• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak-Anak Juga Bisa Alami Trauma, Kenali Gejalanya

Anak-Anak Juga Bisa Alami Trauma, Kenali Gejalanya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anak-Anak Juga Bisa Alami Trauma, Kenali Gejalanya

“Ketika trauma yang dialami anak tidak ditangani dengan benar, maka tumbuh kembangnya akan terhambat dan kehidupan sosialnya bisa terganggu. Karena itu, orangtua dan keluarga perlu tahu apa saja gejala yang bisa terjadi pada anak yang mengalami trauma.”

Halodoc, Jakarta – Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga dapat mengalami trauma. Penyebab munculnya trauma bisa sangat bervariasi. Ketika sudah memiliki anak, kamu sebagai orang tua sangat perlu untuk mengetahui gejala trauma yang dapat muncul pada anak.

Faktor-faktor yang dapat membuat anak mengalami trauma, antara lain menjadi korban perundungan (bullying), cekcok orangtua, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, bencana alam, kematian orang terdekat, kecelakaan, dan lain-lain. 

Ketika trauma yang dialami anak tidak ditangani dengan benar, maka tumbuh kembangnya bisa akan terhambat. Oleh karena itulah, orang tua perlu tahu apa saja gejala yang bisa dialami pada anak yang mengalami trauma. 

Beberapa waktu lalu, kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh artis Vanessa Angel serta suaminya, telah membuat anak semata wayang mereka, Gala, mengalami trauma akibat kecelakaan yang dialaminya. Informasi diperoleh di beberapa awak media melalui konfirmasi keluarga dan dokter yang merawat.

Anak yang mengalami trauma harus diberi perhatian lebih agar trauma yang menyelimutinya tidak mengganggu tumbuh kembang dan kehidupan sosialnya. Jika tidak, dikhawatirkan kecemasan dan ketakutan akan traumanya tersebut akan terbawa sampai ia beranjak dewasa.

Dalam bahasa medis, trauma semacam ini sering disebut sebagai post-traumatic stress disorder merupakan gangguan akibat melihat maupun mengalami sesuai kejadian berbahaya atau berat yang berpengaruh pada psikologis anak.

Gejala Trauma pada Anak

Mengetahui gejala trauma pada anak harus sesegera mungkin agar anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Beberapa gejala yang perlu orang tua ketahui, antara lain:

  1. Perubahan Perilaku

Biasanya perubahan emosi anak yang sedang mengalami trauma juga dibarengi dengan perubahan perilaku. Selain jadi lebih manja, anak yang tadinya sudah tidak mengompol jadi kembali mengompol karena cemas. Atau anak yang tadinya tidak rewel jadi kembali rewel karena ketakutan. Dan yang paling parah, anak bisa menolak untuk makan sehingga menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

  1. Perubahan Emosi 

Perubahan emosi merupakan gejala yang paling mungkin terlihat ketika anak mengalami trauma. Anak yang mengalami trauma biasanya menjadi lebih sering ketakutan, bahkan pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia takuti. Selain itu, anak juga sering merasa sedih dan menangis tanpa sebab. Bahkan, tak jarang ia suka menyalahkan dirinya sendiri.

  1. Menjadi Pendiam

Kamu patut curiga kalau biasanya sifat anak periang dan terbuka dengan orang tuanya, lalu mendadak ia jadi pendiam dan tertutup, Apalagi kalau anak sampai menjauh. Cobalah tanyakan apa yang sedang mereka pikirkan atau seputar perubahan perilakunya tersebut. Jika pendekatan yang kamu lakukan berhasil, biasanya sedikit demi sedikit anak akan bercerita.

  1. Menjadi Manja

Oleh karena ingin memperoleh perhatian yang lebih, biasanya anak akan menjadi lebih manja. Sebagai orangtua, jangan langsung memarahi anak. Kamu bisa tanyakan kepada anak apa yang membuatnya seperti itu. 

Beberapa hal yang bisa orangtua lakukan di rumah untuk membantu anak keluar dari trauma yang dialaminya::

1. Berikan Rasa Tenang

Rasa tenang yang diperoleh anak akan meningkatkan rasa percaya diri anak. Agar anak merasa tenang, Jelaskan bahwa trauma dapat dialami oleh siapa saja. Selain itu, sampaikan juga bahwa rasa cemas merupakan hal yang wajar. 

2. Latih Keberanian Anak

Jangan biarkan anak tenggelam pada trauma yang dialaminya karena dapat menyebabkan anak semakin merasa cemas dan takut. Dalam melatih keberanian anak, pastikan oranngtua melakukannya secara bertahap. Misalnya, dimulai dengan mengenalkan anak pada sumber trauma atau melatihnya untuk lebih bersikap bijak menyikapi suatu kejadian.

3. Bimbing Anak dengan Sabar

Anak-anak mudah mengatasi stres psikologis terhadap trauma. Oleh karena itu, orangtua harus sabar dan berperan aktif saat anak berusaha melewati masa-masa penuh kecemasannya. 

Jika butuh bantuan ahli untuk mengatasi trauma anak, kamu bisa menghubungi ahli psikologi melalui aplikasi Halodoc. Hubungi psikolog atau psikiater melalui Video/Voice Call atau Chat dan sampaikan keluhan yang dialami. Ayo, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg

Referensi:

Childmind. Diakses pada 2021. Helping Children Cope After a Traumatic Event.
NIMH. Diakses pada 2021. Helping Children and Adolescents Cope with Disasters and Other Traumatic Events: What Parents, Rescue Workers, and the Community Can Do
NCTSN. Diakses pada 2021. The National Child Traumatic Stress Network.
Kids Health. Diakses pada 2021. Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) (for Parents).