyatanya, masalah kesehatan mental memang bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali pada kalangan atlet. Itulah mengapa kesehatan mental atlet pun penting untuk diperhatikan. Simak ulasannya lebih lanjut di sini.

Baca juga: 4 Gaya Hidup Sehat Ala Atlet yang Bisa Ditiru

Faktor yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental Atlet

Menjadi seorang atlet profesional sering dipandang sebagai pekerjaan impian. Bagaimana tidak, kamu dibayar untuk melakukan sesuatu yang kamu sukai. Selain itu, olahraga juga bermanfaat bagi kesehatan mental. Berbagai penelitian, termasuk penelitian yang diadakan oleh Kelly pada tahun 2020, menunjukkan adanya hubungan positif antara olahraga dan indikator kesehatan mental. Olahraga bahkan merupakan cara yang efektif dalam mengurangi gejala kecemasan dan depresi. Namun, studi tersebut dilakukan terhadap kegiatan olahraga sebagai rekreasi, bukan seperti yang dilakukan oleh atlet profesional. Para atlet kerap menghadapi tuntutan yang menantang dan kondisi kerja yang sulit, yang seringkali jauh dari kata “impian”.

Tidak hanya menuntut secara fisik, olahraga elit juga sangat menuntut secara kognitif. Para atlet perlu melatih konsentrasi dan presisi mereka, serta mengingat banyak hal secara bersamaan dan membuat keputusan yang terkadang rumit. Mereka juga harus menghadapi tuntutan emosional, seperti ekspektasi yang tidak realistis, kekecewaan orang lain (pelatih, rekan tim, atau penonton) terhadap performa mereka, kritik, dan pemantauan media sosial yang intens.

Selain itu, di dalam organisasi olahraga, atlet pun mengalami banyak kesulitan sama seperti yang dihadapi oleh para pekerja kantoran pada umumnya. Seperti, masalah dalam hubungan dengan tim atau dengan atasan. Bahkan atlet sering menganggap masalah yang terjadi dalam organisasi lebih membuat stres daripada pelatihan atau kompetisi. 

Uang juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab masalah kesehatan mental atlet. Sementara para atlet yang memiliki sponsor yang menguntungkan dan pemain liga profesional mungkin tidak perlu khawatir, banyak atlet menghadapi masalah keuangan. Di Amerika Serikat, mayoritas atlet bahkan tidak menghasilkan uang.

Belum lagi tantangan media sosial yang harus dihadapi para atlet. Di satu sisi, media sosial adalah alat yang ampuh bagi para atlet untuk mengembangkan hubungan dengan penggemar dan sponsor perusahaan. Namun, di sisi lain, hal itu juga bisa menyebabkan masalah baru yang berdampak pada kesehatan mental mereka. 

Media sosial memungkinkan para atlet untuk mengalami pelecehan secara online, terutama atlet perempuan atau yang memiliki kulit berwarna. Sebuah survei BBC Sport mengungkapkan bahwa sepertiga atlet wanita Inggris menghadapi pelecehan di media sosial, termasuk komentar tentang penampilan mereka. Pelecehan terkait rasis yang dihadapi oleh pemain Inggris berkulit hitam setelah kekalahan tim di UEFA EURO 2020 juga merupakan contoh dampak buruk sosial media yang terjadi baru-baru ini. 

Baca juga: Alasan Olahraga Baik untuk Menjaga Kesehatan Mental

Sama Seperti Profesi Lain, Atlet Juga Bisa Alami Burnout

Ketika tuntutan yang dihadapi seseorang melebihi kapasitasnya untuk mengatasi tuntutan tersebut, masalah kesehatan mental bisa berkembang dan berpotensi mengakibatkan burnout. Diperkirakan antara 1 dan 9 persen atlet mengalami beberapa tingkat kelelahan.

Sama seperti burnout dalam profesi lain, kelelahan yang dialami atlet meliputi kelelahan emosional dan fisik yang mendalam. Ketika atlet pesepeda dari Belanda, Tom Dumoulin mengundurkan diri dari Vuelta a Espana pada tahun 2020, ia menggambarkan perasaannya kosong dan tidak memiliki energi. Di luar rasa lelah, para atlet yang mengalami burnout juga jadi mempertanyakan kemampuan dan prestasi mereka sendiri dan mengembangkan perasaan sinis terhadap olahraga mereka. 

Selain burnout, tuntutan yang tinggi dan banyak juga bisa menyebabkan para atlet mengalami gangguan mental lainnya. Di antara para atlet profesional, data menunjukkan bahwa hingga 35 persen atlet elit mengalami krisis kesehatan mental yang bisa bermanifestasi sebagai stres, gangguan makan, atau depresi dan kecemasan.

Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa atlet cenderung tidak mengakui atau mencari bantuan ketika mengalami gejala kesehatan mental. Hal itu karena atlet diajarkan untuk menjadi tangguh dan kuat. Sedangkan mencari bantuan mungkin dianggap sebagai kelemahan. 

Akibatnya, tidak hanya berbahaya untuk kesehatan mental, gejala mental yang diabaikan juga bisa membahayakan kesehatan fisik. Simone Biles melaporkan mengalami “twisties” selama Olimpiade, kondisi ketika pesenam kehilangan kesadaran spasial, yang bisa menyebabkan cedera serius.

Itulah mengapa penting untuk memperhatikan dan menjaga kesehatan mental para atlet, agar gejala masalah mental yang mereka alami bisa diatasi sedini mungkin sebelum berkembang menjadi parah dan membahayakan kesehatan mereka secara keseluruhan.

Baca juga: 5 Tanda Kondisi Psikologis Sedang Terganggu

Bila kamu memiliki teman seorang atlet, kamu bisa menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik, agar ia bisa mencurahkan semua hal yang membuat ia tertekan. Hal itu bisa membantunya untuk merasa sedikit lebih lega. Dorong juga ia untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater untuk membantunya mengidentifikasi sumber stres dan cara untuk mengatasinya.

Nah, untuk berbicara dengan psikolog, gunakan saja aplikasi Halodoc. Tidak perlu merasa malu, kamu bisa berbicara pada ahlinya melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2021. Putting Athletes’ Mental Health in the Spotlight
Athletes for Hope. Diakses pada 2021. Mental Health and Athletes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Athletes and Mental Health: Breaking the Stigma