• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Painkiller Sebaiknya Dikonsumsi Sesuai Anjuran Dokter

Alasan Painkiller Sebaiknya Dikonsumsi Sesuai Anjuran Dokter

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Alasan Painkiller Sebaiknya Dikonsumsi Sesuai Anjuran Dokter

“Obat pereda sakit atau painkiller terbagi dua, yaitu yang dijual secara bebas di apotek, serta yang membutuhkan resep dokter. Keduanya sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran dokter dan tidak boleh sembarangan. Pasalnya, obat painkiller dapat menimbulkan efek samping atau bahkan risiko komplikasi serius. Terlebih lagi painkiller yang diperoleh berdasarkan resep dokter.”

Halodoc, Jakarta – Obat pereda nyeri atau painkiller digunakan untuk meredakan nyeri yang diakibatkan oleh berbagai kondisi. Misalnya seperti sakit kepala, cedera, luka, penyakit tertentu hingga rasa sakit pasca operasi. Obat tersebut bervariasi jenisnya dengan cara kerja, efektivitas serta efek samping yang juga berbeda.

Obat-obatan pereda nyeri ada yang dapat dibeli secara bebas seperti paracetamol, atau aspirin. Namun, ada juga yang membutuhkan resep dokter, misalnya seperti ketorolac hingga opioid.

Meski begitu, apapun jenisnya, obat pereda nyeri sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran dokter dan tidak dipergunakan secara sembarangan  anjuran dokter. Alasannya, obat pereda nyeri juga dapat menimbulkan efek samping atau bahkan risiko komplikasi. Kira-kira apa saja ya? Yuk simak ulasannya di sini!

Baca juga: Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Konsumsi Pereda Nyeri

Efek Samping dan Risiko Komplikasi Painkiller Tanpa Resep

Obat pereda sakit yang paling umum adalah yang dapat dibeli di apotek tanpa resep. Meski begitu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu ke dokter sebelum menggunakannya dan ikuti aturan penggunaan pada label kemasannya. Sebab, beberapa efek samping hingga risiko komplikasi dapat timbul dari penggunaannya, antara lain:

  1. Paracetamol

Paracetamol umumnya digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala atau demam. Obat tersebut hanya dikonsumsi ketika sedang dibutuhkan, tetapi mereka yang mengidap nyeri kronis juga meminumnya secara rutin dalam dosis tertentu.

Paracetamol jarang menimbulkan efek samping, tetapi bila dikonsumsi berlebihan paracetamol dapat menimbulkan risiko komplikasi. Misalnya seperti reaksi alergi seperti ruam pada kulit, penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit. Pada kasus overdosis, parasetamol dapat menimbulkan kerusakan hati atau ginjal yang fatal akibatnya.

  1. Obat antiinflamasi non steroid/Non-Steroid Anti-Inflamation Drugs (NSAID)

NSAID adalah kelompok obat painkiller yang digunakan untuk mengatasi nyeri tingkat ringan hingga sedang yang disertai peradangan. NSAID terdiri dari beberapa contoh obat, di antaranya adalah ibuprofen, aspirin, naproxen. Obat painkiller jenis NSAID aman dikonsumsi dalam dosis kecil atau jangka pendek. 

Namun, penggunaan dalam dosis besar dan berkepanjangan secara umum dapat menimbulkan efek samping yang perlu diwaspadai. Misalnya seperti sakit perut, luka pada lambung, reaksi alergi seperti ruam, batuk, kepala berkunang-kunang, hingga tekanan darah meningkat. Sedangkan, penggunaan NSAID jenis aspirin yang berlebihan berisiko menimbulkan komplikasi pembekuan darah yang terhambat.

  1. Acetaminophen

Obat painkiller berjenis acetaminophen (tylenol) dikenal sebagai pereda nyeri non-aspirin. Obat pereda nyeri tersebut umumnya digunakan untuk meredakan demam dan sakit kepala. Namun, obat jenis acetaminophen tidaklah meredakan peradangan pada tubuh.

Acetaminophen umumnya tidak menyebabkan masalah perut seperti penggunaan aspirin. Namun, penggunaannya yang berlebihan atau konsumsinya yang disertai alkohol dapat meningkatkan risiko komplikasi kerusakan hati.

Baca juga: Kenali Efek Samping dari Obat Atorvastatin

Efek Samping dan Risiko Painkiller yang Diresepkan

Bila dibandingkan dengan painkiller yang dijual secara bebas, obat pereda nyeri yang diresepkan adalah obat kuat, sehingga dapat membawa risiko masalah yang lebih tinggi. Salah satunya adalah opioid yang berisiko menimbulkan ketagihan dan menyebabkan penyalahgunaan. 

Obat tersebut digunakan untuk mengatasi nyeri tingkat menengah hingga berat. Misalnya, untuk mengatasi rasa sakit pasca operasi atau mengatasi nyeri akibat penyakit kanker.

Sementara itu, penggunaan painkiller jenis opioid dapat menimbulkan beberapa efek samping. Misalnya seperti sembelit, penglihatan kabur, kelelahan, sakit kepala, mual, perubahan suasana hati, hingga perubahan suasana hati. Agar dapat mengurangi risiko tersebut, umumnya painkiller jenis opioid hanya diresepkan untuk penggunaan jangka pendek. Misalnya konsumsi opioid selama beberapa hari setelah operasi.

Maka dari itu, penggunaan obat-obatan painkiller yang diresepkan seperti opioid harus dikonsumsi sesuai anjuran ketat dari dokter. Pasalnya, penyalahgunaan obat pereda nyeri dari golongan tersebut dapat menyebabkan kecanduan dan beberapa efek samping. Bila diminum sesuai instruksi dan anjuran dokter, efek samping yang muncul biasanya tidaklah parah.

Baca juga: Apa Saja Manfaat Mengonsumsi Obat Amlodipine?

Itulah alasan mengapa konsumsi painkiller sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dari dokter bagi yang diresepkan. Sedangkan, penggunaan obat painkiller yang dijual bebas sebaiknya juga dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter  Sebab, apapun jenisnya, obat painkiller dapat menimbulkan efek samping atau bahkan komplikasi serius bila penggunaannya tidak sesuai dosis yang aman. 

Apabila kamu mengalami sakit kepala dan kamu ingin mengonsumsi obat pereda nyeri untuk mengatasinya, segeralah hubungi dokter terlebih dahulu. Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu dapat menghubungi dokter untuk bertanya seputar obat painkiller yang sesuai. Tentunya lewat fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download aplikasi Halodoc sekarang!

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg

Referensi: 

WebMD. Diakses pada 2021. What Are the Side Effects of Pain Medication?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Pain Relievers
Medine Plus. Diakses pada 2021. Over-the-counter pain relievers
NHS. Diakses pada 2021. Which painkiller?