• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Saja yang Menyebabkan Patellofemoral Pain Syndrome?

Apa Saja yang Menyebabkan Patellofemoral Pain Syndrome?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Bagi seorang atlet, pasti tidak asing mendengar tentang patellofemoral pain syndrome. Pasalnya, ini adalah kondisi yang rentan menyerang pelari dan pelompat. Patellofemoral pain syndrome (PPS) ditandai dengan timbulnya nyeri di bagian depan lutut, tepatnya di sekitar tempurung lutut (patella). 

Nyeri lutut sering kali meningkat saat seseorang berlari, naik atau turun tangga, duduk dalam waktu lama, atau jongkok. Namun, hal apa saja yang dapat memicu timbulnya patellofemoral pain syndrome pada seorang atlet? Ini yang perlu diketahui.

Baca juga: Benturan Keras Dapat Sebabkan Patellofemoral Pain Syndrome

Penyebab Patellofemoral Pain Syndrome

Sebenarnya bukan hanya atlet lari dan lompat saja yang dapat mengalami PPS. Siapapun dapat mengembangkan patellofemoral pain syndrome. Namun, kondisi ini lebih rentan dialami atlet wanita daripada laki-laki, terutama mereka yang berpartisipasi dalam lomba berlari, melompat, atau jongkok. 

Namun, PPS juga bisa timbul akibat berjalan atau duduk untuk waktu yang lama, berlutut atau menaiki tangga. Berikut beberapa penyebab lainnya :

  • Penggunaan lutut berlebihan. Olahraga lari atau lompat dapat memberi tekanan berulang pada sendi lutut, sehingga dapat menyebabkan iritasi di bawah tempurung lutut.
  • Ketidakseimbangan atau kelemahan otot. Nyeri dapat terjadi ketika otot di sekitar pinggul dan lutut tidak menjaga tempurung lutut tetap sejajar. Pergerakan ke dalam lutut selama squat diketahui mampu memicu nyeri PPS.
  • Cedera. Trauma pada tempurung lutut, seperti dislokasi atau patah tulang dapat memicu PPS.
  • Operasi. Operasi lutut, terutama perbaikan ligamen anterior dengan menggunakan cangkok tendon patella dapat meningkatkan risiko nyeri akibat PPS.

Gejala Patellofemoral Pain Syndrome

Gejala patellofemoral pain syndrome biasanya berkembang secara bertahap dan memburuk ketika lutut sering digunakan. Gejalanya bisa meliputi:

  • Nyeri saat melakukan aktivitas yang menekuk lutut, termasuk jongkok atau menaiki tangga.
  • Nyeri setelah duduk dalam waktu lama dengan lutut ditekuk.
  • Muncul bunyi berderak di bagian lutut saat berdiri atau menaiki tangga.
  • Nyeri yang meningkat saat melakukan aktivitas-aktivitas tertentu.

Hubungi dokter di Halodoc jika kamu mengalami gejala seperti di atas untuk dipastikan lebih lanjut. Lewat aplikasi ini, kamu dapat menghubungi dokter kapan dan di mana saja via Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Ini Komplikasi Akibat Patellofemoral Pain Syndrome

Pengobatan Patellofemoral Pain Syndrome

Pengobatan patellofemoral pain syndrome biasanya dimulai dengan tindakan sederhana, seperti mengistirahatkan lutut dan menghindari aktivitas-aktivitas yang dapat memicu nyeri, seperti menaiki tangga, berlutut, atau jongkok.

Kamu juga perlu minum pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol, ibuprofen atau naproxen sodium untuk meredakan nyeri. Selain itu, ada sejumlah terapi yang bisa kamu lakukan agar gejala patellofemoral pain syndrome cepat mereda, seperti:

  • Latihan rehabilitasi. Latihan khusus dapat memperkuat otot yang menopang lutut dan mengontrol keselarasan anggota tubuh, seperti paha depan, paha belakang, dan otot di sekitar pinggul. 
  • Gunakan pendukung. Penyangga lutut atau penyangga lengkungan dapat membantu meredakan nyeri.
  • Perekatan lutut. Terapis fisik akan menunjukkan cara merekatkan lutut untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kemampuan kamu dalam berolahraga.
  • Kompres es. Mengompres lutut setelah berolahraga mungkin bisa membantu.
  • Olahraga yang ramah lutut. Selama pemulihan, kamu mungkin ingin membatasi diri dari aktivitas yang dapat memperparah nyeri pada lutut. Oleh sebab itu, sebaiknya pilih olahraga-olahraga yang ramah lutut.

Baca juga: Pernah Idap Patellofemoral Pain Syndrome, Dapatkah Berolahraga?

Sebelum melakukan tips-tips tersebut, ada baiknya kamu bertemu dengan terapis untuk memastikan hal-hal di atas benar-benar aman untuk lutut. Selain itu, terapis juga dapat mencontohkan gerakan dan perawatan-perawatan yang benar, sehingga kamu tidak salah dalam melakukan sesuatu yang dapat memperparah gejala. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Patellofemoral pain syndrome.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Patellofemoral pain syndrome.