• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah Penyakit Paru Obstruktif Kronis Menular?

Apakah Penyakit Paru Obstruktif Kronis Menular?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Apakah Penyakit Paru Obstruktif Kronis Menular?

Penyakit paru obstruktif kronis adalah penyakit progresif yang menurunkan fungsi paru dan menyebabkan kesulitan bernapas. Penyakit ini tidak menular, melainkan disebabkan oleh rokok, iritan paru-paru, dan genetik. Dengan menghindari faktor risiko PPOK, kamu bisa mencegah penyakit tersebut.

Halodoc, Jakarta – Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah nama untuk sekelompok kondisi paru-paru yang bisa menyebabkan kesulitan bernapas. Hal itu meliputi emfisema dan bronkitis kronis.

Merokok adalah penyebab utama PPOK. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), 9 dari 10 kematian akibat PPOK disebabkan oleh merokok. Namun, apakah penyakit paru obstruktif kronis bisa menular ke orang lain? Penting untuk mengetahui penyebab PPOK agar kamu bisa mewaspadai penyakit progresif tersebut. Simak ulasan selengkapnya di sini.

Baca juga: Bahaya Penyakit Paru Kronis Kambuh saat sedang Bekerja

Tidak Menular, Ini Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyakit paru obstruktif kronis tidak menular, melainkan disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

  • Merokok

Mengisap rokok bisa menyebabkan peradangan pada bronkus, tabung yang menghubungkan tenggorokan ke paru-paru. Peradangan ini merusak silia, yaitu rambut-rambut kecil yang melapisi bronkus. Rambut-rambut ini penting untuk mencegah infeksi, karena mereka mencegah kuman, debu, dan partikel lain agar tidak masuk ke paru-paru. Bila silia hancur atau rusak, orang tersebut akan berisiko lebih tinggi terkena infeksi paru-paru.

  • Iritasi Paru-Paru

Selain merokok, paparan terhadap beberapa hal berikut ini juga bisa mengiritasi paru-paru yang berujung pada PPOK:

  • Menghirup asap rokok (perokok pasif).
  • Debu di tempat kerja atau polutan lainnya.
  • Asap dari pembakaran bahan bakar untuk memasak atau memanaskan.
  • Polusi udara.
  • Bahan kimia tertentu.
  • Sering mengalami infeksi dada atau paru-paru saat kecil.
  • Genetik

Beberapa orang memiliki versi genetik langka PPOK yang disebut emfisema terkait defisiensi alfa-1.

Gejala Utama PPOK

Orang yang mengidap penyakit paru obstruktif kronis menular akan mengalami penurunan fungsi paru secara bertahap dan kesulitan bernapas yang semakin parah. Namun, mereka mungkin tidak menyadari penurunan fungsi paru-paru yang lambat ini atau tidak menyadari gejala PPOK sampai penyakitnya sudah mencapai stadium yang parah.

Berikut ini gejala yang bisa muncul ketika PPOK masih bersifat ringan:

  • Batuk, kadang-kadang dikenal sebagai “batuk perokok”.
  • Ada dahak atau lendir di tenggorokan.
  • Sedikit masalah dalam pernapasan.

Bila kamu berisiko tinggi terhadap PPOK dan mengalami gejala-gejala seperti di atas, coba bicarakan saja pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, dokter terpercaya bisa memberi diagnosis awal dan saran kesehatan yang tepat untuk kamu.

Bila penyakit paru ini sudah semakin berkembang, gejala yang bisa dialami pengidap, antara lain:

  • Lebih banyak dahak atau lendir di tenggorokan.
  • Batuk.
  • Semakin sulit bernapas.

Sedangkan orang dengan PPOK yang sudah parah bisa kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, karena mereka sulit mendapatkan oksigen yang cukup setiap saat. Mereka juga akan mengalami sejumlah gejala yang lebih parah, seperti batuk, mengi, sesak napas, dan sesak di dada.

Baca juga: Pertanyaan yang Diajukan Dokter saat Diagnosis Penyakit Paru Kronis

Faktor Risiko yang Perlu Dijauhi

Menghindari faktor-faktor risiko penting untuk mencegah penyakit paru obstruktif kronis, bahkan bisa memperbaiki kondisi pada pengidap:

  • Merokok. Ini adalah faktor risiko utama PPOK dan bisa menyebabkan masalah kesehatan lainnya. Meski penyakit paru obstruktif kronis tidak bisa disembuhkan, tetapi berhenti merokok pada tahap apa pun bisa membantu mengurangi gejala, memperlambat perkembangannya, dan meningkatkan kualitas hidup.
  • Iritan paru-paru. Jauhi polusi, asap, dan bahan kimia bila memungkinkan. Hal itu bisa mencegah sekaligus mengurangi gejala penyakit paru.
  • Virus dan pilek. Pengidap PPOK memiliki daya tahan yang lebih lemah terhadap infeksi. Karena itu, penting bagi pengidap untuk mengambil langkah-langkah untuk tetap sehat, seperti mencuci tangan secara teratur dan tidur yang cukup, untuk mencegah infeksi virus dan bakteri. NHLBI juga merekomendasikan untuk mendapatkan suntikan flu setiap tahun.

Baca juga: Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi PPOK

Jadi, penyakit paru obstruktif kronis tidak menular. Pengobatan penyakit paru ini bisa dimulai dengan mengurangi paparan iritasi paru-paru. Berhenti merokok dan menghindari paparan asap dan iritasi lainnya membantu paru-paru tetap sehat. Hal itu bisa mengurangi gejala dan kemungkinan dapat meningkatkan kualitas hidup pengidap. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga untuk mendapatkan solusi kesehatan terlengkap.

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. How do you get COPD?