• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Dampaknya Menyusui Anak Lebih dari 2 Tahun?

Apa Dampaknya Menyusui Anak Lebih dari 2 Tahun?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Apa Dampaknya Menyusui Anak Lebih dari 2 Tahun?

“Saat bayi lahir, ibu diwajibkan untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, lalu melanjutkan pemberiannya bersama dengan MPASI hingga usia anak dua tahun. Menyusui tentu banyak manfaatnya untuk ibu dan anak, tetapi bagaimana jika anak masih terus ingin menyusu sampai usianya lebih dari dua tahun?”

Halodoc, Jakarta – Memang benar, sebagian besar pakar kesehatan menyarankan ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama usia anak dan melanjutkan pemberiannya hingga anak berusia dua tahun. Namun, beberapa kondisi mengakibatkan ibu tidak bisa memberikan ASI hingga usia tersebut, tetapi ada pula ibu yang tetap memberikan ASI pada sang buah hati, meski usianya telah lebih dari dua tahun. 

Sebenarnya, banyak pro dan kontra terhadap hal ini. Manfaat positifnya, Si Kecil mendapatkan antibodi dan imunoglobulin dari ASI ibu. Tak hanya itu, kedekatan antara ibu dan anak pun akan terjalin lebih kuat, membuat Si Kecil selalu merasa aman dan nyaman. Meski begitu, ibu juga harus membagi waktu lebih banyak lagi karena harus terus menyusui anak meski seharusnya ibu bisa berhenti. 

Menyusui Anak Lebih dari Dua Tahun, Apa Dampaknya?

Memberikan ASI pada sang buah hati secara tidak langsung berarti ibu memberikan antibodi tambahan untuk menjaga kekebalan tubuhnya. Namun, ibu tetap perlu tahu, ada dampak negatif yang bisa terjadi ketika ibu terus menyusui anak, meski usianya telah lebih dari dua tahun, yaitu meningkatkan risiko kurang gizi pada anak. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah ASI memberikan asupan nutrisi yang seharusnya dibutuhkan oleh anak? 

Ternyata, sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Epidemiology menyebutkan, menyusui bayi dalam waktu lebih dari dua tahun atau bahkan terlalu lama dikaitkan dengan risiko kurang gizi pada anak. 

Baca juga: Benarkah ASI Bisa Cegah COVID-19? Ini Faktanya

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa anak yang memiliki berat badan rendah ternyata menyusu pada ibunya selama lebih dari dua tahun dibandingkan dengan anak yang memiliki berat badan normal. Kondisi ini terutama dicermati pada usia antara 18 sampai 29 bulan yang memiliki peluang mengalami gizi buruk lebih tinggi, daripada anak yang telah disapih. 

Ada beberapa alasan yang dikaitkan dalam hasil kesimpulan studi tersebut. Pertama, anak yang belum berhenti menyusu sampai pada usia lebih dari dua tahun akan cenderung menolak makanan padat yang diberikan. Kedua, seiring dengan usianya yang semakin bertambah, tentu kebutuhan nutrisi anak pun meningkat, dan hal ini tak lagi bisa tercukupi melalui ASI. 

Meski begitu, tetap saja banyak manfaat baik dengan memberikan ASI pada bayi, baik bagi bayi itu sendiri maupun bagi ibu. Manfaatnya untuk bayi adalah tubuh yang terlindungi dari paparan penyakit yang membahayakan. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan, pada anak-anak yang memiliki riwayat alergi, menyusui selama empat bulan dapat memberikan perlindungan dari risiko berkembangnya alergi di masa mendatang. 

Tak hanya itu, menyusui selama lebih dari enam bulan dapat memberikan perlindungan pada anak dari ancaman leukemia dan limfoma. Menyusui juga mengurangi kemungkinan munculnya risiko terserang diabetes tipe 1 dan 2 pada anak. Lalu, bagaimana dengan ibu? Adakah manfaat khusus yang didapatkan?

Baca juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan untuk Ibu Menyusui dan Bekerja

Ternyata, menurut Academy of Breastfeeding Medicine (ABM), durasi menyusui yang lebih lama dikaitkan dengan pengurangan dan perlindungan penyakit pada tubuh ibu. Ini termasuk mengurangi risiko terserang kanker payudara, kanker ovarium, diabetes, hipertensi, obesitas, dan serangan jantung.

Bisakah Menyusui Lebih Lama Pengaruhi Perkembangan Emosi Anak?

Tak sedikit orang beranggapan bahwa menyusui dalam waktu lama akan membahayakan perkembangan emosi dan psikologis anak. Mereka percaya hal tersebut akan membuat anak bergantung, tidak mandiri, dan sulit terpisah dari orangtua. Namun, tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut. 

Seperti yang dinyatakan oleh American Academy of Family Physicians (AAFP) bahwa tidak ada bukti bahwa menyusui lebih lama akan berbahaya bagi ibu atau anak. Faktanya, menyusui di luar masa bayi dapat mengarah pada “penyesuaian sosial yang lebih baik” untuk anak-anak. AAP juga memiliki pendapat serupa, menjelaskan bahwa menyusui menawarkan manfaat kesehatan dan perkembangan yang signifikan bagi anak dan tidak ada bukti bahaya psikologis atau perkembangan dari menyusui, hingga tahun ketiga kehidupan atau lebih lama.

Baca juga: 10 Manfaat Jagung Rebus untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Ini artinya, ibu bisa kok menyusui Si Kecil lebih dari dua tahun jika memang ia masih mau menyusu. Pasalnya, menyusui tetap tidak bisa dipaksakan, ya, bu, ini adalah kehendak sang buah hati. Jika ia sudah tidak mau menyusu, maka memang itu menjadi saat ia disapih. Jika ibu membutuhkan saran terbaik langsung dari ahlinya, ibu bisa langsung bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Cukup download aplikasi Halodoc di ponsel, ibu bahkan bisa membeli obat dan vitamin tanpa harus ke apotek dengan adanya fitur pharmacy delivery

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi: 
Richard M. Martin. 2001. Diakses pada 2021. Commentary: Does breastfeeding for longer cause children to be shorter? International Journal of Epidemiology 30(3): 481-484.
Healthline. Diakses pada 2021. Extended Breastfeeding: Can You Nurse for Too Long?
AAP. 2005. Diakses pada 2021. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics (Official Journal of the American Academy of Pediatrics) 115(2): 496-506.
Healthy Children. Diakses pada 2021. Breastfeeding Benefits Your Baby’s Immune System.