• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Memiliki Teman Khayalan, Normal atau Tidak?

Anak Memiliki Teman Khayalan, Normal atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Hampir semua anak kecil memiliki teman khayalan. Baik anak yang pandai bergaul maupun anak yang pendiam sekalipun pasti memilikinya. Umumnya anak-anak memiliki teman khayalan saat ia sudah pandai berbicara. Teman khayalan adalah salah satu cara ia bermain dan berinteraksi sosial saat sedang sendiri. Sosok teman khayalan juga bisa menjadi pertanda jika anak membutuhkan tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah. Ini hal-hal yang perlu ibu ketahui seputar teman khayalan.

Baca juga: Cara Mendidik Anak Perempuan agar Lebih Mandiri

  • Anak Mengetahui Jika Teman Khayalan Tidak Nyata

Ibu perlu mengetahui jika teman anak tidak selalu memiliki wujud manusia. Bisa saja yang ada di pikiran anak adalah kartun-kartun atau karakter lucu. Bentuknya sendiri adalah imajinasi yang anak buat. Tidak jarang anak-anak bisa mendeskripsikan sosok teman khayalannya secara detail, sehingga ibu mengira jika sosoknya benar-benar nyata. Namun ibu tidak perlu khawatir soal ini, ya. Pasalnya, anak-anak benar mengetahui jika sosok teman khayalannya tersebut tidak nyata.

  • Teman Khayalan Membantu Perkembangan Anak

Bukan hanya sebagai teman bermain dan bercerita saja, sosok teman khayalan ternyata berperan dalam perkembangan anak. Secara tidak langsung sosok teman khayalan ini membantu anak dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Anak memiliki teman khayalan cenderung memiliki banyak perubahan dalam hidup, seperti mudah bergaul atau berani tidur sendiri. 

Bukan itu saja, sosok teman khayalan juga dapat melatih anak untuk mengelola emosi dan mampu memulai interaksi dengan orang lain. Secara tidak langsung teman khayalan mampu melatih kemampuan komunikasi anak. Dari hasil studi yang dilakukan, anak yang mempunyai teman khayalan cenderung memiliki kemampuan kognitif, kreativitas, serta fokus yang lebih tinggi ketimbang teman sebayanya yang tidak memiliki teman khayalan.

Baca juga: 6 Kebiasaan Buruk yang Sering Dilakukan oleh Anak

  • Begini Cara Ibu Menyikapinya

Pada dasarnya, anak memiliki teman khayalan akan menguntungkan bagi ibu. Teman imajinasi yang diciptakan oleh anak cenderung memiliki ketakutan, kesukaan, dan harapan yang sama dengan anak. Hal tersebut menjadi salah satu langkah membangun komunikasi pada anak, dengan bertanya mengenai teman khayalannya.

Namun, ibu juga perlu menyikapinya secara bijaksana, ya. Ibu tidak perlu menyalahkan atau menyepelekan imajinasinya. Sebaiknya ibu mengajak anak untuk bertanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga: Haruskah Melarang Anak untuk Punya Media Sosial?

Itulah sejumlah hal menarik tentang teman khayalan anak. Intinya adalah, keberadaan sosok teman khayalan yang tidak terlihat merupakan hal yang normal. Setelah anak berusia tujuh tahun, ia akan disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar, sehingga sosok teman khayalan pun akan menghilang.

Namun jika teman khayalan mengganggu kemampuan bersosialisasi anak, ibu bisa diskusikan hal ini dengan psikolog atau psikiater di aplikasi Halodoc, ya. Ibu perlu mengetahui mengetahui langkah apa yang harus dilakukan. Sebaiknya jangan sepelekan hal yang satu ini, karena akan berpengaruh pada kehidupan sosial anak dalam jangka panjang.

Referensi:
Very Well Family. Diakses pada 2020. Is It OK for Your Child to Have an Imaginary Friend?
Parents. Diakses pada 2020. Your Child’s Imaginary Friends, Explained.
Raisingchild.net. Diakses pada 2020. Imaginary friends.