07 February 2019

Anak-Anak Lebih Rentan Alami Alergi Telur, Kok Bisa?

anak anak lebih rentan alami alergi telur kok bisa

Halodoc, Jakarta – Anak-anak yang masih dalam pertumbuhan perlu mengonsumsi berbagai macam makanan bernutrisi, salah satunya adalah telur. Tidak hanya mengandung protein yang sangat tinggi, telur juga mengandung vitamin, mineral, dan omega 3 yang semuanya sangat baik untuk kesehatan anak. Tapi sayangnya, telur juga dikenal sebagai salah satu jenis makanan yang paling sering memicu alergi pada anak, selain kacang dan susu.

Dibanding orang dewasa, anak-anak memang lebih rentan mengalami alergi telur. Mengapa demikian? Simak penjelasannya di sini.

Alergi telur terjadi karena hipersensitivitas yang menimbulkan respons berlebihan karena adanya “kesalahpahaman” pada sistem imunitas tubuh yang menganggap protein telur dalam makanan yang dikonsumsi sebagai zat berbahaya. Sebagai upaya perlindungan tubuh, sistem imun akan melepaskan zat histamin untuk melawan zat tersebut. Reaksi tubuh inilah yang disebut sebagai reaksi alergi.

Alergi telur lebih sering dialami anak-anak, karena anak-anak terutama bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih belum sempurna, sehingga tidak mampu menerima protein dalam telur. Alergi telur bisa menjadi reaksi yang sangat mengganggu pada bayi yang berusia 6 sampai 15 bulan. Bayi biasanya bisa mengalami alergi bila menyusu pada ibunya yang habis mengonsumi telur atau produk olahan telur lainnya.

Sedangkan pada anak-anak, alergi telur biasanya terjadi setelah mengonsumsi putih telur, namun tidak menutup kemungkinan alergi juga bisa disebabkan oleh protein yang berasal dari kuning telur. Seiring bertambahnya usia, reaksi alergi telur yang dialami anak akan berkurang, karena sistem pencernaannya sudah lebih matang.

Selain anak-anak, risiko alergi telur yang tinggi juga bisa dialami oleh orang yang:

  • Memiliki orangtua yang juga mengidap alergi makanan atau penyakit asma.

  • Mengidap eksim atopik, yaitu penyakit kulit yang bisa menimbulkan rasa gatal dan ruam merah pada kulit. Reaksi kulit tersebut bisa menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami alergi makanan, termasuk alergi telur.

Salah satu pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengetahui alergi telur pada anak adalah dengan melakukan tes tusuk kulit (skin prick test).

Baca juga: 5 Fakta Alergi Telur yang Perlu Diketahui

Kenali Gejala Alergi Telur pada Anak

Setiap anak bisa mengalami gejala yang berbeda-beda saat mengalami alergi telur. Tapi umumnya, reaksi alergi telur akan muncul tidak lama setelah anak mengonsumsi atau terpapar bahan yang mengandung telur. Tingkat keparahan gejala yang timbul pun bervariasi, mulai dari ringan, sedang, sampai parah. Berikut gejala-gejala alergi telur yang umumnya akan dialami anak setelah mengonsumsi telur:

  • Ruam kemerahan pada kulit atau biduran

  • Bibir atau kelopak mata bengkak

  • Mata terasa gatal atau berair

  • Telinga atau tenggorokan terasa gatal

  • Hidung tersumbat, beringus, ataupun bersin-bersin

  • Gangguan pernapasan, seperti batuk, sesak napas, ataupun napas berbunyi (mengi).

  • Gangguan pencernaan, misalnya kram perut, mual, serta muntah.

Para orangtua juga diharapkan untuk waspada, karena alergi telur berpotensi menyebabkan anak mengalami anafilaksis atau reaksi alergi telur parah yang membahayakan nyawa. Berikut gejala- gejala anafilaksis yang perlu diwaspadai:

  • Denyut jantung berdetak cepat.

  • Sulit bernapas, karena ada benjolan atau pembengkakan di tenggorokan, sehingga saluran udara terhambat.

  • Kram atau nyeri perut.

  • Syok, yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara drastis, pusing, dan pingsan.

Baca juga: Anak Alergi Telur, Ibu Harus Apa?

Cara Mencegah Anak Mengalami Alergi Telur

Bila anak mengalami gejala-gejala alergi telur di atas, sebaiknya periksakan anak ke dokter untuk memastikan kondisi tersebut. Dokter dapat memberikan tindakan pengobatan dan pencegahan yang sesuai untuk Si Kecil. Tapi, cara paling efektif yang bisa ibu lakukan untuk mencegah anak mengalami reaksi alergi telur adalah dengan membantu menghindarkan anak dari telur dan jenis makanan lainnya yang mengandung protein telur. Contoh makanan yang mengandung telur, antara lain kue, roti, permen, berbagai makanan yang digoreng dengan dilapisi tepung dan mayones. Ibu menyusui yang memiliki bayi pengidap alergi telur juga dianjurkan untuk menghindari mengonsumsi telur.

Baca juga: Alergi Telur, Hindari 8 Jenis Makanan Ini

Itulah penjelasan mengapa anak-anak lebih rentan mengalami alergi telur. Bila Si Kecil menunjukkan reaksi-reaksi tertentu setelah mengonsumsi telur, coba langsung tanyakan saja kepada dokter lewat aplikasi Halodoc untuk memastikan apakah anak benar-benar mengidap alergi telur. Ibu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk berdiskusi dan minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.