Anemia Hemolitik Bisa Dipicu Paparan Zat Kimia, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Anemia Hemolitik Bisa Dipicu Paparan Zat Kimia, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Apa kamu kerap merasakan badan lemas sepanjang hari? Mungkin kamu mengalami gangguan kekurangan darah atau anemia. Ternyata, terdapat salah satu jenis anemia yang dapat berbahaya ketika terjadi, yaitu anemia hemolitik. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi pada jantung.

Anemia hemolitik adalah sebuah penyakit pada sel darah merah yang terbilang langka. Gangguan ini dapat terjadi sejak lahir karena faktor keturunan. Namun, seseorang juga dapat mengalami anemia hemolitik disebabkan paparan kimia. Berikut bahasan lengkapnya tentang penyakit tersebut!

Baca juga: Kenali Gejala dari Penyakit Anemia Hemolitik

Paparan Zat Kimia Dapat Meningkatkan Risiko Anemia Hemolitik

Sel darah merah memiliki peran yang penting, yaitu membawa oksigen dari paru-paru ke jantung dan ke seluruh tubuh. Sumsum tulang belakang adalah bagian yang berguna untuk memproduksi sel darah tersebut. Namun, jika terjadi penghancuran sel-sel darah melebihi produksinya, anemia hemolitik pun dapat terjadi.

Salah satu penyebab anemia hemolitik adalah terpaparnya zat kimia, seperti dari obat-obatan. Zat kimia dalam obat yang dikonsumsi memang terbilang jarang terjadi, bahkan hingga menyebabkan terjadinya anemia hemolitik. Walau begitu, hal ini mungkin saja terjadi.

Maka dari itu, dokter harus memeriksa secara detail tentang obat yang dikonsumsi apakah benar-benar menyebabkan hal tersebut. Hal tersebut dilakukan dengan cara identifikasi obat yang paling mungkin menyebabkan gangguan pada sel darah merah tersebut. Kemudian, dokter akan memeriksa apakah menghentikan konsumsi obat dapat bermanfaat bagi pengidapnya.

Paparan dari zat kimia tersebut dapat memicu sistem imunitas tubuh untuk menyerang sel darahnya sendiri. Zat kimia tersebut dapat masuk ke sel darah dan menyebabkan perubahan pada antibodi, sehingga tubuh melihat sel darah merah sebagai kandungan merugikan yang berada di dalam tubuh.

Baca juga: Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Cara Mendiagnosis Anemia Hemolitik

Diagnosis awal dari anemia hemolitik umumnya dimulai dengan melihat gejala yang terjadi dan riwayat penyakit. Selama dilakukannya pemeriksaan, dokter akan memeriksa kulit pengidapnya. Dokter juga akan memeriksa area perut apakah timbul rasa nyeri sebagai indikator dari pembesaran hati atau limpa.

Dokter juga akan melakukan tes darah apabila mencurigai terjadinya anemia. Berikut beberapa tes darah yang mungkin dilakukan:

  • Tes Bilirubin: Tes ini mengukur tingkat hemoglobin sel darah merah yang telah dipecah dan diproses hati pada tubuh.

  • Tes Hemoglobin: Tes ini secara tidak langsung mencerminkan jumlah sel darah merah yang kamu miliki dalam sirkulasi darah dengan mengukur protein pembawa oksigen dalam sel darah merah.

  • Tes Fungsi Hati: Tes ini mengukur kadar protein, enzim hati, dan bilirubin dalam darah seseorang.

  • Tes Jumlah Retikulosit: Tes ini mengukur berapa banyak sel darah merah yang belum matang, seiring waktu berubah menjadi sel darah merah, dan diproduksi oleh tubuh.

Jika kamu mempunyai pertanyaan tambahan tentang anemia hemolitik, kamu dapat menanyakannya pada dokter di Halodoc. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Play Store! Selain itu, kamu juga dapat membeli obat tanpa perlu ke luar rumah dengan aplikasi ini.

Baca juga: Ini Berbagai Faktor Risiko Anemia Hemolitik

Cara Mengobati Anemia Hemolitik

Setelah dilakukan diagnosis dan hasilnya kamu dipastikan mengidap anemia hemolitik, maka dokter sudah dapat menentukan pengobatan yang dapat dilakukan. Berikut beberapa pengobatan dari gangguan pada sel darah merah tersebut:

  1. Transfusi Darah

Salah satu cara untuk mengatasi anemia tersebut dengan cepat adalah dilakukannya transfusi darah. Cara ini diberikan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dengan efektif dan dapat menggantikan sel darah merah yang hancur.

  1. Kortikosteroid

Cara pengobatan lainnya dari anemia hemolitik adalah kortikosteroid. Umumnya, hal ini dilakukan jika pengidapnya mengalami masalah karena gangguan autoimun. Kortikosteroid dapat mengurangi aktivitas sistem imun untuk mencegah sel darah merah dihancurkan oleh pertahan tubuh sendiri.

Referensi:
Health Line. Diakses pada 2019. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It
Uptodate. Diakses pada 2019. Hemolytic anemia due to drugs and toxins