Apakah Penyakit Kanker Endometrium Bisa Menurun?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Apakah Penyakit Kanker Endometrium Bisa Menurun?

Halodoc, Jakarta – Kanker rahim adalah salah satu jenis kanker terganas di dunia. Kanker endometrium atau kanker yang mengenai lapisan rahim juga tergolong ganas yang bisa menurun ke generasi selanjutnya. Selain dikaitkan secara genetik,  pengidap Sindrom Lynch dan Sindrom Cowden juga kerap berisiko mengalami kanker endometrium. 

Mengetahui kalau ada keluarga yang mengidap kanker endometrium, karenanya diperlukan identifikasi dan konseling untuk menentukan rencana perawatan untuk mengurangi perkembangan kanker. Cari tahu informasi lanjutan dari kondisi ini di sini!

Mengenal Lebih Jauh Kanker Endometrium

Kanker endometrium adalah jenis kanker yang dimulai di dalam rahim. Rahim adalah organ panggul yang berongga dan berbentuk buah pir tempat perkembangan janin terjadi. Kanker endometrium dimulai pada lapisan sel yang membentuk lapisan (endometrium) rahim. 

Kanker endometrium kadang-kadang disebut kanker rahim. Jenis kanker lain dapat terbentuk di dalam rahim, termasuk sarkoma rahim, tetapi kondisi tersebut jauh lebih jarang ketimbang kanker endometrium.

Baca juga: Adakah Cara Mencegah Kanker Endometrium?

Kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena sering menghasilkan perdarahan vagina yang abnormal. Jika kanker endometrium ditemukan dini, mengeluarkan rahim melalui pembedahan sering menjadi cara yang dilakukan untuk menyembuhkan kanker endometrium.

Tanda dan gejala kanker endometrium meliputi:

  1. Pendarahan vagina setelah menopause.

  2. Pendarahan antar periode menstruasi.

  3. Nyeri panggul.

Bagaimana kanker endometrium bisa terjadi? Dokter tidak tahu apa yang menyebabkan kanker endometrium. Yang diketahui adalah sesuatu terjadi untuk membuat perubahan (mutasi) pada DNA sel di endometrium-lapisan rahim.

Mutasi mengubah sel-sel normal dan sehat menjadi sel-sel abnormal. Sel-sel sehat tumbuh dan berkembang biak pada tingkat yang ditentukan, akhirnya mati pada waktu yang ditentukan. Sel abnormal tumbuh dan berkembang biak di luar kendali dan mereka tidak mati pada waktu yang ditentukan.

Akumulasi sel abnormal membentuk massa (tumor). Sel-sel kanker menyerang jaringan di dekatnya dan dapat terpisah dari tumor awal untuk menyebar di tempat lain di tubuh (bermetastasis).

Untuk mengurangi risiko kanker endometrium, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Bicaralah dengan dokter tentang risiko terapi hormon setelah menopause. Jika kamu mempertimbangkan terapi penggantian hormon untuk membantu mengendalikan gejala menopause, bicarakan dengan dokter tentang risiko dan manfaatnya. 

Baca juga: 5 Jenis Pemeriksaan untuk Deteksi Kanker Endometrium

Kecuali kamu telah menjalani histerektomi, mengganti estrogen sendirian setelah menopause dapat meningkatkan risiko kanker endometrium. Mengonsumsi kombinasi estrogen dan progestin dapat mengurangi risiko ini. Namun, terapi hormon bisa membawa risiko lain, karena itu pertimbangkanlah manfaat dan risikonya dengan dokter.

Jika kamu memiliki kerabat yang pernah mengalami kanker endometrium, disinyalir ini akan menempatkanmu pada posisi lebih bisa mengidap kanker yang sama. Pertimbangkan untuk mengonsumsi pil KB. Menggunakan kontrasepsi oral selama setidaknya satu tahun dapat mengurangi risiko kanker endometrium. 

Perlu diketahui obesitas juga dapat meningkatkan risiko kanker endometrium, sehingga bekerja untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat sangat baik. Jika kamu perlu menurunkan berat badan, tingkatkan aktivitas fisik dan kurangi jumlah kalori yang dimakan setiap harinya. 

Kalau kamu butuh informasi lebih jelas mengenai hal ini, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Endometrial Cancer.
Cancer.net. Diakses pada 2019. Uterine Cancer: Risk Factors and Prevention.