• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Pekerja Kesehatan Rentan Tertular Hepatitis D
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Pekerja Kesehatan Rentan Tertular Hepatitis D

Alasan Pekerja Kesehatan Rentan Tertular Hepatitis D

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 15 Juni 2022

“Hepatitis D adalah penyakit hati akut dan kronis yang disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Tenaga medis berisiko tinggi terinfeksi akibat paparan darah pengidap yang masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit.”

Alasan Pekerja Kesehatan Rentan Tertular Hepatitis D

Halodoc, Jakarta – Hepatitis D adalah replikasi virus hepatitis B. Keterkaitan virus hepatitis B dan D dianggap sebagai bentuk paling parah dari hepatitis virus kronis. Kondisi ini dapat berkembang pesat dan mengancam nyawa jika menyerang organ hati. Melakukan vaksinasi jadi metode mencegah infeksi hepatitis D.

Alasan Tim Medis Rentan Terkena Hepatitis D

Jurnal Needs of Individuals Living With Hepatitis Delta Virus and Their Caregivers, 2016–2019 menyebutkan, virus hepatitis D (HDV) adalah koinfeksi serius dari virus hepatitis B (HBV) yang memengaruhi 48 hingga 72 juta orang di seluruh dunia. Tenaga medis jadi salah satu profesi yang berisiko tinggi terinfeksi virus ini.

Infeksi virus berasal dari luka terbuka, suntikan, pisau, dan benda lain yang sudah terpapar darah pengidap. Selain darah infeksi juga bisa disebabkan oleh paparan selaput lendir dari cairan tubuh pengidap. Melansir dari World Health Organization, penularan dari ibu ke anak bisa saja dialami, tetapi jarang terjadi. 

Anak-anak disarankan untuk melakukan vaksinasi sejak dini untuk menurunkan angka kejadian hepatitis D di seluruh dunia. Vaksin hepatitis B bekerja dengan merangsang tubuh memproduksi antibodi terhadap penyakit. Vaksin juga disarankan bagi orang yang berisiko terkena penyakit seperti:

  • Pekerja kesehatan.
  • Pengidap hemofilia.
  • Tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi.
  • Orang yang sering berganti pasangan.
  • Pria yang berhubungan seks dengan sesama pria.

Selain vaksin, interferon alfa pegilasi adalah pengobatan yang umumnya direkomendasikan untuk pengidap. Pengobatan berlangsung setidaknya selama 48 minggu terlepas dari respon pasien. Virus cenderung memberikan tingkat respons yang rendah terhadap pengobatan.

Namun, pengobatan dikaitkan dengan kemungkinan perkembangan penyakit yang lebih rendah. Perawatan ini dikaitkan dengan efek samping yang signifikan dan tidak boleh diberikan kepada pasien dengan sirosis dekompensasi, kondisi kejiwaan aktif, dan penyakit autoimun.

Diperlukan lebih banyak upaya untuk mengurangi beban global hepatitis B kronis dan mengembangkan obat-obatan yang aman serta efektif melawan penyakit. Tentunya dengan harga yang cukup terjangkau untuk digunakan dalam skala besar bagi mereka yang membutuhkan.

Gejala yang Tampak

Kebanyakan orang dengan hepatitis D akut memiliki gejala termasuk:

  • Merasa sangat lelah.
  • Mual dan muntah.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Nyeri di bagian atas perut.
  • Urine berwarna keruh.
  • Feses berwarna pucat.
  • Kekuningan pada bagian putih mata dan kulit.

Sebaliknya, kebanyakan orang dengan hepatitis D kronis memiliki sedikit gejala hingga komplikasi berkembang. Kondisi tersebut terjadi beberapa tahun setelah terinfeksi. Berikut beberapa gejala yang dialami:

  • Kelemahan dan merasa sangat lelah.
  • Penurunan berat badan.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki.
  • Kulit gatal.
  • Penyakit kuning.

Hepatitis D adalah virus yang menginfeksi hati. Dalam intensitas ringan pengidap dapat pulih dari penyakit dengan langkah penanganan yang tepat. Penyakit ini juga bisa berkembang menjadi kronis jika gejala terlambat diatasi. Jika mengalami gejalanya, segera tanya dokter untuk menentukan langkah perawatan tepat.

Jika kamu membutuhkan informasi lain seputar kesehatan, gaya hidup, dan pola hidup sehat lainnya, silakan download Halodoc sekarang juga!

Referensi:

Prev Chronic Dis. 2020; 17: E159. Diakses pada 2022. Needs of Individuals Living With Hepatitis Delta Virus and Their Caregivers, 2016–2019.
World Health Organization. Diakses pada 2022. Hepatitis D.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses pada 2022. Hepatitis D.