Anemia Hemolitik dapat Sebabkan Splenomegali

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anemia Hemolitik dapat Sebabkan Splenomegali

Halodoc, Jakarta - Splenomegali merupakan salah satu penyakit yang bisa menyerang organ limfa. Ketika seseorang terserang penyakit ini, tubuhnya akan mengalami pembesaran limfa yang disebabkan oleh beberapa kondisi. Awas, jangan main-main dengan kondisi ini, sebab limfa memiliki peran penting dalam tubuh.

Limfa merupakan sebuah organ yang terletak pada abdomen bagian kiri atas. Pada dewasa sehat, berat limfa yang normal sebesar 200 gram, sedangkan pada pembesaran limfa, beratnya dapat meningkat sampai 2 kilogram atau lebih.

Organ ini berfungsi untuk menyaring darah dan membuang sel-sel yang abnormal atau yang sudah tua/rusak. Selain itu, limfa berfungsi sebagai organ yang memproduksi sel-sel imun, seperti antibodi dan limfosit.

Lalu, apa sih penyebab splenomegali? Benarkah anemia hemolitik bisa memicunya?

Baca juga: Ketahui 3 Jenis Pemeriksaan untuk Mendiagnosis Splenomegali

Kenali Gejala Splenomegali

Pembesaran limfa dalam beberapa kasus tidak menimbulkan gejala apapun. Akan tetapi, untuk kasus-kasus tertentu, bisa menimbulkan gejala, seperti nyeri pada perut kiri atas yang dapat menyebar ke pundak kiri.

Gejala lainnya, seperti perasaan penuh pada perut, walaupun belum makan atau baru makan sedikit. Anemia, kelelahan, sering infeksi, dan mudah terjadi perdarahan juga merupakan gejala splenomegali.

Disebabkan Banyak Faktor

Banyak kondisi yang menyebabkan pembesaran limfa, baik sementara maupun permanen. Nah, berikut beberapa hal yang bisa memicu terjadinya splenomegali

  • Infeksi viral, seperti mononukleosis.

  • Infeksi bakteri, seperti sifilis atau endokarditis.

  • Infeksi parasit, seperti malaria.

  • Gangguan metabolik, seperti penyakit Gaucher dan Niemann-Pick.

  • Sirosis atau kondisi hati lainnya.

  • Sferositosis dan thalassemia mayor.

  • Kanker darah, seperti leukemia dan limfoma.

  • Obat-obatan, seperti Rho(D) immunoglobulin.

  • Tekanan pada pembuluh darah vena limfa atau liver.

  • Sumbatan pada pembuluh darah limfa atau liver.

  • Penyakit genetik, seperti sistik fibrosis yang ditandai dengan produksi lendir berlebih pada paru dan pankreas.

  • Penyakit mieloproliferatif, seperti pada metaplasia myeloid kronis.

Anemia Hemolitik Picu Splenomegali?

Ternyata pembesaran hati tak hanya disebabkan oleh sederet kondisi di atas. Sebab, anemia hemolitik juga bisa memicu terjadinya kondisi ini.

Pada tubuh yang sehat, sel darah merah memiliki waktu hidup selama sekitar 120 hari sebelum akhirnya hancur dan digantikan oleh sel darah merah baru. Nah, seseorang yang mengidap penyakit ini, maka sel darah merahnya akan hancur sebelum waktunya.

Pada keadaan awal, sumsum tulang belakang akan berusaha mengatasi kekurangan darah merah dengan menghasilkan sel darah merah dengan lebih cepat, tapi bila kondisi hancurnya sel darah merah berlangsung terus-menerus, maka usaha kompensasi dari sumsum tulang akan gagal dan terjadilah anemia. Kondisi anemia hemolitik dapat merupakan kondisi yang ringan, tapi dapat pula berat dan mengancam nyawa.

Baca juga: Beginilah Penanganan dan Pencegahan Splenomegali

Bagaimana dengan gejalanya? Pada anemia hemolitik yang ringan, dapat tidak menimbulkan gejala. Pada fase selanjutnya, beratnya keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah di dalam tubuh. Berikut ini gejala yang cenderung umum dialami banyak orang dengan anemia hemolitik, seperti:

  • Pucat.

  • Lemas.

  • Pusing.

  • Mudah merasa lelah.

  • Tekanan darah rendah.

  • Demam.

  • Detak jantung cepat.

  • Sesak napas.

  • Nyeri dada.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!