• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa yang Membedakan Autis dan Sindrom Rett?

Apa yang Membedakan Autis dan Sindrom Rett?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Autis dan sindrom Rett merupakan kedua kelainan yang menyerang anak-anak dan memengaruhi perkembangan otak pengidapnya. Meskipun terlihat sama, autis dan sindrom Rett memiliki perbedaan. Lantas, apa yang membedakan keduanya? Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Kenali Sindrom Rett yang Menghambat Pertumbuhan Anak

Ini yang Membedakan Autis dan Sindrom Rett

Autisme merupakan gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sindrom Rett merupakan kelainan genetik yang memengaruhi perkembangan otak seseorang. Pengidap sindrom Rett awalnya memiliki perkembangan yang normal, yang terhambat secara bertahap, mulai dari terlambat berbicara, hingga gangguan bergerak.

Baca juga: Ini 5 Terapi untuk Penanganan Autisme

Perbedaan Gejala Autis dan Sindrom rett

Gejala dan tingkat keparahan pengidap autis akan berbeda. Pada kasus yang normal, aktivitas sehari-hari masih bisa dilakukan. Namun, jika kasusnya telah memasuki tahap yang parah, pengidap akan membutuhkan bantuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut gejala pengidap autis terkait komunikasi dan interaksi sosial, serta pola perilaku:

  • Tidak merespons saat namanya dipanggil, meskipun memiliki pendengaran yang normal.

  • Tidak pernah mengungkapkan emosi, serta tidak peka terhadap perasaan orang lain.

  • Tidak bisa memulai atau meneruskan percakapan.

  • Sering mengulang kata, serta tidak memahami penggunaan kata secara tepat.

  • Sering menghindari kontak mata dengan orang lain.

  • Kurang menunjukkan ekspresi.

  • Nada bicara datar seperti robot.

  • Lebih senang menyendiri.

  • Tidak memahami pertanyaan atau petunjuk sederhana.

  • Menghindari kontak fisik dengan orang lain.

  • Sensitif terhadap cahaya, sentuhan, atau suara.

  • Tidak merespon rasa sakit.

  • Rutin menjalani aktivitas tertentu, serta tidak terima adanya perubahan.

  • Selalu berjalan dengan berjinjit.

  • Hanya memilih makanan tertentu.

Semakin cepat ditangani, maka akan semakin efektif pula penanganan yang diberikan. Sangat penting untuk menyadari gejala yang timbul, serta segera periksakan anak di rumah sakit terdekat jika tampak gejala seperti:

  • Kehilangan kemampuan berinteraksi.

  • Tidak merespons dengan senyuman saat berusia 6 bulan.

  • Tidak dapat meniru suara atau ekspresi wajah saat berusia 9 bulan.

  • Tidak dapat mengoceh saat berusia 12 bulan.

  • Tidak mengucapkan satu katapun saat berusia 16 bulan.

Baca juga: Ibu, Ini Cara Mendeteksi Sindrom Rett pada Anak

Sedangkan para pengidap sindrom Rett, mereka akan tumbuh normal sampai menginjak usia 6 bulan. Setelah itu, serangkaian gejala perlahan akan muncul. Berikut tahap perkembangan gejala sindrom Rett: 

  • Tahap 1 (stagnation)

Tahap pertama ditandai dengan gejala kesulitan saat makan, muncul gerakan tungkai yang tidak normal dan terjadi secara berulang, terlambat bicara, kesulitan bergerak, serta kurang tertarik dengan permainan. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 6-18 bulan.

  • Tahap 2 (regression)

Tahap selanjutnya, kemampuan anak akan menurun secara perlahan, atau secara drastis. Gejala meliputi gerakan tangan yang berulang dan tidak terkontrol, berteriak tanpa alasan jelas, menghindari kontak dengan orang lain, tubuh tidak seimbang, serta sulit mengunyah dan menelan. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 1-4 tahun.

  • Tahap 3 (plateau)

Meski gejala tahap sebelumnya membaik, beberapa gejala baru muncul pada tahap ini, seperti kejang, napas pendek, serta kebiasaan menggertakkan gigi. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 2-10 tahun.

  • Tahap 4 (deterioration in movement)

Tahap terakhir ditandai dengan kelainan bentuk tulang belakang atau skoliosis, lemah atau kaku otot, serta tidak mampu berjalan. Meski demikian, kemampuan anak dalam berkomunikasi semakin membaik, bahkan gerakan tubuh yang berulang dan kejang sudah mulai berkurang. Kondisi ini terjadi hingga anak beranjak dewasa.

Referensi:

WHO. Diakses pada 2020. Autism Spectrum Disorders.
NHS. Diakses pada 2020. Rett Syndrome.