• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Lebih Sering Marah selama Pandemi, Apa Penyebabnya?

Anak Lebih Sering Marah selama Pandemi, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anak Lebih Sering Marah selama Pandemi, Apa Penyebabnya?

“Jika merasa sering cemas atau bosan setahun belakangan ini, hal tersebut dapat dimengerti karena ibu tidak sendirian. Energi negatif tersebut juga sedang dirasakan oleh manusia di belahan dunia manapun, tidak terkecuali anak-anak. Jika anak mengalaminya, salah satu cara mengungkapkannya adalah dengan marah-marah.”

Halodoc, Jakarta – Pandemi virus corona sangat memengaruhi perilaku dan kesehatan banyak orang dari segi fisik dan mental, tidak terkecuali anak-anak. Hal tersebut diduga akibat frekuensi pertemuan dengan orangtua yang semakin sering, sehingga anak menjadi lebih manja, bahkan suka sekali marah-marah. Sebenarnya, apa yang menjadi penyebab anak sering marah selama masa pandemi berlangsung? Kemudian, bagaimana cara mengatasi emosi pada anak tersebut?

Baca juga: Ketahui Cara Penyimpanan Tabung Oksigen di Rumah

Ini yang Jadi Penyebab Anak Sering Marah Selama Pandemi

Anak-anak cenderung mudah sekali marah saat pandemi virus corona seperti sekarang ini. Penyebabnya sendiri adalah, dunia mereka yang terbalik. Di usia anak-anak mereka seharusnya pergi bersekolah atau ke playground untuk sekedar bertemu teman atau bermain. Mereka juga bisa marah akibat orangtua yang berada di depan mata, tetapi tidak meluangkan banyak waktu untuk anak.

Memang kondisi seperti sekarang ini bukan sepenuhnya kesalahan orangtua, tetapi anak-anak tidak mengerti terkait kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan orangtua saat berada di rumah saja. Waktu tidak bisa dilakukan sepenuhnya untuk menemani anak bermain, karena mungkin orangtua harus bekerja di rumah dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Terkait dengan anak yang seringkali marah, orangtua disarankan untuk berhubungan baik dengan emosi anak. Ibu bisa mempelajari apa penyebab anak sering marah. Apakah ia merasa khawatir, sakit hati, takut, sedih, kehilangan, atau kebingungan. Pasalnya, anak-anak cenderung kurang bisa menginterpretasikan emosinya dengan baik tanpa bantuan orangtua.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Efek Vaksin COVID-19 Terhadap Siklus Menstruasi

Cara Mengatasi Emosi pada Anak yang Sering Meledak

Guna mengatasi emosi pada anak dan meredakan amarahnya, ibu sebaiknya memberi pilihan yang cocok bagi mereka untuk menyalurkan emosi anak yang terpendam. Jika orang dewasa melakukan olahraga, menulis, yoga, menonton film, atau mendengarkan musik, anak-anak biasanya lebih membutuhkan orangtua sebagai penyalut emosinya. Berikut ini beberapa hal yang dapat ibu lakukan bersama untuk mengatasi emosi pada anak:

1. Melakukan Kegiatan yang Menyenangkan

Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi emosi pada anak adalah dengan melakukan aktivitas atau kegiatan menyenangkan. Berikut ini beberapa hal tersebut:

  • Menari-nari dengan tarian konyol sembari mendengarkan musik.
  • Berolahraga sembari bermain.
  • Menghentakkan kaki atau baris-berbaris di tempat.
  • Bermain dengan tanah liat atau adonan yang bisa dibentuk.
  • Melukis bersama.
  • Bermain petak umpet atau lari-larian.
  • Mencoret-coret di secarik kertas sembari meluangkan amarah dengan berteriak.

2. Mendalami Perasaan Anak

Langkah selanjutnya dalam mengatasi emosi pada anak adalah mendalami perasaannya. Langkah yang satu ini dapat dilakukan dengan berbicara empat mata tentang apa yang mereka rasakan. Orangtua perlu bertanya kepada anak, terkait hal-hal yang membuatnya marah. Jika jawabannya adalah bosan karena tidak bisa bermain bebas layaknya dengan teman. Ibu bisa melakukan poin pertama. Mengabaikan perasaan anak bukanlah cara yang sehat untuk menghadapi emosinya.

3. Bantu Anak Mengungkapkan yang Dirasakan

Pada beberapa kasus, penyebab anak sering marah adalah karena ia belum menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Berkaitan dengan hal tersebut, ibu harus membantu anak mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kata-kata dan kalimat sederhana. Kata-kata dan kalimat tersebut yang nantinya dapat meluapkan kemarahan, sehingga ibu pun mudah mengerti apa yang dirasakan anak.

4. Berikan Contoh yang Baik

Meski tidak marah secara gamblang, anak tahu kapan ibu atau ayah berkelahi. Jika dibiarkan terus-menerus, hal tersebut dapat menjadi emosi negatif anak, yang bisa saja dicontoh kemudian hari. Jika saat ribut tidak sengaja terlihat oleh anak, jelaskan kepada mereka mengapa pertengkaran tersebut terjadi. Tentunya dengan bahasa yang sederhana. Setelah itu, berilah contoh yang baik, karena anak adalah sebaik-baiknya pencontoh.

Baca juga: Cara Menyusui untuk Ibu Pengidap COVID-19

Setelah mengetahui penyebab anak sering marah tersebut, diharapkan ibu dapat melakukan beberapa upaya untuk mengatasi emosi pada anak yang sering meluap. Selain menjaga kesehatan mental anak dengan sejumlah langkah tersebut, ibu disarankan untuk memenuhi asupan gizi dan nutrisi yang diperlukan dengan mengonsumsi suplemen atau multivitamin tambahan. Untuk membelinya, ibu bisa menggunakan fitur “toko kesehatan” di aplikasi Halodoc, ya.

Referensi:

PennState Extension. Diakses pada 2021. I’m So Mad! Helping Children Deal With Anger During the Pandemic.

Child Mind. Diakses pada 2021. Coronavirus Parenting: Managing Anger and Frustration.

UNICEF. Diakses pada 2021. Is my child regressing due to the COVID-19 pandemic?