• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Psikologis Orang Suka Marah di Medsos

Alasan Psikologis Orang Suka Marah di Medsos

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Alasan Psikologis Orang Suka Marah di Medsos

Kemudahan untuk menekan tombol block dan delete juga semakin meringankan pengguna medsos untuk ngomong tanpa beban tanpa perlu peduli perasaan orang yang dikomentari. Pada faktanya, amarah yang kita tulis di medsos juga bisa berpengaruh pada orang yang membaca ataupun orang yang menjadi sasaran amarah kita.”

Halodoc, Jakarta – Kamu pasti pernah menemukan orang-orang berbalas pesan sambil marah di medsos. Entah itu di Instagram, TikTok, atau Twitter. Biasanya ini terjadi ketika menanggapi isu tertentu, karena silang pendapat, sehingga terjadi pertengkaran di dunia maya melalui medsos

Atau banyak juga netizen yang berkomentar pedas di kolom status orang yang tidak dikenalnya, biasanya pada media sosial public figure. Kemudian, datang netizen lain yang menyiram bensin dalam api. 

Alhasil, terjadilah keributan, masing-masing saling berbalas komen dan marah-marah di medsos. Fenomena apakah ini? Apa alasan psikologis orang suka marah di medsos?

Anonim Makanya Marahnya Bisa Lebih Bebas dan Lepas

Menurut survei yang dilakukan oleh FiveThirtyEight.com pada tahun 2016, orang-orang yang senang berbalas komentar di medsos dengan beberapa alasan. Mulai dari memperbaiki kesalahan, menambah diskusi, berbagi perspektif pribadi, mencoba untuk menjadi lucu, memuji konten, dan mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan.

Kemudian, makin ke sini terjadi perubahan penggunaan medsos yang mengarah kepada sesuatu yang agresif. Karakternya yang daring dan tidak membutuhkan interaksi tatap muka, membuat orang-orang lebih “bebas” dalam melepaskan opininya. 

Baca juga: Pengaruh Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Kebebasan ini akhirnya menjadi kebablasan. Tidak lagi mengeluarkan pendapat, malah amarah, ketidaksetujuan akan suatu hal, dan kesenangan mengomentari orang lainnya secara anonim. Anonymous ini membuat orang merasa bebas berpendapat dan mengungkapkan perasaannya tanpa perlu orang mengenal siapa dirinya. 

Kemudahan untuk menekan tombol block dan delete juga semakin meringankan pengguna medsos untuk ngomong tanpa beban tanpa perlu peduli perasaan orang yang dikomentari. Pada faktanya, amarah yang kita tulis di medsos juga bisa berpengaruh pada orang yang membaca ataupun orang yang menjadi sasaran amarah kita.

Hanya saja, karena kita tidak berhadapan langsung dengan orangnya, jadi kita tidak bisa melihat dan tahu seperti apa responnya. Bisa saja dia mengalami guncangan atau amarah kita tersebut memberikan pengaruh pada keputusan-keputusannya. 

Baca juga: Suka Marah-Marah Tanpa Sebab, Waspada Gangguan BPD

Tren kemarahan yang diungkapkan lewat medsos ini menjadi lebih marak di masa pandemi. Ketika orang-orang mengalami keterbatasan untuk bertemu dengan teman-temannya, kemudian ada tekanan psikologi dari kondisi serba sulit, sehingga butuh pelepasan untuk kondisi emosional yang demikian.

Melampiaskan kemarahan melalui medsos menjadi salah satu cara untuk melepaskan beban emosional secara anonim. Lantas, apakah ini sesuatu yang sehat?

Mengalihkan Amarah ke Medium yang Lebih Sehat

Sejatinya kemarahan adalah emosi yang cukup sensasional. Ibaratnya, kemarahan seperti efek bola salju yang bisa menjadi penularan emosional ke orang-orang yang berinteraksi dengan emosi tersebut. 

Membicarakan rasa amarah tersebut dengan teman atau pasangan memang akan membantu kamu untuk memprosesnya. Tetapi, bila cara pengungkapannya salah, ini akan gagal membantu diri sendiri dan justru malah semakin mengobarkan amarah tersebut ke orang-orang lainnya. 

Baca juga: Gangguan Kepribadian dengan Ledakan Amarah

Jadi, hal yang paling baik untuk dilakukan adalah menjauhkan diri dari medsos untuk sementara ketika kamu sedang marah. Jangan terlalu cepat menekan jari lalu posting sesuatu, atau memberikan komentar yang lega sesaat tapi bisa merugikan diri sendiri.

Ketimbang marah-marah tidak jelas, lebih baik mendiskusikan apa yang kamu alami dengan orang yang dipercaya atau kalau mau lebih sehat lagi, alihkan ke kegiatan positif lainnya. Misalnya olahraga, membuat jurnal, ini lebih baik ketimbang menularkan amarah yang bisa berdampak pada kemarahan yang lebih tak terkendali.

Kalau kamu merasa tidak bisa mengontrol emosimu yang seringnya malah memicu konflik dengan orang-orang di sekeliling, coba konsultasikan masalahmu dengan psikolog lewat aplikasi Halodoc!

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2021. The psychology of Internet rage
Psychology Today. Diakses pada 2021. Why Social Media Makes Us Angrier—and More Extreme
Science Focus. Diakses pada 2021. Why social media makes us so angry, and what you can do about it