• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Alami Tantrum, Perlukah ke Psikolog?

Anak Alami Tantrum, Perlukah ke Psikolog?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anak Alami Tantrum, Perlukah ke Psikolog?

Halodoc, Jakarta – Anak yang masih berusia di bawah lima tahun sangat rentan mengalami tantrum, yaitu kondisi ketika ia akan sering mengamuk, marah, dan menangis meraung-raung. Lantas, apakah hal ini menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami emosi yang tidak stabil? Ternyata, belum tentu demikian. Pasalnya, tantrum merupakan kondisi yang normal terjadi, dan bagian dari proses pertumbuhan dan perkembangan sang buah hati. 

Tantrum biasanya terjadi ketika anak mempunyai dua jenis emosi yang terbilang kuat, yaitu kesedihan dan kemarahan. Kondisi ini juga bisa terjadi karena kemampuan komunikasi Si Kecil yang belum sempurna, sehingga ia menjadi lebih mudah frustasi saat orangtuanya tidak mampu memahami apa yang sedang ia inginkan.

Baca juga: Mengenal 2 Jenis Tantrum pada Anak

Lalu, Perlukah ke Psikolog?

Meski tantrum memang sangat mungkin terjadi pada setiap anak, tetapi kondisi ini bisa ditangani sendiri. Kuncinya adalah tidak ikut terpancing emosi sehingga menjadi mudah marah, bahkan melakukan tindakan kekerasan fisik pada anak. Ingat bahwa anak sedang belajar mengutarakan perasaannya, sehingga ibu dan ayah wajib mendampingi dan membantunya agar bisa terkelola dengan baik.

Akan tetapi, tidak ada salahnya mendapatkan bantuan ahli, dalam hal ini psikolog anak jika ibu merasa tidak mampu mengendalikan tantrum yang dialami anak. Terlebih jika frekuensinya terasa berlebihan atau lebih sering terjadi dalam sehari. Pasalnya, bisa saja ada masalah pada perkembangan Si Kecil. Adapun tanda tantrum yang tidak wajar pada anak, yaitu: 

  • Durasi Tantrum Lebih Lama

Coba perhatikan, apakah anak tantrum atau mengamuk lebih lama dari biasanya. Apabila anak memiliki indikasi masalah kesehatan mental, biasanya ia akan lebih sering mengamuk, kira-kira 20 sampai 30 menit tanpa jeda. Pun, saat ia kembali tantrum, durasinya bisa jadi sama atau bahkan lebih lama. 

Baca juga: Anak Tantrum, Ini Sisi Positifnya untuk Orang Tua

  • Tak Mampu Mengendalikan Diri Sendiri

Anak yang tantrum sering kali terjadi karena ingin mendapatkan perhatian sepenuhnya dari orangtuanya. Bisa jadi karena sedang lapar, kelelahan, atau karena ia menginginkan sesuatu. Jadi, saat anak tantrum, ibu jangan sampai terpancing emosi. 

Tetaplah tenang dan biarkan Si Kecil mengeluarkan emosinya serta mencoba mengendalikan diri sendiri. Akan tetapi, apabila ia tak segera bisa mengendalikan dirinya dan menjadi lebih tenang, mungkin ada masalah dengan bagaimana ia mengatur emosinya.

  • Cenderung Menyakiti Diri Sendiri Maupun Orang Lain Ketika Marah

Apabila anak tantrum hingga ia melukai diri sendiri atau orang lain, bisa saja ada indikasi masalah kesehatan mental pada dirinya. Beberapa kasus menunjukkan, anak yang mengalami depresi berat akan sering mencakar, menggigit, menendang benda apa saja yang ada di dekatnya, hingga membenturkan kepalanya ke tembok. 

Mencubit, memukul, menendang, atau aktivitas fisik lain yang dilakukan anak terhadap orang lain saat mengamuk juga perlu ibu waspadai. Jika ini terjadi, segera tanyakan pada psikolog anak agar penanganan bisa segera dilakukan. 

Baca juga: 4 Cara untuk Mencegah Anak Mengalami Tantrum

Agar tanya jawab dengan psikolog anak lebih mudah, ibu bisa download aplikasi Halodoc di ponsel. Kapan saja ibu membutuhkan bantuan dokter anak, tinggal akses aplikasi Halodoc. Jadi, ibu bisa segera mendapatkan solusi terbaik dan terhindar dari komplikasi yang membahayakan. 


Referensi:

WebMD. Diakses pada 2021. 5 Tantrum Red Flags. 

Dr Greene. Diakses pada 2021. Temper Tantrums – When to Worry.