• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Sedih Tanpa Sebab, Perlukah ke Psikolog?

Anak Sedih Tanpa Sebab, Perlukah ke Psikolog?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Depresi tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, nyatanya anak-anak pun juga bisa mengalami depresi karena suatu hal. Merasa sedih tanpa sebab dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama memang seringkali menjadi pertanda depresi. Jadi, perlukah membawa anak ke psikolog bila ia tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab? Simak dulu penjelasannya di bawah ini.

Merasa sedih adalah hal yang wajar, apalagi bila anak kamu baru saja mengalami kejadian yang menyedihkan, melukai hati, atau tidak menyenangkan. Namun, banyak orang sering mengaitkan kesedihan yang mendalam dengan gejala depresi. Di satu sisi, kesedihan yang mendalam merupakan gejala depresi yang memang tidak boleh diabaikan saja. 

Dengan mendeteksi depresi lebih dini, potensi gangguan mental tersebut untuk disembuhkan semakin besar. Namun, perasaan sedih mendalam yang dirasakan anak bisa saja hanya perasaan normal yang bukan merupakan gejala depresi. Karena itu, sebelum membawa anak ke psikolog, orangtua perlu mengetahui lebih dulu perbedaan antara kesedihan dan depresi. 

Baca juga: Jenis Gangguan Mental yang Dapat Memengaruhi Perkembangan Anak


Ketahui Perbedaan antara Kesedihan dan Depresi

Kesedihan adalah emosi manusia yang normal dan hampir semua orang pernah merasakannya. Kesedihan biasanya dipicu oleh peristiwa, pengalaman atau situasi yang sulit, menyakitkan, maupun mengecewakan. Dengan kata lain, kita cenderung merasa sedih karena sesuatu. Hal ini juga berarti bahwa ketika situasi membaik atau ketika rasa sakit emosional kita memudar, maupun ketika kita telah menyesuaikan diri dengan kehilangan atau kekecewaan, kesedihan itu akan menghilang.

Sementara depresi adalah keadaan emosi yang tidak normal, gangguan mental yang memengaruhi pikiran, emosi, persepsi, dan perilaku kita. Saat mengalami depresi, kamu merasa sedih tentang segalanya. Depresi tidak selalu membutuhkan peristiwa atau sesuatu yang sulit, kehilangan, atau perubahan keadaan sebagai pemicu. Depresi bahkan seringkali terjadi tanpa pemicu.

Selain itu, depresi juga memengaruhi semua aspek kehidupan seseorang dan membuat segalanya menjadi kurang menyenangkan, kurang menarik, atau kurang berharga. Saat depresi, kamu akan menjadi lebih cepat marah, frustasi, dan memerlukan waktu lama untuk bangkit kembali.

Nah, berdasarkan penjelasan perbedaan kesedihan dan depresi, orangtua mungkin sudah bisa menilai sendiri apakah perasaan sedih yang ditunjukkan anak adalah normal atau pertanda depresi. Namun, untuk lebih pasti lagi, orangtua juga perlu tahu gejala depresi pada anak. 

Baca juga: Hypophrenia, Menangis Tanpa Alasan yang Perlu Diketahui


Gejala Depresi pada Anak

Untuk dapat didiagnosis mengidap depresi, anak setidaknya perlu menunjukkan 5 dari gejala depresi berikut untuk durasi terus menerus selama dua minggu:

  • Suasana hati tertekan atau mudah tersinggung hampir sepanjang waktu.
  • Kehilangan minat dalam sebagian besar aktivitas, termasuk aktivitas yang sebelumnya dianggap menarik atau menyenangkan.
  • Perubahan berat badan atau nafsu makan yang signifikan. 
  • Anak mengalami sulit tidur atau terlalu banyak tidur.
  • Anak bergerak dengan sangat lambat atau gelisah hampir setiap hari.
  • Anak merasa lelah, lamban, dan tidak bersemangat hampir setiap hari.
  • Anak jadi sulit berkonsentrasi, kurang fokus, dan mengalami kesulitan untuk membuat keputusan hampir setiap hari.
  • Anak memiliki perasaan bersalah atau merasa tidak berharga hampir setiap hari.
  • Anak memiliki pikiran untuk mati atau bunuh diri.

Perlu diingat, orangtua tetap dianjurkan untuk menemui ahli kesehatan mental untuk diagnosis konklusif.


Kapan Harus Membawa Anak ke Psikolog?

Ketika anak memiliki masalah emosional atau perilaku, semakin dini ia mendapatkan perawatan, semakin besar potensinya untuk disembuhkan. Namun sebagai orangtua, kamu mungkin juga tidak ingin buang waktu atau biaya untuk perawatan yang ternyata tidak diperlukan. 

Beberapa peristiwa kehidupan dapat menyebabkan perubahan fungsi anak sebagai bagian dari proses penyesuaiannya. Misalnya, hal-hal seperti perceraian orangtua, sekolah baru, atau saudara baru. Hal-hal tersebut dapat berdampak pada emosi dan sikap anak. Biasanya, hal itu dapat membaik seiring waktu. Jadi, orangtua disarankan untuk menunggu dulu sambil mengamatinya.

Namun, kamu mungkin bertanya-tanya, sampai kapan saya harus menunggu? Nah, orangtua dianjurkan untuk segera membawa anak ke psikolog bila perubahan perilaku dan emosi anak sudah mencapai tahap berikut:

  • Bila perilaku anak menyebabkan masalah kronis di sekolah atau secara serius mengganggu kehidupan keluarga kamu. 
  • Bila anak tampak cemas atau sedih yang luar biasa atau mudah tersinggung untuk jangka waktu yang lama dan itu mengganggu kemampuannya untuk berkegiatan sehari-hari, seperti anak-anak lain yang seusianya.

Baca juga: Tips Mengatasi Depresi pada Anak

Bila Si Kecil menunjukkan perilaku atau emosi yang tidak wajar, kamu juga bisa membicarakannya pada psikolog dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa minta saran kesehatan kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. The Important Difference Between Sadness and Depression.
Understood. Diakses pada 2020. When Is It Time to Get My Child Help for Mental Health Issues?