• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan Tingkat Kematian Akibat Corona Berbeda Tiap Wilayah

Ini Alasan Tingkat Kematian Akibat Corona Berbeda Tiap Wilayah

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Setiap hari, jumlah kasus infeksi virus corona terus bertambah. Apabila kamu memerhatikannya informasi secara detail, dahulu Tiongkok sebagai negara asal virus ini selalu menempati posisi teratas sebagai negara dengan angka kasus yang paling banyak. Namun belakangan, kondisi telah berubah. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memiliki kasus yang melebihi Tiongkok. Parahnya lagi, angka kematian di negara-negara ini menjadi semakin tinggi. 

Melansir Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University, Amerika Serikat sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi tercatat memiliki fatality rate sebesar 2,9 persen. Sementara Tiongkok sebagai negara asal virus ini bermula fatality rate-nya mencapai 4 persen. Sebagai salah satu negara dengan penanganan COVID-19 yang cukup baik, Singapura berhasil menekan fatality rate hanya 0,4 persen saja. Lantas, mengapa di negara atau wilayah tertentu tingkat kematian bisa jadi lebih tinggi? 

Baca juga: Update Kasus Corona di Indonesia

Penyebab Tingkat Kematian Tiap Wilayah yang Berbeda-Beda

Pandemi COVID-19 ini memang sesuatu yang rumit, begitu pula alasan perbedaan tingkat kematian di berbagai wilayah. Melansir Huffington Post, terdapat beberapa hal yang dikaitkan dengan hal ini. Beberapa faktor tersebut antara lain: 

  • Cara Masyarakat Setempat Merespon Pandemi 

Bagaimana orang-orang di suatu negara atau kota merespons virus dan seberapa cepat mereka memobilisasi merupakan hal yang memengaruhi tingkat kematian. Di Korea Selatan, para pejabat negara dengan cepat berunding dengan peneliti medis dan perusahaan farmasi untuk mulai melakukan tes pada bulan Januari. Pada Februari lalu, Korea Selatan menguji secara agresif untuk mengidentifikasi kasus-kasus bahkan pada orang-orang yang tidak menunjukkan gejala. Alhasil, mereka dapat melakukan karantina secara efisien dan menekan penyebaran virus.

Sementara itu, Italia, sebagai perbandingan, adalah salah satu negara yang cukup lambat merespon krisis ini di awal-awal waktu. Penduduknya awalnya enggan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran virus. Hasilnya adalah ledakan kasus yang membuat sistem perawatan kesehatan negara kewalahan. Akibatnya, Italia mengalami tingkat kematian yang lebih tinggi daripada Korea Selatan.

Baca juga: Mengenal 3 Jenis Tes Corona yang Digunakan di Indonesia

  • Tingkat Usia dan Kesehatan Penduduk 

Di Jerman, para pejabat negara percaya bahwa banyak dari mereka yang pertama kali tertular virus dari pondok-pondok ski. Padahal, mereka cenderung lebih muda dan lebih sehat secara fisik. Namun, pejabat negara berhasil menekan virus ini menyebar dengan melakukan pengujian yang kuat dan langkah-langkah pencegahan lainnya agar penyakit ini tidak menyebar ke kelompok yang lebih tua dan rentan.

Jika penyakit ini menyebar ke orang yang berusia lanjut, maka komplikasinya bisa sangat tinggi. Hal ini yang terjadi di Italia, apalagi saat fasilitas kesehatan sudah tidak mampu lagi menampung orang-orang yang memiliki komplikasi ini kemudian tidak diprioritaskan untuk diberikan pengobatan. Pemerintah Italia memutuskan agar perawatan diutamakan untuk mereka yang memiliki kemungkinan selamat lebih tinggi karena tidak memiliki masalah kesehatan penyerta. 

Sementara di New Orleans, Amerika Serikat, penduduk di sana tercatat banyak memiliki masalah kesehatan penyertanya, seperti hipertensi, penyakit ginjal dan obesitas. Itulah salah satu alasan mengapa wilayah ini memiliki tingkat kematian COVID-19 tertinggi di negara ini.

  • Infrastruktur Kesehatan dan Aksesnya 

Kini sudah tercatat ada lebih banyak kasus COVID-19 di lingkungan miskin di New York City daripada di area penduduk yang lebih kaya tinggal. Penduduk pedesaan di seluruh Amerika Serikat juga sedang bersiap-siap untuk menghadapi pandemik ini dengan penuh rasa khawatir akibat kurangnya akses ke rumah sakit. Pasalnya, beberapa akses rumah sakit di pedesaan Amerika telah ditutup sejak beberapa dekade lalu. 

Baca juga: Perhatikan Ini Jika Tinggal Serumah dengan Pasien Corona

Memastikan akses kesehatan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat memang bukan pekerjaan yang mudah bagi pemerintah. Oleh karena itu Halodoc hadir untuk membantu tugas pemerintah Indonesia dalam meratakan akses kesehatan ini. 

Di tengah pandemi ini, kamu bisa mengakses Halodoc untuk memastikan apakah kamu memiliki gangguan penyakit yang mirip dengan COVID-19 atau tidak. Kamu bisa menghubungi dokter melalui chat, dan dokter akan memberikan saran kesehatan terkait kondisi yang kamu alami. Praktis bukan? Tunggu apa lagi, download aplikasi Halodoc sekarang di smartphone kamu!

Referensi:
Huffington Post. Diakses pada 2020. Here’s Why The Coronavirus Mortality Rate Is Different From Place To Place. 
Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University. Diakses pada 2020. Coronavirus COVID-19.