• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak-Anak atau Dewasa, Mana yang Lebih Rentan Terkena Tifus?

Anak-Anak atau Dewasa, Mana yang Lebih Rentan Terkena Tifus?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Tifus atau tipes menjadi salah satu jenis infeksi serius dan bisa membahayakan. Masalah kesehatan ini terjadi karena peran bakteri Salmonella typhi, dengan gejala yang bisa saja ringan hingga berat. Tanda khas dari penyakit ini adalah demam ringan yang bisa berubah menjadi demam tinggi dalam waktu singkat. 

Anak-Anak Lebih Rentan Terkena Tifus

Ternyata, dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak lebih rentan terkena penyakit tifus. Bukan tanpa alasan, bakteri yang menyebabkan penyakit ini sangat mudah dijumpai di air atau makanan kotor. Nah, anak-anak yang senang membeli makanan alias jajan sembarangan inilah yang rentan terserang penyakit tifus. 

Tidak hanya berasal dari minuman atau makanan yang tidak higienis, tifus juga bisa terjadi pada seseorang akibat sanitasi lingkungan yang buruk. Anak kecil suka memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulut. Apabila tangannya tidak berada dalam keadaan bersih, bakteri akan sangat mudah menginfeksi tubuh. 

Baca juga: Rentan Terjadi saat Banjir, Ini 9 Gejala Penyakit Tifus

Terakhir, penularan tifus pada anak bisa terjadi melalui kontak langsung. Sayangnya, ini lebih rentan terjadi karena kekebalan tubuh anak yang memang masih lebih lemah dan tidak sekuat orang dewasa. Inilah, mengapa penyakit tifus lebih rentan terjadi pada anak. 

Berdasarkan laman MomJunction, hampir tiga hingga lima persen orang yang terkena tifus pada gilirannya akan menjadi pembawa atau carrier tanpa mengetahui bahwa strain bakteri masih ada di tubuh. Beberapa mungkin akan mengalami masalah kesehatan ringan yang akan menghilang dalam waktu beberapa minggu. Namun, beberapa yang lain bisa menjadi pembawa bakteri jangka panjang dan berpotensi membahayakan kesehatan orang lain. 

Mengenali Gejala Tifus pada Anak

Seperti dikutip dari laman KidsHealth, tifus bisa datang secara mendadak atau bertahap selama beberapa minggu. Penyakit ini biasanya menyebabkan demam tinggi, sakit perut, pegal pada seluruh tubuh hingga satu atau dua minggu setelah paparan bakteri. Jika ibu mengenali adanya gejala ini pada sang buah hati, segera bawa ia berobat ke rumah sakit terdekat. Agar tidak lagi perlu mengantre, sebaiknya buat janji dahulu dengan dokter melalui aplikasi Halodoc

Baca juga: Awas, Ini Komplikasi Penyakit Akibat Tifus

Pasalnya, jika infeksi tidak segera diobati, akan terjadi penurunan berat badan, perut membengkak atau terasa kembung, dan muncul ruam di bagian dada bawah atau perut bagian atas. Tanpa adanya pengobatan, tifus bisa berlangsung hingga sebulan atau lebih dan berubah menjadi kondisi yang sangat serius, bahkan bisa mengancam jiwa. 

Bagaimana Cara Pencegahan Tifus pada Anak?

Mencegah menjadi satu-satunya cara terbaik agar sang buah hati tidak tertular penyakit tifus. Beberapa cara pencegahan yang bisa ibu lakukan, berdasarkan laman About Kids Health, yaitu: 

  • Memastikan bahwa anak mendapatkan cukup asupan cairan agar terhindar dari dehidrasi. Pastikan pula anak minum dari botolnya sendiri, karena sebagian besar masalah tifus terjadi karena kontaminasi air dan makanan yang tidak higienis. 

  • Pastikan bahwa anak selalu mencuci tangan setiap kali ia selesai bermain, menggunakan toilet, dan sebelum makan. Ajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun untuk menghilangkan semua kuman dan bakteri penyebab penyakit. 

  • Jika mengonsumsi buah dan sayuran, pastikan semuanya telah dicuci sampai benar-benar bersih. 

Baca juga: Bolehkah Pengidap Tifus Makan Buah Asam?

Itulah yang harus diketahui tentang penyakit tifus yang bisa menyerang orang dewasa, namun rentan menyerang anak-anak. Selalu jaga kesehatan dan jaga agar tubuh terhidrasi dengan baik, ya.

Referensi: 
About Kids Health. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
KidsHealth. Diakses pada 2020. Typhoid Fever.
MomJunction. Diakses pada 2020. Typhoid in Children - Causes, Symptoms & Treatment.