• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pemeriksaan Fluoroskopi?

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pemeriksaan Fluoroskopi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pemeriksaan Fluoroskopi?

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar pemeriksaan fluoroskopi? Pemeriksan ini merupakan prosedur medis yang dilakukan dengan menggunakan sinar-X guna mengamati kondisi dari organ tubuh secara langsung atau real time. Mirip dengan prosedur CT scan, fluoroskopi memanfaatkan pancaran sinar-X ketika menangkap gambar, tetapi hasil gambar dari prosedur ini hanya memiliki sudut pandang tunggal.

Pemeriksaan fluoroskopi biasanya dilakukan dengan mengombinasikan pewarna kontras, yaitu suatu zat yang diberikan guna memberikan hasil gambar yang lebih jelas, sehingga dokter lebih mudah membedakan organ dan area yang ada di sekitarnya. Pewarna akan diberikan dengan cara disuntikkan dalam tubuh, dikonsumsi oral, atau melalui rektal. 

Pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan yang beragam. Dokter biasanya melakukan prosedur medis ini untuk mendapatkan diagnosis suatu penyakit yang lebih akurat, pemeriksaan kondisi kesehatan seseorang sebelum dan setelah dilakukan pengobatan, atau sebagai penunjang proses operasi yang berkaitan dengan organ saluran cerna, pembuluh darah, jantung, saluran napas, otot, hati, paru-paru, dan sendi. 

Baca juga: Begini Prosedur Fluoroskopi dalam Pemeriksaan Radiologi

Apa Saja yang Perlu dipersiapkan?

Sama seperti prosedur medis lainnya, ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan sebelum menjalani pemeriksaan fluoroskopi, yaitu:

  • Perbanyaklah asupan cairan.
  • Lepaskan semua aksesori yang ada pada tubuhmu, seperti kalung, anting, gelang, cincin, jam tangan, dan simpanlah pada tempat yang aman atau telah disiapkan.
  • Kenakan pakaian khusus yang telah disiapkan oleh petugas.
  • Kamu wajib berpuasa makan dan minum apabila pemeriksaan dilakukan pada area perut.

Baca juga: Selama Fluoroskopi, Kenapa Harus Banyak Minum Air Putih?

Sebelum memulai pemeriksaan, dokter akan memberikan kamu pewarna kontras. Bergantung pada area yang akan diamati, pemberian zat pewarna dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Pemberian oral atau diminum, dilakukan untuk pemeriksaan pada area esofagus atau kerongkongan dan lambung. Efek sampingnya bisa berupa mual.
  • Pemberian melalui anus atau disebut enema. Efek samping yang muncul bisa berupa rasa tidak nyaman dan kembung pada perut.
  • Pemberian melalui suntikan ke bagian pembuluh darah guna mengamati bagian saluran kemih, kantung empedu, hati, dan bagian pembuluh darah. Efek samping yang mungkin terasa adalah suhu tubuh menghangat atau sensasi seperti ada rasa logam pada mulut.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Beritahukan pada dokter apabila kamu hendak menjalani prosedur ini, tetapi sedang dalam kondisi hamil, karena radiasi sinar-X sangat berbahaya bagi janin. Lalu, penggunaan zat kontras seperti barium memang akan memudahkan dokter melakukan pengamatan, tetapi jika kamu memiliki alergi terhadap zat ini, sudah pasti tidak dianjurkan menggunakannya.

Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc untuk memberi tahu dokter apabila memiliki kondisi seperti yang disebutkan tadi. Kapan saja kamu ingin chat dengan dokter spesialis, Halodoc siap membantu. 

Baca juga: 4 Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Prosedur Fluoroskopi

Selain riwayat alergi, penggunaan zat kontras pada pemeriksaan fluoroskopi, terlebih yang diberikan melalui intravena, harus dihindari pada orang yang memiliki kondisi sebagai berikut:

  • Gagal jantung dan ginjal;
  • Diabetes;
  • Penyempitan pada katup jantung, terlebih aorta;
  • Anemia sel sabit;
  • Multiple myeloma.

Tidak hanya gagal ginjal, pengidap atau orang yang memiliki riwayat gangguan ginjal pun perlu menginformasikan kondisi kesehatannya pada dokter atau petugas. Pasalnya, zat kontras bisa memengaruhi fungsi ginjal dan memicu terjadinya efek samping serius bagi pengidap gangguan ginjal. 

Fluoroskopi merupakan prosedur medis yang menggunakan sinar-X, sehingga bisa memicu terjadinya masalah kesehatan seperti gangguan kulit atau kanker. Meski begitu, risiko ini terbilang kecil dan hanya bisa terjadi jika prosedur dijalankan pada jangka waktu lama. 



Referensi: 
Medscape. Diakses pada 2020. Fluoroscopy.
WHO. Diakses pada 2020. Diagnostic Imaging. Fluoroscopy. 
CDC. Diakses pada 2020. Radiation in Medicine - Fluoroscopy.