• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa yang Dirasakan Seseorang saat Mengalami Mimpi Buruk?

Apa yang Dirasakan Seseorang saat Mengalami Mimpi Buruk?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Rasanya setiap orang pasti pernah mengalami mimpi buruk, bukan? Ya, mimpi buruk adalah sesuatu yang bisa dialami oleh setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa. Apa sebenarnya yang dirasakan seseorang saat mengalami mimpi buruk?

Secara umum, mimpi buruk dapat membuat seseorang yang mengalaminya merasa takut, sedih, cemas, marah, atau merasa bersalah. Perasaan tersebut bisa terus dialami, meski sudah terbangun dari tidur. 


Baca juga: Tidur Cukup Bisa Bikin Bahagia, Ini Faktanya


Ini yang Terjadi Ketika Mengalami Mimpi Buruk

Ada dua fase yang dialami seseorang saat tidur, yaitu fase REM (rapid eye movement) dan fase non-REM. Siklus tidur diawali dengan fase non-REM, baru setelah itu REM, yang masing-masingnya berlangsung selama 90-100 menit. Nah, mimpi buruk umumnya terjadi di fase REM, yaitu di antara tengah malam hingga dini hari. 

Mimpi buruk adalah hal yang umum dialami setiap orang dan biasanya tidak menimbulkan gangguan. Pada beberapa kasus, mimpi buruk juga bisa menimbulkan gangguan, jika terjadi terlalu sering atau sampai menyebabkan gangguan tidur dan stres. 

Sebuah mimpi bisa dikatakan sebagai mimpi buruk, jika terdapat beberapa ciri berikut:


  • Terasa nyata dan jelas, sehingga membuat orang yang mengalaminya terganggu, cemas, sedih atau marah saat mengingatnya.
  • Umumnya berkaitan dengan ancaman pada keselamatan diri atau kelangsungan hidup, atau tema lain yang mengganggu.
  • Membuat orang yang mengalaminya berkeringat dan berdebar-debar saat tidur.
  • Membuat orang yang mengalaminya terbangun dan mampu mengingat kembali mimpinya secara detail.
  • Membuat orang yang mengalaminya sulit tidur kembali.


Meski termasuk hal yang umum dialami oleh siapa saja, mimpi buruk perlu diwaspadai sebagai gangguan, jika terlalu sering terjadi, menyebabkan rasa lelah, lesu, sulit konsentrasi, cemas, dan terus memikirkan mimpi yang dialami. 


Baca juga: Anak Susah Tidur, Ini yang Bisa Orangtua Lakukan


Jika dibiarkan mimpi buruk seperti itu bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari orang yang mengalaminya. Jadi, segera download aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter, jika mengalami mimpi buruk yang sudah sangat mengganggu. 


Apa yang Menyebabkan Mimpi Buruk?

Sulit untuk mengetahui dan menentukan penyebab pasti dari mimpi buruk yang dialami. Namun, hal ini diduga terkait dengan faktor genetik, psikologis, kelainan fisik, gangguan dalam proses tumbuh kembang, dan gangguan pada sistem saraf pusat.


Meski penyebabnya belum bisa dipastikan, ada beberapa kondisi yang diyakini memicu munculnya mimpi buruk, yaitu:


  • Stres dan cemas. Misalnya akibat sekolah atau pekerjaan, sedih akibat kematian orang terdekat, atau takut ditinggal oleh seseorang.
  • Trauma. Misalnya akibat cedera, perundungan, dan pelecehan fisik atau seksual.
  • Gangguan tidur. Misalnya narkolepsi, insomnia, sleep apnea, dan sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome).
  • Efek samping obat. Misalnya obat antidepresan, penghambat beta, obat hipertensi, obat Parkinson, atau obat tidur.
  • Kebiasaan buruk sebelum tidur. Misalnya ngemil, membaca buku, konsumsi minuman beralkohol atau menonton film yang bertema horor.
  • Memiliki penyakit lain. Misalnya depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), kanker, dan penyakit jantung.


Baca juga: Alami Patah Hati, Dapatkah Sebabkan Sering Mimpi Buruk?


Bisakah Mimpi Buruk Dicegah?

Tidak ada metode khusus yang bisa mencegah mimpi buruk, karena memang hal ini bisa terjadi tanpa terprediksi. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu pengobatan sekaligus menurunkan risiko terjadinya mimpi buruk, seperti rutin berolahraga dan menerapkan gaya hidup sehat. 

Selain itu, cobalah juga untuk mengatur jam tidur dan bangun tidur yang sama setiap harinya, membuat suasana kamar tidur nyaman, hindari konsumsi minuman beralkohol dan berkafein menjelang tidur, dan mendengarkan musik yang bisa membuat rileks. 

Hindari penggunaan ponsel atau alat elektronik lain menjelang jam tidur. Sebagai bentuk meditasi, kamu bisa coba membaca buku atau menulis jurnal tentang apa saja yang terjadi di hari itu dan rencanakan apa yang ingin dilakukan besok. 



Referensi:
National Health Service. Diakses pada 2020. How to Get to Sleep.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases & Conditions. Nightmare Disorder.
Healthline. Diakses pada 2020. Why Do We Have Recurring Nightmares?
Healthline. Diakses pada 2020. Nightmares.
WebMD. Diakses pada 2020. Nightmares in Adults.